
Akhirnya mereka sampai juga di apartemen Elan, Kia begitu takjub melihat apartemen itu. Begitu luas dan rapi, tampak tidak seperti apartemen seorang pria bujang.
"Bagaimana, apa kamu suka?" tanya Elan sambil meletakkan koper oia di sudut ruangan.
"Hmmm!" Kia pun menganggukkan kepalanya.
"Ini kamar kita!" ucap Elan membuat Kia tersadar akan sesuatu.
"Maksudnya kita berada dalam satu kamar?" tanya Kia kemudian dan Elan pun mengganggukkan kepalanya.
"Kenapa? Bukankah kita sudah suami istri?"
"Tapi_," Kia bingung harus mengatakan bagaimana, ini terlalu mendadak baginya. Berada dalam rumah dengan orang asing saja sudah membuatnya canggung apalagi dalam satu kamar, satu kasur dan bagi Kia, Elan masihlah orang asing. Yang sebelumnya tidak pernah terpikir untuk bisa hidup bersama seperti ini.
Srekkkk
Elan segera menarik tubuh Kia dan membawanya duduk di tepi tempat tidur, ia pun duduk jongkok di depan wanita yang baru beberapa jam berstatus sebagai istrinya itu,
"Jangan khawatir, aku tidak akan memaksa jika kamu belum siap." ucapnya sambil mengusap punggung tangan Kia. Ia pun segera berdiri dan beralih mengusap kepala Kia,
"Mandilah, aku akan memesan makanan untuk kita makan malam!" ucapnya dan kemudian berlalu dari hadapan kia.
Kini di dalam kamar itu hanya ada Kia, ia kembali mengamati ruangan itu, begitu menly. Kamar yang bernuansa abu-abu dan putih. Cukup luas, bahkan lebih luas dari ruang depan. Sepertinya Elan tipe orang yang suka menghabiskan banyak waktu di dalam kamar hingga ruang tamu tidak lebih luas dari kamarnya.
Kia pun memutuskan untuk mengambil peralatan mandi dari dalam kopernya, ia tidak tahu jika Elan bahkan menyiapkan semuanya di dalam kamar mandi, bahkan dengan merk produk yang sama dari milik Kia,
"Elan tahu dari mana?" gumamnya saat melihat semua peralatan mandi miliknya bahkan memenuhi kamar mandi, semua yang Kia sukai ada di sana.
"Tahu gini kan nggak usah bawa dari rumah!" gumamnya lagi sambil menggantung handuk miliknya dan bersiap-siap untuk mandi.
Selesai mandi, ia segera melaksanakan sholat magrib. Tapi sampai ia selesai sholat magrib dan lanjut sholat isya', ia tidak melihat Elan.
"Kemana ya Elan?" gumamnya lirih, tapi ia enggan untuk keluar kamar. Berada dekat dengan Elan terlalu lama membuat jantungnya tidak sehat.
__ADS_1
Tapi ternyata rasa penasarannya mengalahkan semuanya, ia pun segera melipat mukenanya dan kembali mengenakan hijab instan miliknya berwarna purple dan segera mengintip keluar.
Elan .....
Kia segera menghentika langkahnya begitu melihat seseorang yang tengah sholat di depan tv, pria itu adalah Elan.
Ya Allah, dia ganteng banget kalau pakek peci dan baju Koko kayak gitu, pakek sarung lagi ....
Ternyata Elan juga merasakan hal yang sama, terlalu lama dekat dengan Kia ternyata membuat kesehatan jantungnya dipertanyakan.
Elan terlihat mengakhiri sholatnya dengan mengucapkan salam.
"Kia," ternyata Elan menyadari keberadaan Kia membuat Kia sedikit terhenyak, tapi ia segera tersenyum dan menghampiri suaminya itu.
Elan pun segera melepas sarung dan peci serta baju kokonya dan hendak melipatnya,
"Sinion biar aku yang lipat!" ucap Kia sambil mengulurkan tangannya.
"Nggak perlu, biar aku sendiri!"
Akhirnya terjadi saling tarik menarik sarung tapi berakhir dengan saling berpegangan tangan dan berpandangan.
Sejenak seakan dunia berhenti berputar, seakan saat seperti ini tidak ingin berlalu begitu cepat.
"Maaf, maaf!" Elan segera melepaskan tangannya mengalah dan mengalihkan tatapannya.
Satu detik lagi aja begitu, jantungku lemedak kali ya ...
"Ehhh, tadi aku sudah pesen makanan. Biar aku siapin dulu ya!" dengan cepat Elan pergi ke dapur meninggalkan Kia yang masih terdiam di tempatnya.
Beberapa waktu lalu aku melihat Elan yang angkuh dan sombong, beberapa waktu kemudian aku melihat Elan yang hangat dan penuh cinta dan kini aku melihat Elan yang lembut dan perhatian ....
Setelah selesai melipat sarung dan baju Koko Elan, Kia pun menyusul Elan ke dapur.
__ADS_1
"Ada yang perlu di bantu nggak?"
"Nggak usah, kamu duduk aja!"
Elan terlihat begitu cekatan menyiapkan makanan, dan meletakkannya di atas piring Kia.
"Makanlah!" ucap Elan dan Kia pun mengangukkan kepalanya.
Untuk pertama kalinya mereka makan malam bersama.
"Elan,"
"Hmmm?" Elan mendongakkan kepalanya dan menghentikan sejenak makannya,
"Kenapa sholat di luar?"
Hukk hukk hukkk
Elan langsung tersedak mendengar pertanyaan dari Kia, dan Dnegan cepat Kia mengulurkan segelas air putih yang ada di hadapannya,
"Minumlah!" pintanya dan Elan segera meneguknya hingga habis.
"Besok-besok, sholat jama'ah sama aku ya!" ucap Kia dan Elan pun menganggukkan kepalanya dan kembali melanjutkan makannya.
Ternyata berada hanya berdua saja dalam satu rumah dengan Kia selain membuatnya begitu bahagia juga membuat nyalinya hilang.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...