
Greeeeppp ...
Edgar memeluk gadis itu dengan erat, lalu mencoba menutupi wajahnya dengan jas yang dia gunakan, bagi Edgar hal seperti ini sudah biasa dia alami, kemanapun dia pergi, tidak akan luput dari intaian publik. Sebagai seorang pengusaha sukses, kekurangan dan kehancurannya adalah kebahagiaan tersendiri bagi para rivalnya.
“Diam!” bentak Edgar, kala di rasakan gadis itu mencoba untuk memberontak.
Dengan gerakan cepat, Edgar menarik tubuh gadis itu lalu membawanya ke dalam mobilnya yang sudah terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi.
“Apa-apaan ini???” gadis itu semakin ketakutan, bahkan tangannya semakin gemetar, mereka duduk bersebelahan di dalam mobil.
“Kau salah faham! Aku bukan perempuan seperti itu! Aku tidak pernah bermaksud untuk menculik putramu!”
“Dasar perempuan licik! Beraninya kau memperalat anak kecil hanya untuk keuntunganmu sendiri! Bahkan jika kau adalah manusia tak beretika, maka tidak sepantasnya kau melakukan ini pada anak usia tujuh tahun! Seberapa banyak uang yang kau inginkan sesungguhnya??” Edgar semakin mengeratkan rahangnya, lalu membulatkan tangannya kuat. Seringa kasus penculikan anaknya, hingga memintanya untuk menebusnya dengan uang yang tidak sedikit membuat Edgar langsung menyimpulkan sendiri pendapatnya.
Lagipula perempuan zaman sekarang memang kebanyak seperti itu, hanya ingin uang dengan cara instan, menghalalkan segala cara, termasuk menyakiti anak-anak, itu yang Edgar tahu karena dia terlalu sering menemui perempuan matre dalam hidupnya, tidak jarang Edgar bertemu wanita yang malah rela menyerahkan dirinya pada Edgar.
“Sebentar! Izinkan aku untuk bicara, kau salah faham” gadis itu berusaha untuk menjelaskan,
“Lalu apa yang ingin kau tanyakan?! Apa kau juga ingin tahu siapa kekasihku? Apa kau juga ingin bertanya apa aku akan menikah lagi?? Kenapa tidak kau tanyakan sekalian pada putraku! Bagaimana cara dia hidup di usianya yang masih kecil tanpa seorang Ibu??” suara Edgar terdengar semakin dingin dan datar, hingga menimbulkan aura dingin di sekitarnya.
“A apa???” gadis itu semakin terbata, bahkan matanya sudah berkaca-kaca, lambat akhirnya air matanya tumpah membasahi pipi mulusnya. Tidak menyangka dengan serentetan tuduhan pria matang di sampingnya.
“Jadi sehina itukah dirimu??” Edgar meneruskan ucapannya, dengan tatapan yang siap menerkam lawannya.
“Hah ... lupakan saja, akan sangat salah bicara denganmu dalam posisi seperti ini! Kau salah faham, kau sedang emosi tuan! Aku bukan perempuan seperti yang kau pikirkan” gadis itu masih mencoba membela dirinya, berusaha menjelaskan pada pria asing yang kini tengah salah faham padanya.
“Aku belum selesai bicara!” tiba-tiba Edgar menahan kedua bahu gadis itu, lalu menatapnya tajam.
“Apa-apaan kau ini??!!” merasa tersentak, gadis itu mencoba untuk membuka pintu mobil, namun nahas dia tidak mampu melakukannya. Karena tangan Edgar masih mencengkram kedua bahunya.
“Dengarkan baik-baik! Ini adalah peringatan dariku! Jangan pernah mendekati putraku atau keluargaku yang lainnya! Jika kau berani mendekati putraku lagi, maka aku tak akan segan untuk memasukkan dirimu kedalam penjara!” Ancam Edgar dengan suara yang sudah bergetar karena menahan amarah.
Lalu Edgar mengeluarkan gadis itu dari dalam mobilnya, Edgar kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, hingga membuat gadis itu tertegun sendiri, sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
***
Tiba di rumah, Edgar menghampiri kamar Aksa, kamar yang di design dengan sempurna, kamar yang di penuhi dengan aksen yang sangat di cintai oleh putranya, kamar yang di penuhi oleh berbagai mainan import, kemudian tatapan Edgar beralih pada Aksa yang tengah terlelap dengan napas teraturnya. Edgar menatap putranya dengan tatapan iba, dengan berselimutkan selimut berkarakter proggy, Edgar menghampiri putranya, lalu mengusap keningnya dengan sayang. Lama Edgar menatap Aksa, seolah menyalurkan rasa rindu yang menggebu, tidak lama kemudian Edgar membenahi selimut Aksa. Kemudian mematikan lampunya, sebelum keluar kamar, Edgar kembali menatap putranya, “Maafkan Ayah ...” ucap Edgar, sambil berlalu dari kamar Aksa.
