Elan Untuk Kiandra

Elan Untuk Kiandra
Bab 72


__ADS_3

Elan yang baru mendapat kabar tentang ayah dan papa mertuanya pun memilih untuk mengutus orang lain melanjutkan meeting.


Ia meminta asistennya untuk memasangkan tiket kembali pulang ke jakarta.


Tujuan utamanya saat ini adalah rumah sakit, dengan wajah cemasnya ia berlari mencari keberadaan sang istri.


"Kia."


Srekkk


Tanpa ba bi Bu, Elan memeluk tubuh Kia yang duduk di depan ruang penanganan Rendi.


Ya, Rendi sudah di pindahkan dan sekarang ada Nadin yang di dalam sedangkan Aisyah tengah menunggu Alex di ruangannya, karena Alex juga terluka cukup parah meskipun tidak separah Rendi.


"Elan." air mata Kia yang baru saja kering kembali tempat saat menemukan dada untuk bersandar.


"Kamu yang tenang ya." Elan tidak bertanya, karena dia tahu saat ini istrinya tengah mengalami trauma. Cukup baginya memberikan dadanya untuk bersandar.


"Aku takut Lan, aku tidak tahu orang seperti apa mereka, tega sekali menyakiti orang lain seperti itu. Ayah Rendi, ayah Rendi sampai terluka." Kia terus saja bicara sambil menangis hingga dua orang polisi datang menghampiri mereka.


"Permisi!"


Sapaan dari polisi itu mengehentikan tangis Kia, ia menoleh pada dua polisi itu tanpa berniat melepaskan pelukannya pada Elan.


"Kami dari kepolisian, kami meminta keterangan dari saksi, nona Kiandra."


"Maaf pak, bisa saksi nya di ganti? Istri saya masih terlalu syok. Atau jika keadaannya sudah lebih baik, saya yang akan mengantar sendiri ke kantor polisi untuk memberi keterangan."


"Baik pak, saya mohon kerja samanya!"


Elan hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu kami permisi. Selamat malam."


"Malam."


Setelah para polisi itu pergi, Elan pun mengajak Kia untuk menginap di salah satu hotel terdekat dari rumah sakit.

__ADS_1


"Mandilah!" pinta Elan, "Aku sudah meminta pelayan untuk menyiapkan baju ganti."


"Aku takut." Kia bahkan tidak sedetikpun melepas genggaman tangan Elan.


"Apa boleh aku temani?" tanya Elan ragu, pasalnya mereka bahkan belum pernah melakukan hubungan suami istri.


Kia mengangukkan kepalanya, peskipun terasa canggung akhirnya Elan pun menemani kia ke kamar mandi, membantu Kia melepaskan pakaiannya satu per satu.


Dadanya terus berdesis dan darahnya seolah bergejolak, tubuhnya terasa panas tapi ia tengah berusaha keras untuk melawan itu semua, ia tidak akan memanfaatkan keadaan ini untuk bisa menyentuh istrinya.


Hingga akhirnya Elan kembali membalut tubuh polos Kia dengan handuk kering dan membopongnya ke kamar, mendudukkannya di atas tempat tidur,


"Biar aku keringkan ya rambutnya?"


Sekali lagi Kia hanya mengangukkan kepalanya. Ini untuk pertama kalinya bahkan Elan bisa melihat rambut panjang Kia dalam keadaan basah, bahkan ini lebih dari cukup untuk membangunkan hasrat kelelakiannya.


Sytttttt, tahan Elan ..., berkali-kali Elan menggerutu pada dirinya sendiri.


Setelah memastikan rambut Kia kering, Elan membantu menidurkannya.


"Aku tidak akan pergi."


Elan mengusap puncak kepala Kia hingga Kia tertidur, tapi wanita itu sama sekali tidak berniat melepaskan genggaman tangan Elan.


***


Brakkkkk


Seorang pria dengan tato penuh di lengannya tengah menatap kesal pada semua anak buahnya, bahkan ruangan itu sudah sangat berantakan karena ulahnya.


"Bagaimana bisa gagal, padahal sudah di perhitungkan dengan matang."


"Itu karena_, karena_!" ucap salah satu dari anak buahnya itu.


"Saya tidak suka alasan yang tidak masuk akal." teriaknya.


"Itu karena kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa." ucap pria berjas rapi yang baru masuk.

__ADS_1


"Kamu?" pria bertato itu tampak terkejut dengan kedatangan pria itu.


"Keluar kalian!" perintah pria berjas hitam itu.


Hingga kini menyisakan mereka berdua di dalam ruangan itu.


"Kamu pikir sepuluh rusa bisa mengalahkan dua singa sekaligus!? Kamu tengah bermimpi."


"Maksudnya? Aku sudah memastikan jika si Ajun tidak persamannya."


"Ajun hanya anak singa yang kemampuannya tidak seberapa."


"Maksudnya?"


"Kamu ingat Alex?"


"Alex?"


"Iya, Alex. Mantan gembong mafia terbesar se-Asia tenggara, bahkan ia pernah menguasai pasar Eropa."


"Bukankah dia sudah lama menghilang?"


"Kamu salah, kamu sudah membangunkan singa lapar yang tengah tertidur."


"Saya tidak mengerti, apa maksudnya?"


"Alex adalah besan Rendi, dan wanita yang hampir dilukai oleh anak buahmu adalah putri Kevin Alexander."


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2