
"Srekkkk!"
Bukannya berteriak, Elan malah mendorong tubuh Alex hingga membuat pria itu terkejut dan terhuyung, hampir saja terjatuh ke tanah.
Tapi dengan cepat ia bisa mengendalikan tubuhnya. Saat ia menoleh ke belakang, betapa ia terkejut saat mendapati Elan yang terjatuh ke tanah dengan perut yang berlumuran darah dan pisau yang menancap di sana.
Melihat sasarannya salah, para pria berotot itu segera meninggalkan mereka.
"Kamu!?" Alex dengan cepat menghampiri Elan.
"Bodoh, kenapa kamu lakukan semua ini?"
Alex segera ikut jongkok dan menahan tubuh Elan, ia segera melepas kemejanya,
"Tahan sebentar ya!" ucap Alex yang hendak mencabut pisau itu, dan dengan hati-hati ia mulai mencabutnya.
"Aaaahhhhhjj!" teriak Elan.
"Tahan ya kita ke rumah sakit!" ucap Alex sambil membalurkan kemejanya ke perut Elan. Tapi tangan Alex segera terhenti saat melihat tag nama di seragam Elan.
"E_ lan,!?" Alex begitu terkejut hingga ia terpaku, ia menatap wajah Elan yang tengah kesakitan, tangan Elan menggengam erat lengan Alex.
"Kamu Elan?" tanya Alex tidak percaya.
Elan pun mengangukkan kepalanya dan seketika tubuh Alex lemas.
"Elan, kamu benar Elan?" tanya Alex lagi tapi kali ini ia tidak butuh jawaban, ia langsung memeluk tubuh lebar Elan.
"Elan!?" matanya mulai berair, tapi segera ia melepaskan pelukannya saat teringat dengan luka yang di alami Elan.
"Sabar ya, tahan. Daddy akan membawamu ke rumah sakit, tahan ya!"
Dengan hanya sekali hentkn, tubuh Elan sudah berada di dalam gendongan Alex.
Ia membawa Elan ke mobilnya, beruntung yang rusak hanya kacanya hingga ia bisa membaw Arlan ke rumah sakit dengan mobilnya.
"Tahan ya, jangan tidur. Kita akan segera sampai di rumah sakit, pokoknya Daddy bilang jangan tidur!" ucap Elan sepanjang perjalanan ke rumah sakit. Ia terus mengingatkan Elan agar tidak tidur, terus mengajaknya bicara.
__ADS_1
Hingga akhirnya mereka sampai juga di sebuah rumah sakit terdekat dari lokasi,
Alex kembali.menboponh tubuh Elan
Ia berlari dan berteriak-teriak memanggil dokter dan perawat,
"Dok cepetan dok, anak saya, dok tolong dia dok!" teriak Alex sambil berlari memasuki rumah sakit dengan membopong tubuh Elan yang sudah mulai lemas karena kehilangan banyak darah.
Dan akhirnya perawat datang dengan ranjang dorongnya,
"Tolong tunggu di luar pak!" pinta perawat saat Elan hendak di masukkan ke dalam ruang UGD.
"Selamatkan dia dok, dia putra saya!" ucap Alex.
"Iya pak, kami akan berusaha sebaik mungkin pak!"
Akhirnya ruangan itu tertutup meninggalkan Alex yang sendiri di luar ruangan dengan kaos dan tangan yang bersimbah darah,
"Ya Allah, dia Elan ku. Kenapa selama ini aku tidak menyadarinya, ya Allah!"
"Ya Allah tolong selamatkan dia ya Allah, kembalikan dia padaku,!"
***
Di tempat lain, terlihat Nadin juga tengah mondar-mandir di depan pintu. Meskipun sang putra sudah ijin untuk pulang terlambat, tapi ini sudah sangat terlambat dan ponselnya juga tidak bisa di hubungi.
"Sayang, ngapain masih di luar?" tanya Rendi yang baru saja pulang.
Nadin pikir tadi putranya akan kembali sebelum suaminya pulang, tapi ternyata hingga suaminya pulang pun putranya belum kembali.
"Elan, mas!"
"Elan kenapa? Bikin ulah lagi?" tanya Rendi dnagn wajah dinginnya.
"Elan belum pulang!"
Rendi mengerutkan keningnya, kemudian ia melihat jam tangannya sudah jam dua belas malam dan ini di luar kebiasaan putranya, meskipun bandel ia tidak pernah pulang lebih dari jam sepuluh malam kalau tidak memang sengaja menginap di rumah temannya itu pun selalu ijin.
__ADS_1
"Jangan cemas, aku akan meminta Ajun untuk mencari Elan! Masuklah, di luar sangat dingin!"
Rendi pun akhrinya mengajak Nadin masuk ke dalam rumah.
Setelah mengantar sang istri masuk ke dalam kamar, Rendi pun segera menghubungi Ajun dan memintanya untuk mencari keberadaan Elan.
Setengah jam setelahnya, Ajun kembali menghubungi Rendi.
"Kami hanya menemukan motor Elan, pak!"
"Kirim lokasinya, aku akan ke sana!" ucap Rendi.
"Baik!"
Rendi pun segera mematikan sambungan telponnya. Setelah mendapat pesan dari Ajun, ia segera memakai jaketnya.
Melihat sang suami yang hendak keluar lagi, Nadin pun segera mendekati,
"Gimana mas, Elan sudah ketemu?"
"Sudah, aku jemput dulu Elan nya!"
"Aku ikut!"
"Nggak perlu, nanti aku bawa Elan pulang. Jangan khawatir, tidurlah!"
"Tapi_!"
"Tidurlah!"
Nadin tidak berani membantah lagi, meskipun ia begitu mengkhawatirkan putrinya tapi ia juga percaya pada suaminya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
Happy reading 🥰🥰🥰