
Pagi datang menjelang, suasana yang tadinya gelap gulita mendadak terang dengan sinar keemasan yang timbul dari arah timur melingkupi belahan bumi. Langit berwarna jingga meredup, lalu terang dan berganti kuning keemasan hingga biru muda cerah. Sementara itu, jam bekker yang berada di atas nakas terus berbunyi, menjoba mengingatkan orang yang telah mengatur detaknya.
Seorang gadis masih saja tidur terlentang, menikmati mimpinya.
“Hiiihhii ... mimpiku tadi malam sungguh sangat menggemaskan! Haha ... aku melihat pria itu memakai baju ketat, eh lebih tepatnya kekecilan, sampai jalannya mengangkang, rambutnya di tata ke atas, dan ... haha ... dia menggunakan ikat di kepalanya, cih ... dia pikir dengan berpenampilan seperti itu, akan membuatnya dua puluh tahun lebih muda begituh??” Eliana terus bergumam dalam tidurnya.
Tanpa dia sadari sedari tadi Edgar sudah berdiri di samping ranjangnya dengan melipatkan kedua tangannya, menatap Eliana dengan tatapan tajamnya, setajam pedang, sambil terus berdecak sebal.
“Astaga ... perempuan ini, kenapa Tuhan menciptakan perempuan yang seperti ini?” Edgar menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali, sementara Eliana masih asyik sendiri dengan dunia mimpinya.
Lama ... Edgar menunggu Eliana bangun dengan sendirinya, tapi sepertinya itu hanya akan menjadi angannya saja, satu jam Edgar masih berdiri memperhatikan gadis yang berada di hadapannya. Tapi Eliana masih saja menggumam tidak jelas, kadang berteriak, kadang tertawa.
“Sebentar, kenapa pengaruh alkohol yang di minumnya terus menempel sampai sekarang? Bukankah ini sudah lama?” Edgar melirik jam tangan yang di gunakannya pagi ini.
“El! Bagun!” akhirnya, terpaksa Edgar mengalah membangunkan Eliana dengan cara menendang-nendang kaki Eliana dengan kakinya.
“El! Banguuuunnn!!!” lagi-lagi Edgar berteriak,
“Ah ... apa aku harus membawa senjata dulu baru dia akan bangun?” seolah mendapat ide busuk, Edgar tersenyum menyeringai, lalu berjalan menuju terompet besar yang biasa di gunakan olehnya untuk membangunkan Eliana.
Ttteerrreeroret ... roret ... tereroret ... roret!!!!
Suara terompet yang di tiup Edgar berbunyi nyaring hingga membuat Eliana terkejut dan langsung bangun.
Dalam keadaan masih linglung, Eliana mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali, sesekali dia membuka dan menutup matanya kembali, rasa pusing masih mendominasi kepalanya.
“AAAHHH!! kenapa kau di sana?” teriak Eliana sambil beringsut ke belakang, menutupi kedua benda bergelantungan di dadanya dengan posesif, seolah seseorang akan mencurinya.
Edgar kembali berdecak melihat tingkahnya, “Heh! Sudah sadar kau rupanya?!” Edgar melengos sebal.
“Hah?? Me memangnya aku kenapa?” tanya Eliana polos.
“Kenapa? Sungguh kau bertanya kenapa?” tanya Edgar tak percaya,
“Ehehe ... aku tidak melakukan kesalahan bukan?” tanya Eliana, tersenyum tanpa dosa sambil menggaruk rambutnya yang acak-acakan melebihi rambut singa.
__ADS_1
“Apa kau sungguh lupa apa yang terjadi semalam?” tanya Edgar dengan gemas, dia pikir Eliana akan segera menyadari kesalahannya, lalu dia akan meminta maaf.
Eliana menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kikuk, lalu menunduk, sambil mencubiti ujung selimut yang tengah menutupi tubuhnya.
“Lihat keluar jendela! Bahkan mentari tengah menertawakan kebodohanmu!” ucap Edgar sambil melangkahkan kakinya menuju luar kamar.
Eliana masih tersenyum bingung, dia kembali mencoba mengingat semuanya. Dan Eliana langsung menyambar ponselnya, mencoba memeriksa apa yang terjadi dengannya tadi malam, karena seingatnya dia pergi ke club bersama geng Drove Girl’s.
“AAAAA!!! Semalam aku meminum minuman yang di berikan Bu Nana, lalu aku mabuk dan tidak ingat apa apa lagi, hah? Kenapa aku bisa di sini? Siapa yang membawaku? Sebentar ...” Eliana memicingkan kedua matanya, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
“Hah? Semalam aku di jemput Edgar, lalu aku ... aaaahhh!!! Aku muntah, lalu aku bicara apa lagi ya?? Aahhh ... gimana ini? Pantas saja dia terlihat begitu marah ...” Eliana melompat-lompat di atas kasurnya, mencoba mengingat-ingat lagi.
“Tenag El ... tenang ...” Eliana berkali-kali menarik napas, lalu membuangnya perlahan.
