DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
Kecewa


__ADS_3

Aku memicingkan mataku, mobil memang melaju pelan setelah Azura turun, tapi fokusku tetap pada Azura yang tengah celingukan di depan gerbang.


“Pak Toto, berhenti sebentar” perintahku, pada pak Toto.


Mobil menepi, aku masih memperhatikan Azura dari jauh, terlihat gadis itu celingukan, seperti sedang menunggu seseorang.


Setengah jam kemudian, dia malah menjauh dari gerbang sekolah, terlihat dia tergesa menuju taman, aku masih mengikutinya.


“Mau kemana anak itu? Tidak tahukah dia? Jika aku sudah di panggil pihak sekolah karena dia jarang masuk sekolah? Ya ampuuunnn ... anak zaman sekarang, kenapa mereka mudah sekali menyia-nyiakan kesempatan!” aku bergumam sendiri, karena gemas akan tingkah Azura, belum lagi, kalau sampai si AA tahu, tingkah anak gadisnya ini, aku pasti akan di gantung hidup-hidup.


Satu jam aku masih memperhatikan Azura dari jarak yang lumayan jauh, Azura tengah terduduk sendirian di antara kursi taman, tempat kemarin aku di kejar dua Anjing. Yang sekarang membuatku menjadi trauma ketika berpapasan dengan Anjing. Huh ...


Tidak lama kemudian, datang seorang perempuan, dengan postur tubuh yang sempurna, tubuhnya langsing, kulitnya putih, hidungnya mancung, rambutnya di gerai, indah, dan satu hal lagi, dia menggunakan pakaian dengan merk branded, dari mulai dress, tas, sepatu hingga pin rambutnya. Siapa perempuan itu???.


Berkali-kali aku mencoba mengingat perempuan itu, tapi nahas aku tidak mengingatnya, terlihat Azura menghambur pada wanita itu, dan kini Azura tengah memeluk perempuan itu, terlihat begitu erat, lalu perempuan itu berjongkok dan menciumi wajah Azura, Azura terlihat tersenyum begitu bahagia, senyum yang tidak pernah aku lihat selama ini.


“Pak Toto, siapa perempuan itu??” tanyaku pada Pak Toto yang sama-sama tengah memicingkan matanya.


“Kurang tahu Nyonya, saya pun baru melihatnya” jawabnya sambil menggeleng.


“Baiklah, kita terus intai mereka, jika terjadi sesuatu, maka kita harus segera melakukan tindakan, kita tidak bisa melakukan sebuah tindakan tanpa menelitinya terlebih dahulu,” ucapku yakin, sambil terus menatap Azura, yang kini terlihat dia tengah bercengkrama dengan perempuan itu, entah kenapa tapi aku merasa sangat iri, selama ini, Azura tidak pernah bercengkrama denganku seperti itu.


Dari jauh, aku melihat Azura bergandengan tangan dengan wanita itu, menuju sebuah mobil, lalu mobil melaju perlahan, entah kemana tujuan mereka.


“Pak Toto ikuti mobil itu! Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus menelpon AA? Haduuuhh gimana kalau Azura di culik Pak??” tanyaku, seolah bertanya pada diri sendiri, cemas, resah, gelisah, bagaimana jika sesutau hal yang buruk akan menimpa putriku Azura?.


Untuk saat ini, rasa cemasku lebih besar pada Azura, di banding pada omelan si AA.

__ADS_1


Kulihat mobil itu berhenti di sebuah mall besar, “Mall? Kenapa harus k mall?? Siapa perempuan itu? Apa dia kerabatnya Azura? Atau siapa??”


Perlahan akupun turun dari dalam mobil, lalu berjalan mengendap di ikuti Pak Toto dari belakangku, aku mengikuti langkah Azura dan perempuan cantik itu.


“Hah?? Kok malah ke Time Zone sih?? Ini kan jam sekolah, kenapa perempuan itu malah mengajak Azura main sih?, apa yang harus ku lakukan? Apa aku harus menegurnya saja? Iya! Di sini sekarang aku Ibu nya, jadi aku juga punya hak untuk mengingatkan perempuan itu, agar tidak semena-mena pada anak-anak, begitu kan Pak Toto?? Pak Toto??” aku berbisik pada orang di belakangku, tapi tidak ada sahutan, apa Pak Toto tidak mendengarku??. Gemas aku menoleh ke belakang, tepat pada arah Pak Toto tadi.


