Elan Untuk Kiandra

Elan Untuk Kiandra
Bab 75


__ADS_3

Setelah selesai memberi keterangan, akhirnya Elan memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.


Kedatanganya langsung di sambut oleh kia.


"Kenapa sampai malam?" tanya Kia sambil memeluk sang suami. "Semua baik-baik saja kan?" tanyanya lagi.


"Lebih dari baik," ucap Elan mantap.


"Maksudnya?"


"Semua penjahat itu sudah tertangkap."


"Alhamdulillah," Kia begitu lega, ia sampaiengayipkan kedua tangannya di wajah dengan penuh rasa syukur.


"Oh iya Lan, ayah nunguiin kamu sejak siang."


"Ayah sudah sadar?" tanya Elan, ia teringat terakhir kali melihat keadaan sang ayah yang masih belum sadarkan diri.


"Sudah."


"Baiklah, aku temui ayah dulu ya. Mau temani aku?" tanya Elan dan Kia menggelengkan kepalanya,


"Aku ke kamar papa dulu ya, nggak pa pa kan?" sebenarnya bukannya tidak mau menemani sang suami, Kia sengaja memberi kesempatan pada suaminya untuk berdua saja dengan sang ayah. Agar suasana yang tidak enak selama ini segera tergantikan dengan sesuatu yang lebih indah.


"Baiklah, tidak pa pa,"


Akhrinya Elan pun masuk sendiri ke kamar ayahnya. Bundanya yang sebelumnya di dalam, melihat kedatangan sang putra dengan cepat berpamitan untuk keluar.


"Kebetulan bunda pengen minum kopi, bunda cari kopi bentar nggak pa pa ya?" ucap bufna Nadin pada Elan.


"Nggak pa pa bunda, biar Elan yang jaga ayah."


"Kamu mau nitip sekalian?"


"Nggak perlu Bun."

__ADS_1


"Baiklah."


Akhirnya Nadin pun meninggalkan ayah dan anak itu sendiri.


Elan tampak canggung saat berjalan mendekati sang ayah begitu juga dengan Rendi yang tengah menunggu sang anak.


"Bagaimana keadaan ayah?" tanya Elan kemudian setelah duduk di bangku kecil yang tadi menjadi tempat duduk bundanya.


"Ayah baik. Ayah dengar hari ini kamu_,"


"Semua baik-baik saja, yah. Jangan pikirkan itu." dengan cepat Elan menyahutnya. Ia tahu jika ayahnya khawatir.


Ia sekarang tahu apa alasan ayahnya begitu keras padanya, bukan karena ayah tidak sayang padanya tapi karena memang ada hal yang membuat sang ayah harus menjadikan dia seperti itu.


Flashback on


"Anda siapa? Apa hubungan anda dengan ayah saya?" tanya Elan pada pria yang sore ini mampu ia bekuk di markasnya.


Pria yang seumuran dengan ayahnya, dia masih tampak begitu tenang.


Sengaja Elan meminta waktu, karena ia ingin tahu apa motif pria itu menjatuhkan ayahnya sedangkan dia bukanlah orang sembarangan. Usahanya bahkan jauh dari usaha milik sang ayah jadi tidak mungkin jika pria itu melakukannya karena persaingan bisnis semata.


"Oh jadi kamu putranya yang begitu di banggakan itu?"


"Kenapa anda mengatakan seperti itu?"


"Chhhh, dia ternyata berhasil. Dia sudah membuktikannya."


"Maksud anda apa?"


"Dia itu terlalu naif, dia rela memutuskan hubungan kerja samanya denganku hanya untuk menjadikanmu anak yang mandiri."


Setelah Elan selidiki lagi, memang benar. Mereka berdua dulunya mempunyai hubungan yang baik. Tapi karena ingin fokus memperhatikan perkembangan dirinya, sang ayah rela memutuskan hubungan bisnis dan pindah ke luar negri.


Flashback off

__ADS_1


Itulah alasan kenapa Rendi bahkan tidak membiarkan Elan begitu santai di masa mudanya, membiarkan Elan tumbuh seperti selayaknya anak-anak lain seumurannya.


Jika di ingat lagi, sebenarnya penusukan yang terjadi pada alex waktu itu sebelum akhirnya ayah Rendi membawanya ke luar negri sedikit banyak juga ada hubungannya dengan pria yang menyerang Rendi juga.


Banyak sekali ancaman dan dunia memang tidak semudah seperti yang di lihat apalagi Rendi bukanlah orang sembarangan.


Banyak orang baik dan banyak juga musuh yang mengintai setiap saat.


"Maafkan ayah ya," ucap Rendi untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya. Kata-kata yang sebenarnya sudah begitu lama di tunggu oleh Elan terucap dari bibir sang ayah.


Elan sampai menitikkan buliran bening itu, tapi dengan cepat Elan menghapusnya,


"Elan yang minta maaf sama ayah, Elan yang tidak mengerti tujuan ayah. Terimakasih,"


"Untuk apa?"


"Terimakasih karena telah membuat Elan berbeda."


Ia tidak bisa.membayangkan kalau dia tumbuh menjadi anak yang biasa saja, yang sama seperti Damar dan Rehan. Dia pasti tidak akan bisa melindungi keluarganya.


Bukanya ingin meremehkan dua sahabatnya, tapi semua orang punya porsinya masing-masing. Dan itu porsi Rehan juga Damar, mereka tidak perlu kuat untuk melindungi diri mereka dan keluarganya, mereka hanya perlu menjadi dirinya sendiri dengan segala kelebihan masing-masing.


"Boleh ayah peluk sekarang?" tanya Rendi dan dengan cepat Elan berdiri serta membukukkan badannya memeluk sang ayah.


"Terimakasih sudah menjadi anak hebat ayah." ucap Rendi sambil mengusap punggung Elan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2