
Dalam pelukan AA, mata El menatap ke arah langit-langit kamarnya, tanpa dia sadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikan tingkahnya. Tanpa berkedip. Dan pemilik mata itupun ikut tersenyum. Setelah sekian purnama ia menunggu malam ini, akhirnya apa yang dia impikan bisa terealisasi juga.
Lama ...
Akhirnya El membalikkan tubuhnya, El kini menghadap tubuh AA, perlahan, El menelisik wajah AA, memindainya secara rinci, terbawa suasana akhirnya El mengangkat tangannya, mencoba menyentuh pipi AA, wajah yang tegas, sifat galak, dan selalu kaku, El terkikik sendiri kala melihat perubahan wajah AA yang memelas semalam. Dan kini, AA sedang terlelap, dengan wajah polosnya, sepolos bayi beruang yang tengah tertidur lelap.
“Mau sampai kapan kau menikmati tampannya wajahku??” tiba-tiba AA membuka matanya, lalu menatap wajah El yang terkesiap, seketika tangan El yang tengah mengelus pipi AA menggantung, tanpa aba-aba AA langsung meraih tangan itu, lalu menyimpannya di antara ketiaknya.
“Hhhh ... iiiihhhh AA apaan sih??” El tersipu, mencoba menarik tangannya kembali.
“Bagaimana semalam??” tanya AA tersenyum menyeringai, sementara itu, tangannya sudah tidak bisa di kondisikan lagi.
“Ish ... sakit! Ini sakit!” teriak El, kala merasakan rasa perih di bagian tertentu, kala dia bergerak-gerak.
AA mencebikkan bibirnya “Masa??” tanya AA, seolah meledek El.
“Iya, awas! Aku mau mandi!” El berusaha bangkit, memaksakan diri, sebelum AA kembali melancarkan aksinya, mengingat tangannya yang sudah kesana-kemari.
“Mau kemana sih??” AA malah menarik tubuh El, hingga tubuh El kembali ke pelukan AA.
“Mau mandi, mau masak, mau ngurusin anak-anak juga” jawab El sambil memutar kedua bola matanya.
“Mandinya nanti aja, masak kan ada pelayan, anak-anak juga ada susternya” AA masih berkilah.
“Gak bisa AA, memangnya AA udah gak suka lagi sama masakanku?? Anak-anak meskipun ada susternya, kita harus tetap turun tangan menemaninya, aku gak mau kehilangan kesempatan untuk melihat tumbuh kembang mereka” ucap El ketus, perempuan itu, jika menyinggung masalah anak, selalu saja tak mau kalah.
“Baiklah, aku suka masakanmu, aku juga bersyukur karena kau tidak pernah melupakan anak-anak, terimakasih El” AA mengelus kepala El pelan, El tersenyum lalu mengangguk pelan, El mulai menyibakkan selimut, dan mulai bergerak menuruni ranjang.
“Aduuuhhhh ...” El yang cengeng, kembali terduduk.
“Kenapa??” sedikit panik, AA langsung mendekat.
“Sakit” rintihnya, sambil menggigit bibir bagian bawahnya.
“Hahaha ... aku tahu, sini aku bantu” dengan senyum menyeringai, AA mendekat.
“Jangan!” El menyilangkan kedua tangannya di dada, mencoba membuat pertahanan diri, El faham sekali dengan tatapan AA kali ini.
__ADS_1
“Ah ... lama!” tanpa persetujuan AA langsung membopong tubuh El menuju kamar mandi.
***
“Kakaaaaaaakkkk!!!” terdengar teriakan khas dari Aksa yang tengah berada di kamarnya.
“Apa lagi sih??” aku bergumam, sambil membereskan bekal kedalam toples.
Ya ... hari ini, kita akan mengadakan piknik kecil-kecilan ke suatu tempat. Tempatnya kemana? Entahlah ... hanya AA yang tahu, dia memberitahu kami kemarin, agar di hari minggu yang ceria ini, kami bersiap-siap untuk pergi, itu saja.
Selama ini, anak-anak jarang sekali bermain bersama, atau berliburan bersama, mereka hanya di tuntut untuk terus belajar, belajar, dan belajar. Aksi AA yang seperti demikian, jelas mengundang protesku, bagaimanapun, anak-anak tidak bisa hanya terus terpaku pada belajar dan belajar di depan meja tulis. Bukankah ketika kita mengajak mereka bermain ke alam terbuka juga merupakan sebuah pembelajaran??. Ah ... AA emang kuno deh.
“Robot-robotan punyaku di manaaaa!!??” terdengar lagi lengkingan dari Aksa, anak itu, kemanapun kami akan pergi, selalu saja meminta untuk membawa serta mainan kesayangannya. Ck. Repot emang.
“Gak tahuuuuuuuu!!!” terdengar balasan dari si sulung Azura, tak kalah berteriak, padahal kamar mereka bersebelahan, kenapa harus teriak-teriak seperti di hutan?.
Jengah. Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan makanan di atas meja makan, meminta pelayan untuk melanjutkannya, lalu aku berlalu untuk menghampiri mereka, bagiku, sikap mereka ini tidak sopan. Saling berteriak, padahal masih bisa bicara pelan dan baik-baik. Aku hanya ingin mengajarkan anak-anakku sopan santun saja.
“Aksa, kenapa teriak-teriak sama Kakaknya?? Gak baik, kalau ada yang di tanyain, hampiri Kakaknya, tanya pelang-pelan” peringatku, sambil melanjutkan pekerjaan Suster Eni, yakni merapikan baju Aksa, selepas mandi.
