Elan Untuk Kiandra

Elan Untuk Kiandra
Bab 23


__ADS_3

"Hmmmm!?" suara berat itu seketika membuat bulu kuduk Damar berdiri, seakan langkahnya menjadi sangat berat untuk melanjutkan langkahnya.


"Ya elah Mar, lama bener jalannya, kayak siput aja!" tanpa rasa bersalah Elan terus menarik tangan Damar yang dingin.


"Tangan Lo dingin amet Mar, Lo sakit ya?" tanya Elan lagi sambil menempelkan punggung telapak tangannya di kening Damar.


"Lo bilang bokap Lo nggak ada, itu!?" bisik Damar sambil memainkan ekor matanya menunjuk ke arah Rendi yang tengah duduk santai di sofa.


"Tadi kan gue bilang mungkin!?" ucap Elan dengan santainya


Kali ini tidak ada pilihan lain bagi Damar selain menyapa Rendi,


"Sore om!" sapanya, sudah kepalang tanggung untuk balik badan. Dari pada kena pukul mending menghadapi meski harus mati berdiri.


"Sore!" jawab Rendi sepeti biasa dengan nada dinginnya.


"Kayaknya AC Lo terlalu dingin Lan!" bisik Damar.


"Mau di panasin?" tanya Elan becanda.


"Jangan dong!" ucap Damar yang masih tetap setia di belakang Elan.


"Kenapa Sampek sore?" tanya Rendi saat mereka sudah berada di dekat Rendi.


Mati beneran Lo Mar ...., batin Damar sudah mulai panik. Ia tahu ini hanya akal-akal an sahabatnya mengajaknya mampir agar tidak kena marah ayahnya.


"Gara-gara Damar nih yah!" ucap Elan dengan entengnya membuat Damar seketika mengerutkan keningnya menghadap Elan dengan tatapan protes.


Seketika Rendi menatap Damar masih dengan tatapan yang sama,


"Iya om, ini gara-gara saya!" ucap Damar ragu-ragu, ia bahkan tidak tahu harus beralasan apa sekarang gara-gara ulah sahabatnya itu.


Tapi dengan jawaban Damar yang hanya sepotong itu membuat Rendi masih menunggu jawabannya selanjutnya.


"Gara-gara motor saya om, motor saya bannya tiba-tiba bocor di jalan!" ucap Damar lagi dan akhirnya Rendi beralih menatap Elan,


"Kenapa tidak bareng dengan Keysa?" tanyanya kemudian.


"Tadi sih sebenarnya rencananya mau bareng yah!"


"Rencananya?" tanya Rendi lagi dan Elan pun segera mendekati ayahnya dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Jadi gini yah, rencananya memang pengen, pengen banget bareng Key, tapi kan key masih ada kelas musik Kasihan kalau harus ikut pulang Elan, jadi dengan berat hati Elan mampir di tempat Damar sekalian minta Damar buat nganterin pulang, kan ayah tahu uang saku Elan nggak cukup buat sewa taksi!"


Bisa aja nih Elan ..., Damar hanya bisa terus membantin dan menggelengkan kepalanya beberapa kali mendengarkan percakapan ayah dan anak itu.


"Masss, anak pulang bukan di suruh cepet masuk terus makan kok malah di ajak debat sih!?" beruntung Nadin keluar tepat waktu, membuat Elan lega.


"Nah tuh yah, dengerin bunda. Bunda memang yang paling bener yah." ucap Elan sambil berdiri dari duduknya, ia kembali menghampiri Damar, "Ayo Mar ke kamar gue!" ucapnya kemudian.


Tidak lupa ia menghampiri sang bunda dan mencium pipinya,


"Makasih Bun!" bisiknya kemudian berlalu, Nadin hanya tersenyum dengan kelakuan putranya itu.


"Kapan anak itu bisa dewasa kalau kamu terus memanjakannya!?" keluh Rendi setelah Elan dan Damar masuk ke dalam kamar.


"Siapa sih mas yang memanjakan, Nadin hanya melakukan yang harus Nadin lakukan. Nggak lebih dan nggak kurang tentunya, sesuai porsinya!?" ucap Nadin dengan nada cerewetnya.


Kenapa jadi dia yang galak ...., Rendi hanya bisa menelan Salivanya sambil menatap sang istri.


"Kenapa mas? Mau marah sama Nadin?"


"Enggak!" Rendi segera berdiri dari tempatnya, "Kayaknya tadi ada yang belum selesai aku kerjakan, aku ke ruang kerja dulu. Nanti kalau aku. kembali suruh nyusul ke belakang!" ucap Rendi dan langsung kabur, lebih baik menghindar dari pada ribut dengan sang istri.


"Bisa aja Lo Lan ngelesnya!"


"Makanya blajar sama raja ngeles jangan blajarnya cuma fisika mulu, bisa-bisa ntar otak Lo kayak hukum Newton!"


"Emang kenapa hukum Newton?"


"Mentok!"


"Kok mentok?"


"Gimana nggak mentok, tembok nggak salah pakek di dorong!"


"Kenapa nggak kepikiran ya!?"


"Dari dulu emang Lo nggak pernah mikir sih!" ucap Elan merasa menang. "Udah ah gue mandi dulu, Lo mau ngapain aja di kamar ini terserah asal jangan Sampek ke kamar sebelah!" ucap Elan lagi sambil berjalan dari tempatnya dan menyambat sebuah handuk.


"Emang sebelah kamar siapa?" tanya Damar penasaran.


"Mau gue matiin Lo!" ancam Elan membuat Damar mengkerut,

__ADS_1


"Ya elah, sadis bener sih Lo!"


"Makanya jangan macam-macam,"


Elan pun akhirnya benar-benar masuk ke kamar mandi dan Damar pun benar tidak berani berpikir untuk ke kamar sebelah, ia sudah bisa menduga kamar siapa yang ada di sebelah, itu pasti kamar Keysa. Elan sangat posesif dengan adiknya, meski tanpa sepengetahuan adiknya jika sampai ada yang mendekati sang adik maka akan langsung berurusan dengan Elan.


Selesai mandi, Elan mengajak Damar untuk makan. Beruntung meja makan sudah sepi.


"Ayah sama si brokoli kemana bund?" tanya Elan sambil mulai menyantap makanannya.


"Ohhh tadi ayah tiba-tiba ada kerjaan, kalau Keysa kayaknya ketiduran, biar nanti bunda bangunin kalau sudah mau magrib aja!" ucap Nadin menjelaskan,


"Oh iya Damar, nanti menginap di sini aja!"


"Makasih bund, lain kali aja!"


"Kenapa? Besok kan hari libur, padahal bunda mau minta tolong kalau bisa!"


"Kenapa sama Damar, Elan kan juga bisa?" protes Elan.


"Maksud bunda sama Elan juga!"


"Kalau begitu nggak pa pa bund, Damar tidak keberatan. Mau minta bantuan apa?" tanya Damar, beruntung ia sudah memakai baju Elan jadi tidak pakai seragam lagi.


"Kebetulan bunda tadi ada kiriman kue dari mommy Ara, mau bunda kirim ke Tante Dini yang sebagian, kebetulan om Ajun kan juga sibuk, nggak enak nitip dia!"


"Elan mau bund!" ucap Elan dengan begitu bersemangat.


"Ya Allah, semangatnya anaknya bunda! Tapi awas ya pulangnya nggak boleh lewat jam sembilan malam,"


"Siap bund!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2