
7 tahun kemudian
Hari yang paling di tunggu oleh Elan, Ia sekarang sudah bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Ia melanjutkan bisnis kakeknya yang sudah semakin berkembang di tangan Elan.
Bukan tanpa alasan ia menunggu hingga sepanjang ini untuk kembali menata hidupnya.
Elan yang sekarang sudah berbeda dari Elan yang tujuh tahun yang lalu, Elan yang ingusan, ugal-ugalan, seenaknya sendiri, seperti sudah tertutup Dnegan sikapnya yang dingin dan ambisius.
Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya, sikap ayahnya plek ketiplek nongol di diri Elan.
"Yakin kamu mau kembali ke Jakarta?" tanya pria tua yang tengah duduk di kursi goyangnya, meskipun begitu banyak keriput di wajahnya dan juga rambutnya yang memutih, masih tampak wibawanya.
"Kakek tidak perlu khawatir, Keysa masih tetap di sini, Keysa yang akan mengurus perusahaan di sini!" jawab pria dua puluh lima tahun itu, rambut halus yang menguasai wajahnya membuatnya terlihat lebih dewasa, tubuhnya juga lebih berisi dengan otot yang menonjol di perut dan lengannya. Tampak sekali kalau dia rajin melatih ototnya.
Beberapa tahun terakhir, Elan baru tahu kalau sebenarnya Keysa bukan menyusulnya karena perintah ayahnya melainkan karena ia tidak ingin Elan merasa sendiri. Ia mengorbankan segalanya demi Abang tercintanya, menemani Elan di saat terberatnya.
"Baiklah, kakek tahu apa tujuanmu kembali ke sana. Jika nanti kamu tidak mendapatkannya, kembalilah ke sini!"
"Elan pasti mendapatkannya!" ucap Elan dengan tegasnya.
Jam delapan waktu setempat.
"Bagaimana, apa sudah siap?" tanya Elan pada seorang pria yang tampak berusia sekitar tiga puluhan, namanya Gama. Dia sekretaris pribadi Elan. Salah satu orang kepercayaan ayahnya yang sengaja oleh ayahnya dikirim khusus untuk mendampingi Elan.
Meskipun ada kemarahan dalam diri Elan terhadap sang ayah yang terpendam, tapi Elan tidak pernah mengungkitnya di depan sang bunda.
"Sudah tuan! Ada pesan dari nona Keysa!" ucap Gama sambil menyerahkan ponselnya.
Elan mengerutkan keningnya, "Kenapa kirim pesan ke kamu?"
"Katanya ponsel tuan tidak bisa di hubungi!"
Elan pun segera merogoh jasnya dan memeriksa ponselnya dan benar saja, ternyata ponselnya mati,
"Baterainya habis, tolong isikan!"
__ADS_1
"Baik tuan!"
Akhirnya Elan menerima ponsel Gama dan membuka pesan dari Keysa.
//Elan, you are my best brother, so cheers up, I'm sure you can. I'm waiting for the good news. I love you, my brother. See you // (Elan, kamu saudara terbaikku, jadi semangat ya, aku yakin kamu bisa. saya tunggu kabar baiknya. aku cinta kamu, saudaraku. sampai jumpa)
Elan tersenyum membaca pesan dari adik perempuannya, saudaranyalah pendukung terbesarnya.
Pesawat yang membawa Elan pun akhirnya terbang juga, hanya butuh waktu beberapa menit akhirnya mendarat di bandar udara internasional yang ada di Jakarta.
Kedatangannya langsung di sambut mobil pribadi lengkap Dnegan sopirnya,
"Nyonya Nadin meminta tuan untuk langsung menemuinya!"
"Baiklah, kita temui bunda dulu!"
"Baik tuan!"
Gama pun segera meminta sopir untuk membawanya ke rumah yang sudah tujuh tahun lalu ditinggalkan dengan paksa oleh Elan.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Elan terus melayang ke beberapa moment di masa lalu bersama orang-orang yang ia kenal, Damar, Rehan, Keysa, om Ajun, bunda Nadin, mommy Ara, kakek Roy, Tante Dini, dan Kiandra.
"Sampai tuan!" ucap Gama sambil melihat pantulan Elan dari cermin kecil di depannya.
Ucapan Gama membuyarkan lamunannya,
"Aku tahu!"
Elan pun segera merapikan jasnya, memakai kaca mata hitamnya dan keluar dari mobil setelah Gama membukakan pintu mobilnya. Sifat sederhana yang dulu di miliki oleh Elan seakan tergerus oleh dinginnya perasaannya saat ini.
"Silahkan tuan!"
Elan pun berjalan perlahan melewati halaman depan rumahnya, semuanya masih sama, bahkan tanamannya juga sama.
Tampak wanita paruh baya tengah berdiri di teras sambil menatapnya dengan tatapan sendu,
__ADS_1
"Elan!" gumamnya pelan sambil menahan rindu yang teramat sangat.
Elan pun mempercepat langkahnya dan menghampiri sang bunda, ia meraih tubuh bundanya kedalam pelukan,
"Bagaimana kabar bunda?"
"Bunda baik nak, hanya saja bunda begitu merindukanmu!"
"Bulan lalu kita sudah bertemu, bunda!"
"Tetap saja bunda rindu! Baiklah, ayo masuk!"
Akhrinya Elan pun ikut masuk bersama bundanya,
"Elan!" seorang pria paruh baya tampak keluar dari dalam ruang kerjanya dengan membawa sebuah map.
Elan sedikit terkejut karena seharusnya jam-jam segini ayahnya pasti tidak ada di rumah,
"Apa kabar ayah?" sapa Elan.
"Baik, kenapa kamu kembali?"
"Elan ada urusan!" jawab Elan yang tampak enggak menjawab pertanyaan sang ayah.
"Elan harus pergi bunda, Elan ada urusan!" Elan segara berdiri dan berpamitan.
"Kenapa buru-buru sekali sayang, kan baru datang?" Nadin tampak begitu keberatan jika Elan harus pergi lagi.
"Tidak perlu ia buru-buru pergi, ayah juga mau pergi." ucap Rendi yang sadar jika sang anak sengaja ingin menghindarinya. Akhirnya Rendi yang memilih pergi karena ia memang pulang hanya untuk mengambil berkasnya yang tertinggal.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