Elan Untuk Kiandra

Elan Untuk Kiandra
Bab 73


__ADS_3

Elan benar-benar tidak meninggalkan Kia sekalipun hingga pagi hari.


Setelah sholat subuh, keadaan Kia sudah terlihat lebih baik. Seperti biasa setelah sholat subuh, Lena selalu mencium kening Kia dan mengusap pipinya,


"Bagaimana Ki, apa sudah siap memberi keterangan sama polisi?Kalah belum siap nggak pa pa, aku akan kasih tahu polisinya!" ucap Elan yang memang tidak ingin memaksa sang istri.


Kia pun mengangukkan kepalanya mantap, "Insyaallah siap, Lan! Temani aku ya." ucap Kia dan Elan pun tersenyum sambil mengangukkan kepalanya.


"Pasti! Ya sudah, aku hubungi bunda dulu, biar bunda tetap di rumah sakit sampai kita datang." ucap Elan.


"Iya!"


Elan pun segera berdiri dan keluar dari kamar hotel. Bukan kenapa-kenapa, sengaja ia memastikan bundanya agar tetap di rumah sakit supaya aman. Pasalnya Elan sengaja meminta anak buat ayahnya untuk berjaga di rumah sakit, takutnya akan terjadi penyerangan di rumah sakit atau mengintai bundanya juga. Saat ini ia tidak bisa melindungi budnanya sedangkan Ajun masih belum kembali dari luar kota, ia harus menjaga Kia juga.


Di saat seperti ini, tidak ada yang bisa ia andalkan, karena papanya Kia juga tengah di rawat di rumah sakit selain anak buah kepercayaan Elan sendiri, pasalnya ia juga baru tahu dari sang istri jika salah satu karyawan ayahnya ikut terlibat.


"Tidak biasanya ayah ceroboh seperti ini." gumamnya sambil menggengam ponselnya yang baru saja selesai ia gunakan untuk menghubungi bundanya.


Ia kenal siapa ayahnya, sangat sulit mengelabuhi ayahnya, dia begitu cermat dalam memilih orang.


"Lalu siapa yang di maksud Kia?" batinnya lagi bertanya-tanya.


"Mungkin setelah dari kantor polisi, aku bisa ke kantor papa untuk menyelidikinya!" gumamnya lagi dan segera berjalan kembali masuk ke dalam kamar, tidak lupa ia juga memesankan baju ganti untuk Kia.


Jam 08.00


Mobil yang di kemudikan oleh Elan sudah terparkir di halaman kantor polisi.


"Kayaknya masih pada apel, nggak pa pa ya nunggu bentar!" ucap Elan saat melihat dari kejauhan para polisi tengah berkumpul di lapangan dengan sikap baris berbarisnya.


"Iya, tapi aku haus."


Elan pun memperhatikan dasboard mobil tapi tidak menemukan apapun di sana,


"Baiklah, tunggu sebentar ya. Di sebelah aku lihat ada nimimarket. Aku belikan minum dulu ya!"


"Hmmm!" Kia pun mengangukkan kepalanya.


"Mana ponsel kamu?" tanya Elan sebelum turun membuat Kia mengerutkan keningnya sambil mengeluarkan benda pipih itu.


"Buat apa?" tanya Kia kemudian.

__ADS_1


Elan pun mengambil ponsel Kia dan melakukan panggilan, dan ternyata ia tujukan pada nomornya sendiri. Segera ia mengangkatnya.


"Jangan matikan telpon sampai aku kembali, mengerti!"


"Buat apa?"


"Lakukan saja, teriak jika ada sesuatu!"


"Hmmm!" Kia mengangukkan kepalanya, sekarang Kia mengerti apa maksud dari Elan.


Akhrinya Elan pun benar-benar turun, ia menempelkan aerophone ke telinganya dengan telpon yang masih tetap tersambung dengan Kia agar ia bisa mendengar apapun yang terjadi pada Kia.


Sepeninggal Elan, Kia pun mengamati tempat apel para polisi, satu per satu polisi mulai meninggalkan lapangan setelah di bubarkan.


Hingga tatapannya terpaku pada seorang wanita yang baru saja keluar dari kantor polisi, seorang wanita dengan pakaian kerja. Jas warna abu-abu dan celana panjang senada dengan jasnya, sedangkan kemeja berwarna putih dengan rambut panjang sebahu. Sebuah syal melingkar di lehernya,


"Kayaknya aku pernah lihat wanita itu." gumam Kia yang tengah berusaha keras memikirkan wanita yang baru saja masuk ke dalam mobilnya.


"Mobil itu, iya!!!! Itu mobil yang sama!"


Ternyata Elan mendengar apa yang di katakan oleh Kia, ia segera berlari menghampiri Kia setelah mendapatkan minuman.


"Tadi lihat siapa?" tanya Elan sambil ngos-ngosan karena berlari, meskipun begitu tangannya tampak sibuk membuka segel botol minum yang kemudian ia serahkan pada Kia.


"Wanita tadi, itu wanita yang sama yang aku lihat di toilet kantor ayah. Mobilnya juga sama." ucap Kia yakin.


"Kamu yakin?"


"Iya, dia bahkan memakai syal yang sama. Sepertinya syal itu untuk menutupi sesuatu deh!"


"Baiklah, aku mengerti!"


Elan pun tidak lanjut bertanya pada Kia, ia pun langsung menghubungi seseorang.


"Hallo Lan, ada apa?" tanya seseorang di seberang sana.


"Rehan sama Lo nggak?" tanya Elan kemudian, pria yang tengah ia hubungi adalah Damar.


"Kenapa nggak telpon dia sendiri aja? Dia belum datang soalnya."


"Nomornya nggak aktif. Ntar kalau sudah datang, suruh datang ke kantor bokap gue ya."

__ADS_1


"Buat apa?"


"Suruh periksa semua cctv yang ada di depan toilet."


"Mau nyadap toilet Lo ya!"


"Bawel Lo ah, bilang aja gitu."


Elan langsung mematikan sambungan telponnya secara sepihak.


"Beres, kita masuk sekarang?" tanyanya sambil menyakukan kembali ponselnya.


"Baiklah!"


Akhirnya mereka pun turun dari mobil dan menghadap polisi yang tengah menangani kasus pengeroyokan yang terjadi pada ayahnya.


"Maaf pak, apa ada dari mereka yang tertangkap?" tanya Elan setelah Kia selesai memberi keterangan.


"Iya, ada empat orang yang berhasil kamu tangkap."


"Apa ada yang menjenguknya salah satu dari mereka tadi?"


Polisi itu tampak berpikir, kemudian ia bertanya pada petugas jaga.


"Iya pak, tadi sebelum apel di mulai. Ada seorang wanita yang mengaku sebagai keluarga dari salah satu terduga tersangka!"


"Baiklah terimakasih!"


Pak polisi itu pun kembali meninggalkan mereka.


"Sepertinya memang baru satu yang menjenguk mereka!" ucap polisi itu lagi.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2