DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
Kau Akan Menikah Bukan?


__ADS_3

“El, detak jantung Ibumu semakin melemah, aku hanya khawatir kondisinya semakin parah” Dokter Andi hanya menatap lurus ke depan, entah apa yang sedang di pikirkannya.


Aku menunduk, entah apalagi yang harus kukatakan.


“Aku harus bagaimana? Seandainya aku bisa membeli kesembuhan, maka akan aku beli untuk Ibuku, aku akan berjuang sekuat tenagaku agar Ibu bisa sembuh, ku mohon sembuhkan Ibuku” tanpa sadar, tubuhku melorot ke lantai, lalu aku semakin terisak, aku sudah tidak mampu lagi menahan semuanya.


“Kabulkan semua permintaan Ibumu El, mungkin itu adalah permintaan terakhirnya” lagi-lagi Dokter Andi memberiku saran yang aneh, permintaan apa? Semua yang Ibu inginkan akan aku wujudkan, tanpa terkecuali, bahkan Ibu menginginkan aku agar segera menikah, akupun akan melakukannya, jika ada pria yang bisa menikahiku sekarang juga. Aku tidak ingin menyesal di kemudian hari, hanya karena membuat Ibu pergi dalam keadaan tidak tenang.


***


Lelah, akhirnya aku berjalan menuju kantin rumah sakit, berniat untuk mengisi perut yang tengah keroncongan. Namun, ada yang aneh dengan pandangan orang-orang yang berpapasan denganku, mereka menatapku dengan berbagai cara. Aku mengernyit bingung, entah ada apalagi ini.


‘ssssttt ... apa itu perempuan yang sedang bersama pengusaha ternama itu?’


‘eh, lihat itukan perempuan yang kita lihat di tv’


‘eh, cepat googling, itu perempuan yang di gosipkan jadi pacar pak Edgar bukan?’


‘bla bla bla ...’


Kupingku terasa panas mendengarkan bisikan mereka yang terus terdengar begitu nyata, ku edarkan pandangan, hampir delapan puluh persen orang di sekitarku tengah menatapku heran. Dengan gusar aku segera menuju kantin, lalu memesan semangkuk soto ayam.


Tidak lama, pesanan datang, lalu aku langsung mengeksekusinya tanpa ampun, hingga semangkuk soto di hadapanku, kini tengah berpindah pada perutku.


Satu jam berlalu, aku masih betah duduk di kantin, tanpa mendengarkan bisik-bisik di telingaku. Ku raih ponselku dari dalam saku celana jeans yang tengah kugunakan, mencoba membukanya, jujur semenjak namaku di jadikan pencarian nomor satu oleh para netizen, aku sedikit takut membuka ponsel, takut saja segala cercaan akan aku terima kembali.


Ku buka sosial mediaku, kini berita semakin mencuat, bahkan hastag ‘Pengusaha ternama Edgar Adiswara akan segera menikahi gadis di bawah umur’ kini menjadi pencarian nomor satu lagi.


“Tuhaaannn ... seterkenal itukah dirinya?? Kenapa tidak ada konfirmasi sama sekali darinya tentang ketidak benaran ini?? Apa dia sungguh akan menepati janjinya?? Dia hanya akan mengembalikan nama baiknya, dan aku harus menyelesaikan semua huru-hara ini sendirian??? Kenapa nasibku jadi begini?? Hhuuhhh ...” perlahan aku berdiri, setelah membayar makananku, aku segera beranjak untuk kembali ke kamar Ibu.


Bahkan sekarang aku harus keluar dari pekerjaanku karena masalah ini, entah apalagi yang akan kulakukan, sementara untuk biaya pengobatan Ibu, aku telah menggunakan tabunganku yang tersisa.


Kkrriieettt ...


Aku membuka pintu kamar Ibu dengan perlahan,

__ADS_1


“Ibu ...” aku tersenyum menghampiri Ibu yang tengah mengerucutkan bibirnya.


“Ibu tidak menyangka, kau tega membohongi Ibu” ucap Ibu, masih menatapku lekat.


“Apa maksud Ibu??” tanyaku sambil duduk di samping Ibu, di tepian ranjangnya.


“Kau akan menikah bukan??” tanya Ibu tegas.


“Menikah??” aku semakin tidak mengerti.


“Ini ...” tiba-tiba Ibu menyalakan televisi, dan aku baru mengerti apa yang telah di katakan Ibu, di sana terlihat jelas pemberitaan tentang diriku yang tengah dekat dengan seorang pengusaha ternama. Aku mendesah, bagaimana caraku mengatakan kebenaran sesungguhnya pada Ibu? Ini semua hanya salah faham semata.


“Jawab Ibu El, kamu akan segera menikah bukan??” Ibu semakin mendesakku.


