
"Ma, kok bawa es krim cuma satu, sudah cair lagi. Buat Kia aja ya ma!?" teriak Kiandra saat berada di dapur, ia tengah membantu merapikan belanjaan mama Aisyah, sedangkan Aisyah tengah duduk melamun di meja makan.
"Iya_, itu memang buat kamu!?" ucap Aisyah pelan, ia masih mencoba mengingat wajah anak laki-laki yang telah memberinya es krim tadi, tepatnya menitipkan es krim padanya.
Kini kiandra sudah menyusul duduk Aisyah dengan membawa sebuah gelas yang di isi es krim yang sudah mulai mencair tadi,
"Mama kenapa sih, nglamun aja dari tadi?" tanya Kiandra sambil menyuapkan es krim ke mulutnya.
"Kamu kenal sama Elan?" tanya Aisyah dan Kiandra pun mengangukkan kepalanya.
"Baru sih ma, baru tadi pagi. Dia ternyata satu kelas sama Kia!"
"Kok bisa, kalian kan jarak dua tahun?" tanya Aisyah terkejut, begitu juga dengan Kiandra.
"Mama kok tahu sih kalau aku sama si tengil itu jarak dua tahun?" tanya Kiandra curiga.
Segera Aisyah tersadar, "Bukan begitu maksud mama, mama cuma mengira-ngira aja kalau di lihat dari wajah kalian."
"Mama ketemu Elan?"
"Itu tadi yang masih es krim!"
"Elan?" tanya Kiandra terkejut dan Aisyah pun mengangukkan kepalanya.
"Mamaaaaa_," dengan cepat Kiandra berdiri dari duduknya dan berlari ke wastafel cuci piring, ia ingin memuntahkan semua es krim yang terlanjur masuk ke perutnya, "Mama kenapa nggak bilang dari tadi sihhh!" protesnya sambil terus berusaha memuntahkan isi perutnya.
"Istighfar, Kia!" teriak Aisyah sambil menggelengkan kepalanya.
Apa benar dia Elan, Elan putranya mbak Nadin? Jika memang benar ia Elan, bagaimana?
Sejauh apapun mereka mencoba berlari dari masa lalu tetap saja jika Allah menakdirkan mereka untuk bertemu, maka mereka akan tetap bertemu kembali.
"Kia kenapa ma?" tanya Alex yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"Nggak pa pa mas, lagi pms mungkin. Oh iya mas, rencananya sore ini Aisyah mau ajak Kia ke pengajian, mas nggak pa pa di rumah sendiri?" Aisyah sengaja tidak menceritakan tentang Elan, ia tidak mau tercipta masalah baru. Ia cukup tahu bagaimana suaminya begitu menyayangi Elan dulu mungkin juga sampai sekarang, tapi ia juga tahu bagaimana Rendi suami Nadin begitu membenci suaminya itu.
"Baiklah, tidak pa pa.Tapi biar mas anter ya!?"
"Nggak usah mas, kan hanya di perumahan sebelah, nggak jauh." ucap Aisyah sambil memohon pada suaminya itu dengan wajah yang di buat imut membuat Alex tidak bisa mengelak lagi.
"Baiklah, apa boleh buat!"
Cup
"Terimakasih, mas!" Aisyah sengaja meninggalkan ciuman di pipi suaminya agar mendapat ijin dengan mudah.
"Kia, cepetan siap-siap. Kita berangkat!?" panggil Aisyah pada putrinya itu.
"Siap ma!?"
Mereka pun segara bergegas ke kamar masing-masing membuat Alex menggelengkan kepalanya keheranannya,
"Semangat sekali mereka!?"
***
Kini Kia dan Aisyah sudah siap dan hendak berangkat, mereka tercengang di depan rumah saat menatap sepeda motor yang tengah di ikat rantai.
__ADS_1
"Mau cari ini?" tiba-tiba Alex muncul di balik dinding dan menunjukan segerombolan kunci.
"Masssss!?"
"Paaaaaa!?"
Keluh Aisyah dan Kiandra bersamaan, ia tidak menyangka jika suaminya tahu mereka akan berangkat pengajian dengan sepeda motor.
"Pak Iwan sudah siap, jadi silahkan berangkat!" ucap Alex kemudian sambil menunjuk pada pria yang berdiri di samping mobil. Pak Iwan adalah sopir pribadi Aisyah, sopir yang bertugas mengantarkan kiandra dan Aisyah saat bepergian.
Ampun deh papa ...., posesif banget jadi orang ..., keluh kiandra dalam hati.
"Sekarang bagaimana?" tanya Aisyah dan Kiandra pun mengangkat kedua bahunya.
"Mau gimana lagi, udah kepalang tanggung juga ma!"
"Baiklah, berangkat!"
Tidak ada pilihan lain selain berangkat dengan sopir.
