Elan Untuk Kiandra

Elan Untuk Kiandra
Bab 67


__ADS_3

Kia tersenyum sambil berjalan sambil terus tersenyum dengan kelakuan ayah mertuanya. Sesekali ia menggelengkan kepalanya Tidka percaya ternyata sisi lain dari pria yang dingin itu ternyata lebih hangat dari pria yang hangat sekalipun.


Mungkin begitu juga dengan Elan, meskipun tidak sehangat dulu, tapi pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu juga tidak begitu dingin.


Langkah Kia terpaksa terhenti saat merasakan kantong kemihnya yang penuh, ia pun memutuskan untuk mencari toilet sebelum memesan taksi.


Beruntung ia bertemu dengan cleaning servis saat mencari keberadaan toilet,


Setelah mengetahui posisi toilet, Kia pun bergegas ke toilet, ia benar-benar tidak sabar.


Toilet terlihat sepi, mungkin karena jam makan siang jadi banyak karyawan yang memilih untuk pergi makan siang keluar, Kia segera masuk ke salah satu bilik dan mengeluarkan isi kantong kemihnya yang penuh.


Kia sudah selesai dan bersiap untuk keluar dari biliknya, tapi. ia mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru masuk ke dalam toilet dengan mengunci dari dalam pintu akses masuk toilet membuat Kia mengurungkan niatnya untuk membuka biliknya.


Terdengar wanita itu tengah menerima sebuah panggilan,


"Maaf tadi lagi ada di ruangan!"


"....!"


"Jangan sekarang, sekarang masih ada dokter Frans, ada kemungkinan dokter Frans akan ikut dengannya!"


"...."


"Lebih baik besok saja, besok pak Rendi akan pergi ke lokasi proyek yang ada di daerah B, tempatnya cukup strategis untuk melakukan penyerangan, kebetulan pak Ajun sedang keluar kota jadi pak Rendi akan pergi sendiri!"


"...!"


"Iya saya yakin. Baiklah saya tutup dulu telponnya, takut jika sampai ada yang mendengar!"


Wanita itu segera mematikan sambungan telponnya dan meninggalkan toilet.


Setelah memastikan wanita itu benar-benar pergi, akhirnya Kia pun keluar dari dalam biliknya.


"Astaghfirullah hal azim, ada yang mau menyakiti ayah Rendi. Tapi siapa?" gumam Kia. Ia tidak sempat melihat wanita itu.


"Kalau aku langsung ngomong sama ayah Rendi, apa dia akan percaya sama Kia?"


Kia menatap pantulan dirinya di dalam cermin sambil memikirkan cara yang mungkin bisa ia lakukan untuk menolong ayah mertuanya.

__ADS_1


"Elan!" Kia pun hampir mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sang suami yang berada di luar kota,


"Eh tidak deh, bagaimana kalau Elan cemas? Atau malah Elan tidak peduli, kan hubungan mereka sedang tidak baik!"


Kia pun memilih untuk memikirkan cara lain,


"Gimana kalau dokter Frans, kan dia sahabatnya ayah Rendi!?"


"Tapi kan aku nggak punya nomor atau alamatnya!"


Hehhhh ....


Kia benar-benar kehilangan akal, ia sudah terlanjur cemas dengan apa yang akan terjadi dengan ayah mertuanya.


Hingga tiba-tiba ia kepikiran dengan papanya,


"Kenapa nggak papa aja ya, papa kan juga jago! Anak buah papa juga banyak!"


Setelah merasa mendapatkan ide bagus, Kia pun segera meninggalkan kantor Rendi dengan memesan taksi online dan menuju ke kantor papanya.


Kedatangan Kia ke kantor adalah hal yang tidak bisa hingga membuat pria bertato itu menatap putrinya dengan penuh heran,


"Papa kok gitu sih, Kia ke sini bukannya di sambut hangat malah curiga!"


"Astaghfirullah hal azim, Kia. Papa cuma khawatir! Elan g


tidak melakukan sesuatu yang _!"


"Apaan sih pa, nggak gitu!"


"Trus?"


"Ini soal ayah Rendi!"


Alex pun mengeryitkan keningnya, ia menunggu hingga kau bercerita.


Kia pun menceritakan apapun yang kita dengar tadi di toilet.


"Jadi?" tanya Alex setalah kia bercerita.

__ADS_1


"Jadi, bisa kan papa bantu ayah Rendi? Ayah Rendi orangnya gengsian pa, takutnya kalau Kia ngomong langsung nanti malah nggak suka!"


***


Kia menatap ponselnya sedari pulang dari kantor papanya, ia menunguunh telpon dari seseorang. Hingga suara deringan ponsel itu membuatnya bergegas melihat kembali ponselnya.


"Hallo, assalamualaikum!" sapa Kia dengan cepat setelah telpon tersambung dan menampakan. wajah seseorang yang ia rindukan di sana.


"Waalaikum salam, cepet sekali angkatnya. Sudah kangen banget ya?"


"Apaan sih enggak!" jawab Kia sambil menutupi wajahnya yang merona merah dengan bantal. "Tapi cuma kebetulan aja pegang hape!"


"Ya udah, kalau gitu aku tutup lagi deh!"


"Eh jangan dong!" ucap Kia dengan cepat membuat Elan tertawa.


"Apaan sih, sengaja ya goda Kia!?" ucap Kia sambil mengerucutkan bibirnya pura-pura marah.


"Kalau kayak gitu jadi tambah cantik tahu!"


"Ya udah Kia marah aja tiap hari! Puas?!"


"Iya deh maaf, cuma becanda. Aku juga kangen sama kamu!" ucap Elan kemudian membuat Kia tidak mampu menahan senyumnya.


Mereka pun akhirnya telponan hingga Kia tertidur,


"Selamat malam Kia sayang, selamat mimpi indah, aku mencintaimu. Assalamualaikum!" ucap Elan sebelum mematikan sambungan telponnya meskipun tidak akan mendapat jawaban namun Elan suka mengatakannya.


Sepanjang percakapannya dengan Elan, Kia benar-benar tidak mengatakan satu hal pun tentang ayah Rendi dan orang yang tengah merencanakan penyerangan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2