Elan Untuk Kiandra

Elan Untuk Kiandra
Bab 43


__ADS_3

"Aku senang bisa ketemu mbak Nadin!" ucap wanita berhijab syar'i itu. Ia tampak cantik meskipun tanpa make up dan dress seadanya. Tampak sekali kalau ia tidak punya persiapan saat bertemu. Suara lantunan ayat suci di dalam masjid membuat suaranya tidak terdengar jelas.


Dua wanita itu sengaja bertemu di sebuah masjid yang berada tidak jauh dari rumah sakit tempat suaminya di rawat.


"Kenapa?" tanya Nadin kemudian. Sudah begitu lama Nadin ingin menanyakan hal ini.


"Apanya mbak?" tanya Aisyah balik, ia tidak mengerti maksudnya.


"Kenapa ke Jakarta tidak menemui aku, kamu tahu kan alamatku tidak berubah?" Nadin menyesalkan hal ini, ia cukup menghormati Aisyah sebagai wanita yang pernah menolongnya. Tapi ia sungguh tidak mengerti kenapa Aisyah tidak ingin menemuinya saat ia kembali setelah sekian lama bersembunyi dari semua orang.


Hehhhh ....


Aisyah menghela nafas, bukan hal yang mudah untuk menjelaskan bagaimana kehidupan keluarganya waktu itu.


"Aisyah tahu mbak." jawabnya singkat. Ia tahu jika Nadin ataupun bahkan sepupunya Dini tidak pernah berpindah tempat tapi ia punya alasan yang kuat untuk melakukannya.


Tapi ia sungguh tidak menduga jika pertemuan pertama mereka malah berada di situasi yang rumit kembali.


"Lalu?" tampak Nadin masih menunggu penjelasan dari Aisyah.


"Setelah kejadian waktu itu, rasanya sulit bagi kami untuk kembali membaur dengan orang-orang yang pernah mengenal kami!" terdengar begitu pilu, sebuah luka yang memang mau tidak mau harus dihadapi oleh Aisyah dan keluarganya.


"Termasuk aku?" Nadin masih tidak terima jika Aisyah melakukan hal itu.


"Iya mbak, termasuk mbak dan pak Rendi."


"Atau jangan-jangan semua ini gara-gara mas Rendi?" Nadin kemudian berusaha menebaknya,


"Salah satunya mbak, tapi Aisyah mohon mbak Nadin jangan tersinggung. Mbak tahu kan bagaimana bencinya pak Rendi sama mas Alex. Dan sekarang semuanya sudah tahu, bagaimana kalau kita mulai sekarang mbak, kita perbaiki semuanya. Kita sebagai orang tua tidak bisa egois, pikirkan Kia dan Elan! Biarkan mereka bisa membaur tanpa takut pada orang tuanya!"


"Aku tahu, tapi sekarang mungkin sudah terlambat!"


"Maksud mbak Nadin?" Aisyah tidak mengerti dengan kata terlambat yang dilontarkan oleh Nadin di pertemuan pertama mereka.


"Mas Rendi mau membawa Elan ke Singapura!"


"Apa?" Aisyah begitu terkejut hingga ia menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya.


"Iya Ais. Dan apa kamu tahu kalau Elan_?"


Belum selesai Nadin bicara, Aisyah sudah lebih dulu menyahutnya.

__ADS_1


"Menyukai Kia!"


"Jadi kamu sudah tahu?" sekarang giliran Nadin yang terkejut terlihat dari ekspresi wajahnya.


"Iya mbak!"


"Baguslah kalau kamu sudah tahu, sebenarnya aku ke sini cuma mau minta tolong sama kamu, tolong jaga Kiandra untuk Elan."


"Maksud mbak? Elan cuma berobat kan di sana mbak, setelah itu kembali lagi ke sini?"


"Enggak! Mas Rendi mau bawa Elan ke Singapure, ia akan sekolah di sana sekalian bersama kakeknya!"


"Tapi kenapa mbak?"


"Kamu sudah tahu jawabannya!"


***


Saat hari sudah mulai terang setelah menemui Aisyah, Nadin pun bergegas kembali pulang agar suaminy tidak curiga kalau ia baru saja menemui Aisyah.


Ia segera bersiap-siap ke bandar udara saat di jemput oleh Ajun. Ia tahu jika suami dan mungkin putranya juga sudah ada di sana.


"Apa mas Rendi juga sudah siap?" tanyanya pada Ajun.


Kali ini ia tidak lagi protes, ia sedikit lega karena sudah menemui Aisyah.


Mobil yang ia tumpangi bersama Ajun pun mulai meninggalkan rumahnya dan menuju ke bandar udara.


Sedangkan Kiandra duduk di samping papanya, ia masih tampak murung sambil menunggui papanya yang masih harus mendapatkan perawatan.


Alex tidak berniat untuk menanyai putrinya, ia tahu mungkin putrinya tengah ingin menenangkan diri.


"Assalamualaikum!" suara salam itu segera membuat dua orang yang sedari tadi hanya saling diam itu menoleh ke arah pintu.


"Waalaikum salam!" sahut mereka bersamaan.


Ternyata itu Aisyah, Aisyah pun segera mendekat,


"Dari mana ma, kenapa lama sekali?" tanya kiandra segera dan Aisyah hanya tersenyum.


Apa Kia sudah tahu tentang Elan, apa sebaiknya aku simpan sendiri, pasti Kia akan sedih mendengarnya, batin Aisyah.

__ADS_1


"Nggak kok sayang, tadi lagi cari angin aja di luar." ucapnya sambil mendekati sang suami. Tapi bukan Alex namanya jika langsung percaya, dan segara Aisyah memberi kode pada suaminya dengan melirik pada Kiandra.


"Nak!"


Panggilan itu segera membuat Kiandra menoleh pada Alex,


"Iya pa, ada apa? Apa papa butuh bantuan?"


"Papa kayaknya agak masuk angin, bisa kan tolong belikan papa minyak angin di apotek rumah sakit!"


"Bisa pa, bentar ya!" Kia pun segera meraih tas sampingnya yang ia letakkan di atas nakas di samping tempat tidur rumah sakit.


Setelah menerima salam, kiandra segera meninggalkan papa dan mamanya.


Sepeninggal Kiandra, Alex pun kembalienatap istrinya,


"Ada apa?" tanyanya.


Dan Aisyah pun segara duduk di tempat yang tadi di duduki oleh Kiandra, ia menggenggam tangan suaminya,


"Apa ada masalah?" tanya Alex lagi melihat kecemasan di wajah sang istri.


Aisyah pun segera menceritakan tentang pertemuannya dengan Nadin dan juga tentang Elan.


"Rendi keterlaluan sekali!" ucap Alex dengan wajah geramnya hingga membuat otot-otot di wajahnya semakin terlihat.


"Kita bisa apa mas, ini sudah keputusan mereka, mbak Nadin juga nggak bisa berbuat apa-apa!"


Benar saja, di usia Elan saat ini, segala keputusan masih berada di tangan kedua orang tuanya.


Rupanya Kiandra masih berada di depan ruangan itu, ia sengaja mencuri dengar pembicaraan kedua orang tuanya.


Meskipun ia sudah tahu, tapi nyatanya tetap sakit mendengar hal itu, ia pikir semuanya hanya mimpi dan esok salah pergi ke sekolah ia akan bisa menemui Elan lagi.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.qni5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2