Memang benar masjid tempat pengajian tidak terlalu jauh dari rumah mereka, Aisyah dan Kiandra segera bergabung dengan jamaah yang lain, rupanya ustadzah yang mengisi pengajian juga sudah datang dan pengajian pun segera di mulai. Semua jama'ah terdiri dari ibu-ibu dan beberapa remaja putri.
Tapi tanpa sengaja Kiandra melihat sekelebat sosok yang beberapa hari ini cukup menggangunya.
Karena penasaran, ia pun memilih untuk memastikan apa benar apa yang ia lihat,
"Ma, Kia ke depan dulu ya, ada pesan dari guru!?" bisik Kiandra beralasan.
"Iya, jangan lama-lama ya!"
Kiandra pun perlahan meninggalkan jamaah pengajian, ia berjalan pelan menuju ke teras masjid dan memastikan yang ia lihat itu benar.
"Kamu ngapain di sini? Ngintip ibu-ibu pengajian ya?"
Mendapat sapaan dari Kiandra, anak itu malah terbengong. Lebih tepatnya ia tengah terpesona dengan penampilan Kiandra yang begitu cantik dengan hijabnya.
Ya ampun, kayaknya Dewi portina tengah berpihak nih padaku ..., cantiknya nih cewek ....
"Di tanya kok malah bengong sih!?"
"Saat lihat kamu, aku seperti mentega yang jatuh di wajan panas. Tahu nggak kenapa?"
"Nih orang mulai lagi nih!?" gerutu Kiandra pelan sambil menghela nafas.
"Aku langsung meleleh lihat kamu!" ucap Elan sambil memegangi letak jantungnya.
"Berhenti gombalnya, sekarang aku tanya ngapain kamu di sini?"
"Nyariin kamu, kamu kan kayak magnet buat aku, aku kutup Utara kamu kutup selatan, jadi saling tarik menarik!"
"Terserah kamu ya! Bikin sebel aja!?" keluh Kiandra, dan dia pun hampir berbalik tapi dengan cepat di tahan tangannya oleh Elan. Dan dengan cepat pula Kiandra mengibaskan tangannya.
"Apaan sih, awas ya pegang-pegang lagi!?" ucap Kiandra dengan begitu marah.
"Maaf, maaf, aku nggak sengaja. Lagian kamu sih buru-buru banget!? Bisa minta tolong nggak!?"
Hehhhh ...
__ADS_1
Kiandra mencoba untuk meredakan emosinya, ia pun kembali menatap Elan.
"Apa?"
"Sebenernya aku kehabisan ongkos pulang, bisa pinjemin aku duwit lima puluh ribu aja nggak, janji deh besok aku ganti!?" kali ini Elan terpaksa merendahkan harga dirinya serendah-rendahnya dari pada jadi gelandangan di jalan, ia benar-benar kehabisan uangnya.
Tadi setelah membeli es krim sisa uangnya yang dua puluh ribu jatuh entah kemana hingga ia tidak punya uang sepeserpun saat ini.
Ha ..., ha ..., ha....
Kiandra tertawa pelan, ia benar-benar tidak percaya seorang Elan bisa hutang uang padanya padahal di sekolah ia terkenal begitu loyal dengan cewek-cewek incarannya.
"Puas Lo, ketawain gue!?" gerutu Elan kesal,
"Lagian kamu, kehabisan duwit kok nyangkutnya di masjid, atau jangan-jangan kamu mau curi uang kotak amal ya?"
"Nauzubillah himinzalik, amit-amit ya gue sampek mikir kayak gitu!?"
Bisa marah juga nih anak ..., batin Kiandra, ia tidak menyangka anak slengekan itu juga bisa bersikap tegas.
"Trus ngapain dong di sini?"
"Bukan urusan Lo! Jadi mau pinjemin apa enggak?"
"Emmm, gimana ya?"
"Jangan bilang kamu juga nggak punya duwit?"
"Enak aja, punya ya. Aku bakal pinjemin tapi ada syaratnya!?"
"Pakek syarat segala!"
"Ya udah kalau nggak mau!?"
"Okey, okey, apa syaratnya?"
"Hafalin satu surah saja dalam Al Qur'an, kalau bisa aku kasih percuma deh!?"
Elan terdiam dengan syarat yang di berikan oleh Kiandra,
"Nggak bisa kan? Ya udah aku balik ke dalam!?"
Kiandra pun berbalik, tapi baru saja melangkah dua langkah tiba-tiba langkahnya harus terhenti,
"Audzubillahi minasyaitonirojim, bismillahirrahmanirrahim, Alif lām rā, tilka āyātul-kitābil-mubīn(i).Innā anzalnāhu qur'ānan ‘arabiyyal la‘allakum ta‘qilūn(a). .....!"
Akhirnya Elan bisa melafalkan surah Yusuf dengan fasih hingga akhir dan berhasil membuat Kiandra terpaku.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1