Elan Untuk Kiandra

Elan Untuk Kiandra
Bab 46


__ADS_3

Elan begitu marah saat tahu jika ia sengaja di pindahkan ke Singapure tanpa sepengetahuannya.


"Ayah egois tahu!" ucapnya sambil memegangi perutnya yang masih terasa nyeri.


"Ayah hanya ingin yang terbaik buat kamu!"


"Bukan buat Elan, tapi buat ayah sendiri,"


"Kamu tidak perlu khawatir karena Keysa juga akan ikut denganmu," ucap Rendi sengaja mengalihkan perkataan Elan.


"Kenapa hanya Keysa? Kenap tidak ayah dan bunda juga?"


"Ayah masih banyak pekerjaan. Ayah sengaja mengirim kalian ke sini agar bisa menemani kakek!"


"Ayah keterlaluan!" Elan memilih memalingkan wajahnya kesal.


Meskipun ia ingin, tapi tetap saja ia tidak bisa kembali sekarang ke Indonesia.


Elan akan buktikan sama ayah kalau Elan bisa berdiri sendiri meskipun tanpa ayah ...


Akhirnya setelah satu Minggu di rawat di rumah sakit, Elan boleh pulang.


Ia harus pulang ke tempat barunya, kakeknya juga sudah mendaftarkan dirinya ke sekolah baru meskipun harus mengulang satu tahun lagi.


Ternyata benar, selain dirinya ada Keysa juga.


Rendi sengaja mengirim Keysa juga karena ia tahu jika ternyata Keysa juga dekat dengan putri rivalnya.


***


"Memang mas pikir mudah tinggal jauh dari anak-anak!" keluh Nadin yang tengah duduk termenung di dalam kamar putrinya.


Rendi yang baru datang segera duduk dan menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya,


"Aku hanya ingin yang terbaik buat mereka, tidak ada yang lain!"


"Mas terlalu egois mas!"


"Kenapa kamu dan Elan menuduhku seperti itu?"

__ADS_1


"Memang begitu mas, seandainya saja mas mau sedikit saja berdamai dengan masa lalu, mas, aku dan anak-anak tidak perlu merasakan situasi yang seperti ini!"


"Sudahlah, jangan di besar-besar kan. Di sana juga sama kakeknya, mereka akan baik-baik saja. Kita bisa ke sana satu Minggu sekali kalau kamu mau!"


Rendi pun berdiri dari duduknya dan mengusap bahu sang istri,


"Aku pergi dulu,"


Sengaja Rendi ingin menghindar, sebenarnya ia juga tidak tahan dengan situasi yang seperti itu. Tapi ia terlalu gengsi untuk mengakuinya.


Rendi memilih pergi sendiri dengan mobilnya, Nadin sudah hafal jika suaminya itu pergi sendiri artinya ia tengah ingin sendiri dan menenangkan diri.


Benar saja, Rendi memilih pergi ke danau, melihat hamparan air dapat sedikit menenangkan pikirannya.


"Kenapa lagi?" pertanyaan itu berhasil mengalihkan perhatiannya, ternyata dokter gondong itu tengah berdiri tidak jauh dari tempatnya.


"Sejak kapan di situ?" tanya Rendi dengan dinginnya.


"Ya ampun, Sampek nggak lihat ada orang di sini. Masih kurang besar nih orang!?" keluh dokter Frans. Ia kebetulan ada proyek di sekitar danau hingga ia memilih berhenti sebesar di tepi danau.


Dokter Frans pun ikut duduk di tanah di samping Rendi,


"Memang aku salah? Menurutmu apa aku salah?" tanya Rendi.


"Ya jelas salah!" jawab dokter Frans dengan entengnya.


"Apanya?"


"Nggak ngomong masalahnya, emang gue cenayang yang bisa dengar isi hati Lo!?"


"Issstttt!?" keluh Rendi, ia pun akhirnya menceritakan semuanya pada dokter Frans.


"Kalau gue dengan dari cerita lo, kayaknya emang Lo yang salah!"


"Kok nyalahin saya sih kamu, ketemu kamu bukan malah beres tapi malah tambah pusing!" keluh Rendi sambil berlalu meninggalkan dokter Frans yang menggelengkan kepalanya heran.


"Dasar keras kepala, kapan dewasanya sih jadi orang!" keluh dokter Frans sambil menatap punggung Rendi yang semakin menghilang.


***

__ADS_1


Kiandra menjalani hari-harinya tanpa Elan. Beruntung masih ada Rehan dan Damar yang kini menjadi teman akrab bagi Kiandra, sedikit bisa mengurangi rasa sedihnya.


Perlahan Kiandra bisa kembali menata hidupnya, mengikuti segala macam ujian sebelum kelulusan dan mencari universitas yang ia minati.


"Yakin tetap kuliah di Jakarta?" tanya Damar pada Kiandra saat melihat formulir pendaftaran di tangan Kiandra.


"Iya, kalian juga kan?"


Damar menoleh pada Rehan dan Rehan pun mengangukkan kepalanya,


"Sebenarnya pengen ke luar jakarta, tapi berhubung kamu di sini, kita ikut aja!"


"Jangan gitu dong," ucap kiandra merasa tidak enak.


"Becanda, serius amet!" ucap Rehan sambil tertawa, "Memang kita mau ke mana kalau nggak di Jakarta, ada-ada aja!"


"Ya ke luar negri gitu!"


"Enggak lah, tapi Damar Nggak tahu ya, dia kan anak rantau!"


"Aku mau sekalian mengadu nasib di Jakarta. Jadi bye kampung halaman!"


"Emang Dasar dari mana?" tanya Kiandra yang tidak tahu kalau ternyata Damar anak rantau.


"Dari Semarang!"


"Baru tahu aku!"


Mereka bertiga menjadi begitu akrab, Kiandra sedikit terhibur dengan keberadaan mereka.


Aku masih menunggu kamu Elan ....,


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2