DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
Kencan Ala AA 2


__ADS_3

Tuk ... tuk ... tuk ...


Berkali-kali Edgar mengetuk-ngetuk keningnya dengan pulpen yang di pegangnya, kepalanya terasa pusing, karena untuk pertama kalinya dalam hidup, dia telah gagal dalam mengerjakan sebuah proyek, proyek kecil, yang menurutnya sangat remeh temeh dan hampir tidak penting. Tapi kini, proyek ini menjadi penting meski sangat rumit. Proyek meluluhkan hati istri.


“Aldo, kenapa kau membual??” Ed masih memejamkan matanya, memijat keningnya pelan, sambil sesekali menggoyangkan kursi yang tengah di dudukinya.


“Membual?? Kapan saya berani membual pada Tuan??” Aldo mengerutkan keningnya dalam.


“Kau bilang aku harus mengajak El menonton konser musik, tapi kenapa hasilnya nihil??” Ed membuka matanya, menatap Aldo yang tengah berdiri di hadapannya.


“Hah? Tuan gagal semalam??” Aldo menahan senyumnya, lalu menggaruk keningnya bingung.


“Iya, aku gagal” Edgar terkulai lemah, menenggelamkan kepalanya di atas meja.


“Begini saja, biar terasa nyaman, bagaimana jika Tuan melakukan hal-hal yang sangat Tuan sukai di waktu muda, misalnya waktu muda, Tuan suka pergi kemana? Main kemana? Atau nongkrong di mana??” usul Aldo dengan mata berbinar.


“Sungguhkah itu akan berhasil??” tanya Ed, masih ragu.


“Eiiihh ... di coba saja dulu Tuan, mungkin jika Tuan melakukan apa yang menurut Tuan nyaman, mungkin semuanya akan mengalir begitu saja, semuanya akan terasa relaaakkkksss ...” Aldo membentangkan kedua tangannya.


“Ekhhheeemmm!!” Edgar berdehem kala melihat Aldo sudah bertingkah berlebihan.


“Hupt ... maaf Tuan, saya terlalu bersemangat” Aldo segera menutupkan kembali kedua tangannya.


“Baiklah ... kalau begitu, akan aku coba” Ed memanggutkan kepalanya, lalu beranjak dari tempat duduknya.


“Tuan mau kemana?? Meetengnya masih lima belas menit lagi kok” tanya Aldo sambil mengikuti gerak langkah Edgar.


“Aku mau pulang, menyusun rencana untuk kencan nanti” ujar Ed sambil berlalu,


“Eh?? Meetingnya lima belas menit lagi Tuan!” Aldo mengikuti Ed dari belakang.


“Cancel” ucapnya sambil mengibaskan tangan.


“Apa?? Tuan, jangan siksa saya seperti ini, client kita dari Baghdad sangat susah di temui, kalau tidak bertemu hari ini, kita akan sulit kembali mengatur jadwalnya” Aldo memelas.


Ed memutar tubuhnya, menatap Aldo dengan tatapan terdinginnya, membuat Aldo mengatupkan mulutnya dan menunduk. Dalam hati, dia merutuki nasibnya sendiri.


“Baiklah ... saya akan mengatur semuanya, Tuan boleh pergi” Aldo tertunduk lemahtak berdaya.


“Semuanya mudah bukan? Semuanya bisa di atur bukan?? Pastikan kita tidak akan rugi, hanya karena pertemuannya di undur lagi” ucap Ed sambil berlalu, meninggalkan Aldo yang tengah menghentakkan kakinya kesal.


“Aiiiissshhhh!!!!” Aldo mengacak rambutnya prustasi.


“Gitu aja kok repot!” gumam Ed sambil terus berjalan menuju parkiran.


***


‘Minggu depan, kita akan mengadakan acara mendaki gunung’ Mirnahobytraveling.


‘Yeeeaaayyy ... kita mau mendaki ke gunung mana??’ Nanayangpalingcantik

__ADS_1


‘Bagaimana kalau kita ke gunung Himalaya??’ Lilycelaluceliacelamanya.


‘Jangan! Ingat usia, bagaimana kalau ke gunung salak saja?’Mirnahobytraveling.


‘Ish ... sama saja, Nyonya @ElianaAdishwara mungkin ada usulan?’ Lilycelaluceliacelamanya.


Eliana menggelengkan kepalanya berkali-kali, kala membaca isi percakapan geng Drove Girl di group chat.


“Mereka memang gak inget umur, yakin memangnya mau mendaki gunung himalaya?? Dasar!” Eliana mengumpat sendiri, sambil menyelonjorkan kakinya, menikmati siangnya di depan televisi, yang sedang menayangkan serial yang bertemakan tentang azab.


‘Maaf aku tidak bisa ikut, aku tidak bisa meninggalkan anak-anakku’ ElianaAdishwara.


‘Kita berangkat akhir pekan, dan lagi, kita wajib membawa pasangan kita masing-masing, agar terlihat romantis gituuuhhh’ Nanayangpalingcantik.


“Whaattt??? Aku ngajak si AA naik gunung?? Romantis enggak, bengek iya” Eliana memutar kedua bola matanya ke atas, merasa jengah dengan obrolan unfaedahnya.


“Siapa yang bengek??” tiba-tiba suara datar itu terdengar dari belakang tubuhnya.


“Ish ... kau membuatku kaget!” Eliana mengusap dadanya.


“Apa yang sedang kau lakukan??” tanya Ed, dengan wajah kakunya.


“Aku?? Aku sedang ...” El memutarkan pandangannya, bingung mau jawab apa? Sementara sekarang dia sudah di manjakan dengan berbagai fasilitas dari Ed, jadi dia tidak perlu lagi mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri.


