DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
BonChap 1


__ADS_3

Mentari pagi masih enggan untuk menampakkan sinarnya, entah karena masih malu atau karena waktu masih terlalu dini, aku yang sudah terbiasa bangun dini hari kini sudah terjaga, bangun lebih awal dari semua penghuni rumah, meski sekarang sudah ada banyak asisten rumah tangga yang membantu segala pekerjaan dalam rumah, bahkan AA sempat menawarkan akan memberikan aku asisten pribadi. Lah? Asisten pribadi untuk apa? Kalau sekedar membantu mandi dan berdandan aku ini masih muda dan energik, aku masih mampu melakukan semuanya sendirian.


“Hoooaaaam ...” aku menguap, lalu mengerjapkan mata, kulihat AA masih setia bergelung dibawah selimutnya, jadi ... semenjak kejadian nganu waktu itu, kini AA sudah mengubah pola hidupnya, tidur tepat waktu dan bangun tidur juga tepat waktu, kecuali kalau AA minta jatahnya yang tidak tahu waktu itu, ya itu sebuah pengecualian untuk jam tidur kami, sekarang aku juga sudah mencopot gelar galak pada AA, karena sungguh di hadapanku AA kini bagai harimau tak bertaring wkwkwk.


Aku segera bangkit dari tidurku, membersihkan diri lalu turun ke lantai bawah, memastikan jika para pekerja sudah berada di posisi masing-masing atau AA akan mengomel sepanjang hari hanya karena rumahnya masih berdebu, kebiasaan AA untuk satu itu rupanya belum berubah, atau mungkin tidak akan berubah. AA tetaplah pria disiplin tinggi dengan bawaan yang berwibawa dan berkharisma, aarrrgghh.


“Selamat pagi” terdengar suara kursi di geser dan seseorang telah mendudukinya, aku sudah sangat mengenali suara itu, itu suara suami tua-ku AA. Dia tersenyum manis semanis gulali padaku pagi ini,


“Pagi,” aku masih tetap mengawasi koki yang menjadi juru masak di rumah ini, memastikan jika makanan AA dan anak-anak tetap akan terjaga kebersihan juga vitaminnya, atau AA akan terkena kolesterol saat salah makan seperti tempo hari, dan AA akana mengeluh dan menggerutu sepanjang waktu, juga akan bermanja padaku sepanjang malam. Oh no! Jangan sampai hal seperti itu terulang kembali.


“Masak apa pagi ini?” AA bertanya dengan senyuman yang tidak memudar, okay! Jatah AA semalaman sudah full tentu saja dia akan sumringah pagi ini, dan sepanjang hari hidupnya akan penuh dengan semangat. Coba, kurang baik apa lagi aku ini.


“Aku memasak ...”


Belum sempat aku menjelaskan masakanku pagi ini, tiba-tiba saja ponsel AA berdering, segera Ia mengangkatnya lalu berdiri, berbicara dengan seseorang disebrang sana dengan menjauh dariku. Oh no! Ada apa ini? Tidak biasanya AA seperti demikian. Baiklah, sebagai istri yang baik aku akan mencoba berbaik sangka dulu.


“Aku tidak akan sarapan di rumah, aku buru-buru” AA segera mencium keningku lalu segera pergi menuju mobilnya di ikuti Aldo yang sedari tadi sudah menunggunya di dalam mobil.


“AA! Tunggu! Ini teh-nya!” Aku masih sempat mengejar AA, namun terlambat AA sudah masuk ke dalam mobilnya dan mobil sudah berlalu, AA sudah menjauh pergi, aku menghela napas berulangkali, rasanya begitu kesal, kala teh yang aku buat harus terbuang sia-sia.


“AA kurang ajar!” srupuuuttt aku-pun meminum teh yang tengah aku pegang.


***

__ADS_1


“Suamiku ada di dalam ruangannya?” aku bertanya pada reseptionist yang berada di depan.


