Elan Untuk Kiandra

Elan Untuk Kiandra
Bab 74


__ADS_3

"Kamu ke rumah sakit saja ya!" ucap Elan.


"Kenapa? Kamu mau ke mana?"


"Aku harus ke kantor ayah, ada yang harus aku selidiki!"


"Tapi Lan!"


"Sekali ini saja, nurut ya!"


"Baiklah, aku percaya sama kamu."


Akhirnya Elan menurunkan Kia di rumah sakit, seseorang sudah menyambut kedatangan Kia,


"Mari mbak, saya antar ke ruangan tuan Alex!" ucap pria itu dan Kia pun menoleh pada Elan. Elan mengangukkan kepalanya, ia anak buahnya.


Setelah merasa aman, akhrinya Elan pun meninggalkan Kia di rumah sakit, ia rasa rumah sakit jauh lebih aman karena di sana banyak pengamanan yang sengaja ia sehat untuk melindungi kamar ayah dan papa mertuanya sekaligus bundanya juga.


Setalah kejadian ini, bukan tidak mungkin jika sasarannya bundanya juga. Ia juga mengirim seseorang untuk melindungi Keysa juga.


Sesampai di kantor ayahnya, Elan segera menemui Rehan dan Damar.


"Bagaimana?"


"Sesuai pesanan!" jawab Rehan mantap.


"Aku ingin lihat!"


Akhrinya mereka pun masuk ke ruangan Rendi dan memutar kembali rekaman cctv dimana Kia melihat wanita itu.


"Screenshot bagian wanita itu!" perintah Elan.


"Buat apa?"


"Lakukan aja!"


"Baiklah!"


Setelah di screenshot, Elan mengirimkannya pada Kia dan menanyakan tentang wanita yang ada di foto itu.


"Iya benar, itu wanita yang sama Lan."


"Baiklah,"


Elan menantikan sambungan telponnya secara sepihak.

__ADS_1


"Aku punya tugas buat kalian."


"Apa lagi?"


"Terus ikuti wanita ini."


"Tadi ketemu di luar, dia cantik tahu. Sopan juga." ucap Damar.


"Bagus, tetap terlihat biasa sampai kita bisa menemukan dalangnya." ucap Elan membuat damar dan Rehan menoleh padanya dengan penuh keheranan.


"Maksudnya dalang apa nih?"


"Ini kasih besar bro, jangan becanda." ucap Elan sambil mengeplak kepala dua sahabatnya itu.


"Wisssw, ceritanya kita akan jadi detektif! Kerennnn!"


Setalah mendapat mandat dari Elan, akhrinya mereka pun melakukan tugasnya.


Tepat jam makan siang, wanita yang menjabat sebagai salah satu manager pemasaran itu keluar dari kantor. Seperti yang di perintahkan oleh Elan, mereka berdua pun mengikutinya.


Ternyata dia berhenti di sebuah rumah dengan penjagaan ketat.


"Kita nggak bisa masuk kayak gini!" ucap Damar sambil menatap penampilan mereka.


"Maksudnya?"


"Maksudnya kita pakek baju yang sama kayak mereka?"


"Kita sepemikiran!"


Mereka tertawa bersama, beruntung mereka membawa obat bius.


"Ini gunanya!" ucap Rehan sambil membekap penjaga dnegan sapu tangan yang sudah di semprot obat bius, begitu juga dengan Damar.


Dan mereka pun mengganti pakaiannya dengan pakaian yang di pakai oleh penjaga.


"Tes, satu dua tiga, di coba! Tes Roger! Di sini keadaan mulai aman!" ucap Damar sambil mendekatkan alat yang terhubung dengan Elan itu ke mulutnya.


"Masuk, kami memantau dari luar."


"Siap!"


Akhrinya mereka pun masuk tanpa harus mengendap-endap karena semua penjaga memakai kaca mata hitam.


Hingga akhrinya mereka sampai juga di sebuah ruangan tempat para pemimpin berkumpul, begitu juga dengan wanita itu.

__ADS_1


"Kakak harus membebaskan Dion, bagaimana pun caranya! Satu bulan lagi kamu harus menikah,"


"Kamu itu yang dipikirkan dia saja, jangan sampai karena kebucinanmu itu membuat masalah buat kita."


"Maksud kakak?"


"Sekarang pasti mereka melakukan penyelidikan. Jika kamu lengah begitu saja, kita semua akan hancur. Mengerti!"


"Kakak kan sudah mendapatkan banyak, kakak sudah berhasil menyelundupkan batu bara itu, mengambil alih ekspor minyak. Apa lagi, aku sudah berbuat banyak untuk kakak, aku harus berhadapan dengan pak Rendi setiap hari, was-was jika sewaktu-waktu pak Rendi mencurigai ku dan menemukan kecurangan yang telah aku buat. Tapi kakak tetap saja tidak peduli."


"Siap, kita dapat!" ucap Rehan dengan keras membuat orang-orang itu menoleh ke sumber suara.


"Upsss keceplosan!" ucap Rehan sambil menutup mulutnya rapat-rapat.


"Itu penyusup!" ucap salah satu dari mereka. Tapi baru saja hendak menangkap Rehan dan Damar tiba-tiba anak buah mereka ada yang datang menghampiri.


"Bos, markas kita di serang!" ucap anak buah mereka membuat kepanikan semakin memuncak.


"Sial," umpat salah satu dari mereka, sepertinya ketua dari semuanya.


"Kita harus pergi dari sini." ucap salah satu dari mereka.


Dan akhrinya pasukan yang di bawa Elan Sudja mendekat ke pusat membuat baku hantam senjata tidak bisa di elakkan.


Damar dan Rehan yang tidak punya latar belakang berperang pun akhirnya memilih bersembunyi.


Karena kalah jumlah dan persenjataan, akhirnya mereka pun menyerah tepat saat para polisi datang ikut mengepung.


"Kami sudah dapat buktinya pak!" ucap Elan pada polisi. "Mereka adalah para mafia impor dan penyelundup."


"Termasuk wanita ini?" tanya polisi pada Elan lagi menunjuk pada wanita yang ternyata sudah beberapa tahun ini bekerja di perusahaan ayahnya dan dia menjadi salah satu orang kepercayaan sang ayah.


"Ya,"


"Baik, terimakasih atas kerjasamanya pak Elan."


"Sama-sama!"


"Kami juga dong pak, kami pemecah masalahnya!"ucap Damar dan Rehan yang akhrinya muncul membuat polisi itu tersenyum begitu juga dengan Elan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2