“Sedang membuang waktu, melakukan chat, dengan teman-temanmu yang aneh itu??” sela Ed, dengan wajah tidak sukanya.


“Ish ...” El, meniup ujung poninya, sambil mencebikkan bibirnya.


“Kita mau kemana??” tanya El, sambil berjalan mengekori suaminya.


“Aku belum mandi!” El menaik turunkan alisnya,


“Ya sudah mandi dulu sanah, aku akan menunggumu di sini” Ed duduk di tepi ranjangnya, sambil meraih sebuah buku, menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang, lalu menyelonjorkan kakinya, mencoba fokus pada buku tebal yang ada di genggamannya, sementara Eliana tanpa banyak bertanya lagi, dia langsung masuk kedalam kamar mandi, dan melakukan ritualnya.


Selang setengah jam ...


“AA! Kenapa kamu masih di sini??” tanya El, menghentikan langkahnya,


“Apa maksudmu??” Ed menoleh, menatap El yang tengah menggunakan bathrobenya, dengan handuk yang membungkus kepalanya.


Glek ...


Ed, menelan salivanya dengan susah payah. ‘Ish ... perempuan tidak peka! Aku ini laki-laki!’ umpat Ed di dalam hati.


“Aku mau ganti baju,” Rengek El, yang merasa malu, ketika harus mengganti pakaiannya di hadapan Ed.


Ed mengerutkan keningnya, “Kenapa tidak ganti baju di kamar mandi saja?” tanyanya, menatapnya dengan tatapan tajam, setajam silet.


“Oh, iya ya ...” El, meraih baju yang sudah di siapkannya, lalu masuk kembali kedalam kamar mandi, Ed mengusap dadanya, ada gejolak aneh yang di rasakan tubuhnya, sementara perempuan itu masih saja polos, dan tidak peka.


Tak lama kemudian ...

__ADS_1


“Aku sudah siap,” El berdiri di samping AA, dengan dress selututnya, tak lupa tas kecil di selempangnya. Gadis itu begitu cantik membuat Ed sedikit ternganga.


“Kau kenapa?? Pasti terkagum akan kecantikanku ya?? Hhhee ... ini berkat skin care yang kau berikan tempo hari, makasih ya ...” El bergelayut di lengan AA.


Refleks AA menghempaskannya karena kaget.


‘Aku ini normal! Aku ini pria berpengalaman! Kenapa dia selalu melakukan kontak fisik tanpa pemberitahuan??’ kesal, AA terus mengumpat di dalam hatinya.


“Ish ...” El kembali menarik tangannya dengan gemas.


“Ayo berangkat!” Ed berjalan mendahului El,


“Kita mau kemana?” El masih mengekori Ed, berjelan tergesa, karena satu langkah Ed, adalah dua langkah bagi El.


“Ke tempat romantis” Ed tersenyum,


“O ya?? Yyeeeaaaayyyy ...” Eliana bersorak bahagia,


“Etapi, bukan ke tempat yang seperti itu bukan?? Tempat berisik?? Aku tidak suka” El kembali mengingat kejadian tempo hari, di mana Ed mengajaknya nonton konser band metal.


“Tidak, kali ini, tempatnya sepi, sunyi, dan mendamaikan” ucap Ed,


“Hah?? Mesum! Jangan-jangan kau mau membawaku ke tempat yang tidak ada orangnya ya? Kau mau membawaku ke tempat sepi!” El menghentikan langkahnya yang hampir mencapai pintu utama.


“Ish ... kau yang mesum! Aku mau mengajakmu ke tempat yang banyak orang, tapi tidak banyak bicara seperti teman-temanmu!” ucap Ed, merasa kesal dengan prasangka El.


“Oooohhh ...” Eliana manggut-manggut, dengan bibir yang sudah membentuk huruf O.


‘AA mau bawa aku ke restoran mahal kali yaaa ...’ fikiran Eliana melayang,


“Ayo masuk!” Ed membuka pintu mobil untuk Eliana. Lalu El masuk kedalam mobilnya.


Sepanjang jalan, Eliana hanyut dalam fikirannya sendiri, membayangkan dia akan makan di restoran mewah, yang suasananya tenang dan damai.


“AA ngomong-ngomong, tempat yang akan kita kunjungi, kamu sudah sering kesana??” El membuka suara, terdong rasa penasarannya.


“Tentu saja, bahkan aku menghabiskan sebagian masa mudaku, di sana,” ucap Ed yakin.


“Apa sebegitu menyenangkannya tempat itu??” tanya El lagi, merasa penasaran dengan tempat yang akan di tujunya.


“Tentu saja, aku begitu betah, dan sering lupa waktu jika sudah berada di sana” jawab Ed, dengan penuh percaya diri.


“Aaaaaahhhh ... pasti tempat yang menyenangkan” El menggumam, sambil memanggutkan kepalanya berkali-kali.


Selang satu jam ...


“Ayo turun!” Eliana mengerjap, dia mengedarkan pandangannya, kala mereka tiba di sebuah toko besar.


“Apa maksudmu turun di sini??” mata Eliana membulat, kala dia menyadari telah turun di sebuah tempat yang menurutnya sangat membosankan.


Ed mengerutkan keningnya bingung, tapi terlanjur basah, dia berjalan mendahului Ed, memasuki toko yang sangat besar itu.

__ADS_1


“Dasar Aki-Aki!! Tidak romantis!! Aku fikir, aku akan di bawa ke tempat romantis, tapi kenapa dia malah membawaku ke toko buku???!!!”


__ADS_2