“Ada bu, kebetulan Pak Edgar belum terlihat keluar kantor” reseptionist yang bernama Sarah itu menjelaskan dengan senyuman manis di bibirnya, aku menganggukan kepala tanda mengerti. Jadi, setelah acara AA meninggalkan rumah tanpa sarapan aku segera berinisiatif untuk mengantarkan makan siang ke kantornya saja, tentu saja setelah aku menyelesaikan tugasku sebagai seorang Ibu, mengantarkan Aksa dan Azura ke sekolahnya masing-masing.


Berjalan melewati koridor lalu menaiki sebuah lift yang akan menuju ruangan AA berada, tanganku memegang sebuah tempat makanan, aku membawakan AA makanan sehat, empat sehat lima sempurna enam kenyang, gimana? Kurang baik apalagi aku ini? Huh!.


Tiba di depan ruangannya ada Aldo yang tengah mengobrol dengan Siska, sesekali mereka terlihat tertawa geli, lalu sesekali mereka saling menepuk, ada apa dengan mereka? Mereka terlihat bahagia sekali hari ini.


“Haha, gak kebayang kalau dia ketahuan sama istrinya selingkuh” Siska terlihat tergelak.


“Ya, aku yakin istri mudanya itu pasti akan segera mengajukan gugatan perpisahan” Aldo tak kalah tergelak.


Aku jadi curiga, siapa yang selingkuh? Istri muda? bukankah itu aku? Tunggu! Jangan-jangan AA selingkuh? Aku harus memastikan sendiri.


“Aldo? Mbak Siska?” aku menyapa mereka dengan senyuman tertahan, sementara yang disapa hanya terlihat kaget lalu saling melirik satu sama lain.


“Nyo Nyonya? Kenapa anda datang? Kenapa tidak memberitahu kami dulu?” Aldo gelagapan.


“Aku ingin memberikan makan siang ini untuk suamiku, apakah salah?” dengan wajah di buat memelas aku menatap mereka berdua.


“Oh, tentu saja tidak salah, Nyonya boleh datang ke kantor ini kapanpun Nyonya mau” Aldo menggaruk kepalanya yang aku yakini tidak gatal sama sekali, lalu Sisika ikut mengangguk setuju tanpa sepatah kata, matanya memindai penampilanku dari atas sampai ke bawah berulangkali.


Apa ada yang salah dengan penampilanku? Tolong siapapun beritahu aku!

__ADS_1


Aku memang hanya menggunakan celana jeans sobek kesukaanku, kaos lengan panjang pas badan, dan rambut keritingku sengaja aku gerai agar terlihat mengembang cantik, kenapa mereka sampai melongo seperti itu? Ck!


“Aku akan masuk ke ruangan AA” ucapku, memajukan langkahku menuju pintu ruangan AA yang tertutup rapat.


“Tidak!”


“Jangan!”


Aku menghentikan langkah, menatap mereka dengan tatapan heran, kenapa juga mereka melarangku untuk masuk ke dalam ruangan AA?


Ini sangat mencurigakan, aku tidak bisa membuarkan semuanya terjadi begitu saja! Jangan-jangan AA di dalam sana memang sedang berselingkuh? Memasukan seorang perempuan seksi seperti di novel-novel yang sering aku baca? Oh no!.


“Nyonya saya mohon! Di dalam sedang ada tamu penting, Tuan Ed bahkan sangat melarang kita untuk masuk ruangannya Nya, saya mohon! Jangan buat kekacauan!” Aldo mengiba.


Hah ... sudah jelas tebakanku! AA pasti selingkuh! Teganya dia!


“Tidak! Aku harus masuk ke dalam!” aku memaksa masuk menerobos, mendobrak pintu yang ternyata tidak di kunci, hingga aku hampir saja terjungkal karena tenaga yang aku gunakan cukup besar, maklum namanya juga tenaga marah dan esmosi pemirsa.


“Nya! Jangan!”


“Diam!”


Aku terbelalak kaget kala memasuki ruangan AA, terlihat AA yang tengah memegang tangan seorang perempuan terlihat terperanjat kaget, begitupula dengan perempuan bergaun merah dengan panjang di atas lutut, memiliki belahan dada, juga ... gaun itu sangat ketat dan terlalu kecil untuk tubuhnya yang montok.

__ADS_1


“AA! Apa yang kamu lakukan? Kamu berselingkuh dariku?”


__ADS_2