***
Pagi hari ...
Suasana rumah pagi hari ini, cukup terasa angker, Edgar sudah berdiri tegak di ruang belajar anak-anaknya, kedua tangannya di masukkan kedalam saku celananya, dan gayanya yang seperti itu, membuatnya semakin terlihat berkarismatik. Sementara itu, di samping kirinya sudah terlihat Aldo asisten pribadinya yang sudah datang sejak pagi tadi.
Aksa dan Azura sudah terlihat rapi, mereka berdiri sambil mencengkram tangan masing-masing, karena takut akan amarah Ayahnya.
“Sesuai dengan apa yang telah Ayah peringatkan pada kalian, kalian jangan pernah keluar rumah sembarangan! Jangan pernah bertemu dengan orang asing sembarangan! Laporkan jika kalian menemukan suatu kejanggalan!”
“Kalian itu adalah anak dari pengusaha ternama! Kalian adalah icon bagi anak-anak lainnya, bagaimana mungkin kalian bisa berbaur dengan anak-anak biasa lainnya!” Edgar memulai ritual paginya dengan amarah yang membuncah. Suaranya yang dingin, datar, dan cukup menekan membuat kedua anak itu menunduk takut.
“Terutama kau Aksa!” tangan Edgar menunjuk Aksa.
“Kenapa kau dengan mudahnya mengikuti orang asing??!!” membentak Aksa, dengan mata melotot.
“Paman??” Edgar mengerutkan keningnya dalam,
“Hmhhtt ... Paman berambut klimis, dia membawa sebuah kamera” Jelas Aksa mata bulatnya menatap Ayahnya dengan berani.
“Bukankah yang memberimu coklat adalah perempuan itu??” selidik Edgar, menatap putranya mencari sebuah kejujuran di sana.
“Bukan Ayah, yang memberiku coklat adalah seorang Paman” Aksa menggelengkan kepalanya, meyakinkan Ayahnya yang tengah kebingungan, amarah yang tadinya membuncah, kini perlahan mereda.
“Apa?? Lalu bagaimana dengan perempuan itu??” Edgar bergumam.
“Dia yang telah menolongku dari Paman itu, Bibi bilang, aku tidak boleh mengikuti Paman itu lagi, dia bilang Paman itu adalah orang jahat, dan melarangku untuk berbicara sembarangan pada orang asing” Jelas Aksa lagi, sontak pengakuan Aksa membuat Edgar salah tingkah, sementara itu Aldo sudah tersenyum mesem, melihat perubahan ekspresi tuannya.
***
__ADS_1
Di rumah sakit ...
Eliana tengah duduk di sebuah kursi, sambil menatap televisi di hadapannya, dengan gusar Eliana mengganti chanel tv secara acak.
“Dasar perempuan tidak tahu diri!”
Kata-kata itu kembali terngiang di telinganya, berkali-kali Eliana menggelengkan kepalanya.
“Semakin aku memikirkan kata-katanya terdengar semakin menyebalkan! Ish ...”
Eliana menghantakkan kakinya berulang kali. “Aaaaaaaaa!!! Pria laknat!!!”
“Pemirsa ... di kabarkan seorang pengusaha besar yang memiliki beberapa perusahaan berskala international, saat ini tengah dekat dengan seorang perempuan sederhana, mereka baru saja kedapatan tengah berkencan di jalan A” samar Eliana menajamkan pandangannya pada televisi di hadapannya.
“A apa??? Bukankah itu diriku??” Eliana membelalakan matanya, kala dia melihat wajahnya terpampang jelas di televisi.
“Bu bukankah itu si pria menyebalkan itu??? Eiihhh ... itu pasti bukan aku, lagi pula kenapa aku harus berada di TV?? Aku bukan artis kan??” berkali-kali Eliana mengerjapkan matanya tidak percaya.
“Itu aku!! Iya itu aku!!” tanpa sadar, Eliana menunjuk-nunjuk televisi.
“Aaaaaa ... kenapa aku bisa berada di sana?? Ini fitnah, Aku?? Berkencan dengan pria tua itu??? Ooohhh tidak bisaaaa ...”
.
.
.
.
silahkan tinggalkan komentarnya ya readers ...
Follow akun Ig-ku di Teteh_neng2020
__ADS_1
Terimakasih.