Bingung ... lama aku berfikir, akhirnya aku mengangguk perlahan, “Hmht ... aku akan menikah”


“Yeeeaaayyy ... akhirnya aku akan memilki menantu, aku tidak akan takut lagi ketika meninggalkan putriku nanti” tiba-tiba Ibu bersorak.


“Memangnya Ibu mau kemana??” aku mendelik, menatap Ibu yang tengah mengembangkan senyumannya.


“Ibu tidak akan kemana-mana, sudahlah Ibu ingin tidur dulu” Ibu kembali merebahkan tubuhnya, tidak berselang lima menit, sudah terdengar dengkuran halus dari Ibu.


***


Di tempat lain ...


“Aksa!!! Jangan malas!! Ayo lakukan gerakan tadi!!! Gerakan yang telah Ayah contohkan!!” Edgar berteriak pada putranya,


“Azura! Kau juga! Lakukan gerakan yang tadi!” sentaknya lagi kepada putrinya.


“Satu! Dua! Satu! Dua!”


Mereka berteriak kompak, Edgar memperhatikan anak-anaknya yang telah memperagakan banyak gerakan yang telah di ajarkannya.


Begitulah Edgar, setiap pukul lima pagi, anak-anaknya harus sudah bangun, berolahraga, membereskan rumah, lalu berangkat sekolah, meskipun ada ART di rumahnya, tapi Edgar tidak membiarkan anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang manja, dia selalu menanamkan sifat tanggung jawab dan disiplin pada kedua anaknya.

__ADS_1


“Tuan ...” Aldo datang lalu membungkukan tubuhnya.


“Ada apa??” tanya Edgar menatap Aldo dengan wajah cemasnya, akhir-akhir ini, terlalu banyak masalah yang berdatangan menghampirinya.


“Tuan, gosip anda dengan perempuan itu semakin melebar kemana-mana, saya hanya takut image anda menjadi buruk, dan akan berdampak pada harga saham, yang akan menghancurkan perusahaan anda” Aldo berjalan mengikuti langkah Edgar,


“Aldo, apa kau sudah mencari tahu, siapa gadis itu??” tanya Edgar menatap lekat asistennya tersebut.


“Sudah,” Aldo meraih tabletnya, lalu menggeser layarnya perlahan.


“Namanya Eliana Pramesti, dia yatim, Ayahnya sudah lama meninggal, dan dia hanya tinggal bersama Ibunya yang memilki penyakit jantung” jelas Aldo dengan rinci.


“Apa??? Lalu, apa dia bekerja??” tanya Edgar lagi sambil memanggutkan kepalanya, berusaha mencerna apa yang di katakan asistennya.


“Sudah keluar, awalnya dia bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang finance” Aldo masih memperhatikan tabletnya.


“Kenapa dia keluar?” Edgar semakin penasaran dengan penjelasan Aldo mengenai perempuan itu.


“Mungkin, dia tidak tahan dengan gosip yang sedang beredar, dia terus di kejar wartawan tanpa perlindungan” Aldo mengedikkan bahunya,


“Aldo ... menurutmu pasti sulit bukan? Jika harus membiayai Ibu yang sedang sakit keras? Sementara itu, Ayahnya sudah tiada, di tambah lagi dia baru saja kehilangan pekerjaannya” Edgar menghela napasnya panjang. Sementara Aldo hanya terdiam menyimak, tanpa memberikan komentar apapun.


“Aldo? Apa aku terlalu jahat? Semuanya ini karena kesalah pahamanku padanya” Edgar memejamkan matanya.


“Semuanya bisa di selesaikan, kita bisa menggunakan idenya Siska” Aldo mencoba memberikan ide kepada tuannya.


“Tidak, aku tidak suka idenya,” Edgar menggelengkan kepalanya berkali-kali.


“Aldo, tolong kau bayarkan seluruh biaya pengobatan Ibunya Eliana” perintah Edgar kemudian.


“Apa?? Tapi kenapa Tuan??” tanya Aldo terheran-heran,


“Karena aku sudah tidak memiliki Ayah dan Ibu, melihat perjuangannya yang begitu hebat, hatiku jadi terenyuh, ini adalah bentuk dari tanggung jawabku padanya, karena sudah membuatnya tidak nyaman dan kehilangan pekerjaannya” ucap Edgar kemudian, mengusap wajahnya sambil berlalu mendekati kembali anak-anaknya yang sudah melakukan gerakan-gerakan aneh.


“Baik Tuan” Aldo membungkukkan tubuhnya, lalu berlalu untuk melaksanakan perintah Tuannya.

__ADS_1


“Aksa, Azura! Ayo mandi! Kalian harus segera berangkat sekolah!” teriak Edgar pada anak-anaknya.


“Ya Ayah ...” jawab anak-anaknya kompak.


__ADS_2