“Ya ampuuunnn ... itu Pak Toto ngapain malah ngobrol sama SPG parfum sih???” gemas, melihat Pak Toto yang tengah di tarik-tarik SPG parfum, akhirnya aku menghampiri Pak Toto.


“Pak! Ngapain sih? Ini kan kita sekarang lagi ada dalam misi penting! Bapak kenapa malah keganjenan di sini??” teriakku, jengkel. Tidak tahukah Pak Toto, bahwa sekarang statusku sedang di pertaruhkan??.


“Eh, maaf Nyonya, ini tadi si Mbaknya yang narik-narik saya, ya saya ngikut aja, kan si Mbaknya cantik, wangi lagi” jawab Pak Toto polos.


“Ish ... ya iyalah wangi, namanya juga SPG parfum!” aku mencebik, lalu kembali menarik Pak Toto untuk melanjutkan pengintaian.


“Eh, eh, Azura kemana? Kita kehilangan jejaknya! Semua ini gara-gara Pak Toto!” umpatku kesal.


“Nya! Nyonya!” Pak Toto datang dengan ngos-ngosan.


“Apa!?” hardikku masih kesal.


“Itu, Nona Azura sedang di foodcourt” ucapnya sambil menunjuk-nunjuk foodcourt yang tidak jauh dari tempat time zone tadi.


“Oke, kita kesana!” aku langsung bergegas menuju TKP.


“Pak Toto, Azura kenapa bisa begitu bahagia dengan perempuan itu ya?? Aku jadi iri” gumamku.


“Jangan iri Nya, Nyonya itu sudah jadi Ibu yang baik selama ini, Nyonya kan masih muda, tapi Nyonya tidak egois, Nyonya masih mau mengerjakan pekerjaan rumah, dan ngurus anak-anak dengan tangan Nyonya sendiri, berbeda dengan Ibunya Nona Azura, katanya beliau meninggalkan Nona Azura di saat Nona Azura masih kecil” jelas Pak toto.

__ADS_1


“Apa?? Jadi Ibu nya Azura meninggalkan Azura waktu masih kecil??” tanyaku sambil mengerutkan alis dalam.


“Katanya sih begitu Nyonya, tapi kan itu baru KA TA NYA, saya tidak tahu cerita sebenarnya” ucap Pak Toto kemudian.


“Berarti Ibunya Azura bisa datang kapanpun dong Pak, hhhuuhhh ... kenapa saya jadi gak rela ya memikirkan semua ini??” aku menarik napas panjang, sambil melihat Azura yang tengah di suapi perempuan itu.


Perempuan itu??? Sebentar, apa jangan-jangan dia Ibunya Azura??.


***


Aku menatap sendu pada perempuan yang berada di seberangku, dia tengah menurunkan Azura tepat di dekat gerbang sekolah di saat jam pulang sekolah, jangan tanya seperti apa perasaanku, jelas dadaku terasa sesak melihat tingkah putriku seharian ini.


Terlihat Azura melambaikan tangannya pada perempuan itu dengan senyuman mengembang di bibir cantiknya.


“Sabar ya Nya” Pak Toto menatapku dari kaca spion depan mobil.


“Hmht ...” hanya itu yang bisa ku katakan pada Pak toto,


Azura mendekati gerbang sekolah, tak lama kemudian siswa lain berhamburan keluar dari sekolah, karena memang jam sekolah telah usai.


Aku membuka kaca jendela mobil, lalu melambaikan tangan pada Azura, Azura menyadarinya dan langsung masuk kedalam mobil, lalu mobil melaju, kami terdiam. Suasana hening, kami sudah terhanyut dengan fikiran kami masing-masing.


Tiba di rumah, Azura turun dari dalam mobil, lalu dia bergegas menuju kamarnya. Sementara aku menuju dapur, untuk menyiapkan makan siang mereka.


Setelah selesai memasak, lalu aku memanggil kedua anakku, Aksa dan Azura.


Mereka duduk di kursi makan, suasana menjadi canggung, entah siapa yang membuat suasana ini, tapi rasanya hatiku masih kecewa saja.

__ADS_1


__ADS_2