“Etapi, sebentar! Kenapa aku menggunakan baju ini? Semalam bukan baju ini yang aku pakai, Jangan-jangan dia yang menggantikan baju ini?? Huuuaaa ... itu artinya dia sudah melihat seluruh aset milikku?? Haduuhhh ... mikir apa aku ini? Tapi, tidak mungkin anak-anak ‘kan yang mengganti bajuku?? Si tua itu? Aaaaahhhh!!!” Eliana berteriak sambil menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.
Secepat kilat Eliana segera menyibak selimutnya, lalu berlari menuju lantai bawah, dia ingin sekali mengintrogasi Edgar, bertanya siapa yang telah mengganti bajunya.
Setibanya di lantai bawah, Eliana tidak menemukan siapapun, mungkin anak-anak juga sudah berangkat sekolah, Eliana berkeliling di rumahnya hingga tiba di pintu utama,
“Pak? Lagi ngapain? Kenapa ngalangin pintu?” tanya Eliana mengerutkan keningnya.
“E eh ... Nyonya jangan kesini, di luar banyak orang” Pak Toto terengah-engah.
“Banyak orang? Siapa? Mau apa? Bukan mau minta sumbangan ‘kan?” tanya Eliana sambil berjinjit mencoba mengintip dari balik jendela.
“Jangan Nyonya! Jangan mengintip! Apalagi keluar rumah! Ini sudah perintah dari tuan Ed, bahkan tadi ketika berangkat kerja Tuan Ed lewat jalan belakang, anak-anak juga begitu, mereka orang-orang nekat Nyonya, bahkan tadi mereka menyerbu penjaga dan melewati gerbang depan” jelas Pak Toto, dengan hidung kembang kempisnya.
“Hah? Memangnya mereka mau ngapain sih?” tanya Eliana sambil terus berjalan mendekati pintu.
“Jangan Nyonya, jangan!” teriak Pak Toto memohon.
“Lakadalaaaahhh ... saya pasti dapat hukuman dari Tuan kalau begini caranya” Pak Toto sudah komat kamit, melihat Eliana yang sulit di beri penjelasan.
“Ah ... cuman ngadepin orang kan? Bukan singa? Kenapa gak di tanya baik-baik sih pak? Mau saya bantu?” Eliana tersenyum, sambil menyingkirkan tubuh Pak Toto dan membuka pintu.
__ADS_1
Ketika pintu terbuka, tiba-tiba saja orang-orang yang dari tadi sudah menunggu, segera mengerubuti Eliana, seperti Singa yang tengah kelaparan.
Kilatan cahaya di mana-mana, seketika suasana semakin gaduh, sementara Eliana hanya melongo mencoba mencerna apa yang terjadi.
“Nyonya Eliana, apa benar Nyonya tengah berselingkuh dari Tuan Ed?”
“Apa benar Anda tadi malam kedapatan sedang berada di club, bersama seorang pria?”
“Apa benar Anda sedang memiliki masalah dengan Tuan Ed, dan akan segera bercerai?”
“Tolong info nya Nyonya!”
Eliana hanya menganga, sambil mengerjap-ngerjapkan matanya,
‘Sebenernya mereka ngomong apa sih?’
“Tenang semuanya, tenang! Nyonya akan bicara, tapi tunggu nanti!” Pak Toto datang dengan segala keberaniannya, sambil mengibas-ngibaskan pentungan yang berada di genggamannya.
“Pak, kenapa Bapak gak bilang? Kalau orang itu wartawan?” bisik Eliana gemas,
“Nyonya kenapa langsung main buka pintu saja?” jawab Pak Toto tak kalah gemas.
“Sekarang bagaimana?” Eliana mulai panik, sementara kamera tidak berhenti mengeluarkan cahaya blitz nya.
“Nyonya ... tarik napaaaassss ... keluarkan ... dan ... lari!!!” secepat kilat Pak Toto menarik tangan Eliana kemudian mendorongnya masuk kedalam rumah hingga Eliana tersungkur ke lantai, sementara itu Pak Toto masih sibuk menutup pintu kembali, lalu berhasil!, pintu dua muka itu kembali tertutup dan di kunci dari dalam, sementara di luar kegaduhan kembali terjadi.
“Huh ... Nyonya bukan menyelesaikan masalah, tapi malah menambah masalah” gumam Toto.
Sementara Eliana yang tersungkur, mencoba berdiri, sambil menatap rak di sampingnya yang terbuat dari kaca.
“Sebentar, siapa dia?” Eliana menajamkan pandangannya, menatap bayangannya sendiri di kaca tersebut.
Secepat kilat Eliana berlari menuju kamarnya, dan segera bercermin.
Rambut acak-acakan melebihi singa, eye liner dan maskara yang awalnya menghiasi mata, kini sudah menghiasi pipi, dan ada yang lebih memalukan! Noda putih di sudut bibirnya yang sudah mengering. Iler!.
__ADS_1
“TIDAAAAKKKKKKKKKK!!!!!”