“Kak Azura nakal, dia ngumpetin mainanku Bu” kilahnya mengerucutkan bibir.
“Hmh ...” dia menganggukan kepalanya berulang kali.
“Ibu gak marahin Kak Azura?” tanyanya.
“Kenapa harus di marahin??” tanyaku bingung,
“Kan Kak Azura juga teriak-teriak” ucap Aksa menatapku, terlihat tatapan iri di matanya.
“Astaga ... iya, nanti Ibu juga peringatin Kakak Zura nya, sekarang Aksa terusin dandannya yaa, jangan bawa mainan! Repot!” peringatku kemudian.
“Kalau yang ini Bu, boleh??” tanyanya dengan tatapan memohon, sementara itu, tangannya mengacungkan sebuah mainan robot-robotan berukuran kecil, aku tersenyum, lalu menganggukkan kepala, tanda setuju.
“Ibu! Jangan lupa marahin Kak Zura juga” peringat Aksa sebelum aku menutup pintu kamarnya.
“Anak ini, kenapa dia selalu begitu?? Aku tidak ingin putraku tumbuh menjadi seorang pendendam, dan memiliki sifat iri hati, bagaimana caraku mengajarkannya? Ah ... nati aku akan bicara pelan-pelan padanya, mengajari anak kecil tentang adab dan sopan santun, memang tidak semudah itu” aku menggelengkan kepala, lalu berjalan menuju kamar Azura, terlihat anak yang beranjak akan menjadi seorang gadis ini, juga tengah bersiap.
__ADS_1
“Bu ... si Aksa minta Ibu buat marahin aku ya??” tanyanya menatapku lekat, tahu dari mana dia??.
“Enggak, Aksa gak pernah ngomong gituh” aku menggeleng, lalu duduk di tepi ranjang.
“Bohong, aku denger tadi, waktu Aksa teriak-teriak” ucapnya mengerucutkan bibir, aku terkekeh geli.
“Kak, kalau di rumah itu jangan teriak-teriak, gak baik, coba ajarkan pada adikmu itu sopan santun, ngomong keras-keras itu gak sopan Kak, coba belajar menyayangi yang lebih muda, Aksa kan adikmu” ucapku, sementara tanganku sudah asik membantu barang-barang yang akan di bawa Zura.
“Aku tahu kok, cuman si Aksa kan suka ngeselin” ucapnya sambil memutar kedua bola matanya.
“Eh, gak baik bicara seperti itu, bagaimanapun Aksa adik kamu lho, dia harus kamu sayangi, kalau bukan kita yang menyayangi dan mengajari dia tentang sopan santun? Siapa lagi??” ucapku lagi, mencoba memperingatkannya.
“Bu, selama ini, kami berdua nyusahin Ibu ya??” Azura menatapku lekat, aku balik menatapnya, gadis ini ...
“Enggak kok, siapa bilang kalian nyusahin Ibu?? Ibu seneng bisa punya anak semanis kalian” aku memeluk Zura yang sudah berkaca-kaca, iya ... anak ini terkadang dia terkesan galak, judes, nyebelin, mungkin itu adalah sifat turunan dari Ayahnya, tapi anak-anak tetaplah anak-anak, terlebih Azura itu, anak perempuan. Dia tetap memiliki sisi lain yang lembut, rapuh, juga cengeng.
“Maafin kami ya Bu, kami belum bisa menjadi anak yang baik buat Ibu dan Ayah” ucapnya sambil mengeratkan pelukan.
“Loh? Kok Kakak ngomong gitu sih?? Kakak sama Adek adalah anak kebanggan Ayah, Ibu juga Bunda, kalian gak pernah nyusahin kok” ucapku mencoba meredakan isakannya.
“Tapi kan ...” ucapan Zura menggantung, seperti sedang berfikir, aku menangkup wajah Azura, dengan kedua tanganku, lalu aku menatapnya wajahnya lekat.
“Sayang, meskipun Ibu bukan Ibu kandung kalian berdua, tapi bagi Ibu kalian sudah seperti anak-anak Ibu, Ibu sayang kalian berdua” ucapku dengan mata yang sudah berkaca-kaca, ah ... jadi mellow deh.
“Makasih ya Bu ...” Azura kembali memelukku erat. Aku hanya bisa mengangguk, lalu membelai puncuk kepalanya, sambil sesekali mengecupnya perlahan.
Aku sangat menyayangi kedua anakku.
“Ekhem ...!” suara di balik pintu itu mengagetkan kami yang tengah asik menyalurkan rasa sayang.
Aku mendongak, lalu menatap pria yang sedang bersedekap di depan pintu dengan tatapan bahagianya.
“Ayo berangkat” ucapnya sambil berjalan mendekat.
“Ah ... iya, sampai lupa kalau kita mau berangkat” ucapku menyeka air mata, lalu membantu Zura untuk segera bergegas.
AA hanya menatap kami, tanpa sepatah katapun, dia langsung kembali bergegas menuju keluar kamar. Dia memang selalu begitu. Acuh, kaku, dingin, galak, tapi perhatian, AA mencurahkan seluruh kasih sayang, tenaga, fikiran, kesetiaan, hanya untuk keluarganya, tanpa banyak bicara.
__ADS_1
Dia bilang “Aku lebih suka Aksi daripada fiksi”
.