Elan Untuk Kiandra

Elan Untuk Kiandra
Bab 55


__ADS_3

"Assalamualaikum, Kia." ucap Aisyah dan Alex tapi segera tatapan Alex beralih pada pemuda yang berdiri tegak di samping putrinya, ia masih ingat jelas tujuh tahun lalu pemuda itu yang ia peluk dengan berlumuran darah,


"Elan!" gumam Alex lirih dengan suara yang sedikit bergetar.


Tapi segera Kia memeluk papanya,


"Pa sebenarnya ada apa ini?" tanya Kia yang sudah berada dalam pelukan papanya.


"Papa juga nggak tahu sayang!" ucap Alex membuat Kia melepaskan pelukannya dan kembali menatap Elan.


"Elan?"


Pria yang saat ini menjadi pusat perhatian itu pun tersenyum,


"Maaf jika ini mendadak. Sebenarnya sengaja saya meminta Pak Alex dan Bu Aisyah kesini, saya mau melamar putri kalian. Dan saat ini juga saya ingin kita menikah!"


Mendengar pernyataan Elan, bukan hanya Kia yang terkejut tapi juga Alex dan Aisyah.


"Elan, bagaimana kamu bisa gegabah seperti ini?" tanya Alex kemudian. Ia tidak menyangka Elan bisa berbuat sejauh ini.


"Ini bukan gegabah pak Alex, tapi ini sudah saya pikirkan masak-masak. Saya serius ingin menikahi putri anda. Saya harap anda tidak keberatan!"


Walaupun Alex begitu menyayangi Elan, ia juga sangat berharap jika benar itu terjadi. Tapi ini bukan lagi tentang dia atau pun Elan tapi ini tentang putrinya.


"Saya rasa semua keputusan ada di tangan Kia." ucap Alex sambil menatap istrinya,


"Iya Elan, dan lagi bagaimana dengan ayah kamu?"


"Yang terpenting sekarang bagi saya, kalian setuju dan Kia bersedia menikah dengan saya!" ucap Elan masih dengan begitu tegasnya, seakan sikap Elan yang selengekan menghilang tertutup sikapnya yang dingin dan tegas.


Kini Alex dan Aisyah pun menoleh pada sang putri yang sedari tadi hanya diam, ia tampak mengepalkan tangannya, menggenggam erat ujung kebayanya.


Kini Elan pun melakukan hal yang sama,


"Kia, aku serius. Kita menikah sekarang ya!" ajak Elan sambil mengangukkan kepalanya beberapa kali mengharapkan persetujuan Kia.


"Nggak!" jawab Elan dnshn sigap. Walaupun kecewa tapi Alex sudah berjanji, apapun keputusan putrinya ia akan mendukung meskipun itu tidak bersama Elan.


"Kenapa?"


"Karena aku tidak mencintai kamu!"


"Bohong!" ucap Elan terlihat tidak goyah dengan ucapannya.


"Kenapa seyakin itu? Kita sudah tidak bertemu selama tujuh tahun, dan tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat Elan. Aku sudah punya pacar!"


"Benarkah?" tanya Elan sambil mengangkat sebelah bibirnya, senyum tipisnya terlihat, "Suka sekali berbohong. Apa perlu aku panggil Rehan dan Damar sebagai saksinya?"


"Hahhhh?" Kia begitu terkejut, ia sampai mengedarkan pandangannya dan mencari dua sosok yang di sebutkan oleh Elan, "Kenapa bawa-bawa mereka?"


"Maaf Kia, aku sudah cerita semuanya!" tiba-tiba seseorang muncul dari dalam masjid dan itu Rehan dan Damar.


"Kalian?"


Flashback on


Malam itu, di hari ulang tahu Rehan.


"Aku anter pulang ya Kia!" tawar Damar.

__ADS_1


"Ya iya lah, masak nggak di anter sih. Aku kan nggak bawa motor!" ucap Kia.


Akhirnya mereka pun berpamitan pada Rehan.


"Ntar Lo balik lagi ke sini kan? Kita lanjut pesta!" ucap Rehan pada Damar.


"Siap bos!"


"Kalian jangan macam-macam ya!" Kia segera memperingatkan pada kedua sahabatnya itu.


"Iya ustadzah siap,"


"Awas aja, kalau Sampek macam-macam, aku nggak mau ya temenan sama kalian! Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Akhrinya Damar dan Kia pun meninggalkan Rehan sendiri.


Sembari menunggu Damar kembali, ia pun memutuskan untuk memainkan gitarnya, tapi baru saja setengah lagu. Ia melihat sekelebat pria yang masih sangat ia kenal.


Elan ....


Ia segera meletakkan gitarnya begitu saja di atas sofa, ia pun mengejar pria yang hendak meninggalkan restauran.


"Elan!"


Teriaknya berhasil menghentikan langkah pria itu, tapi tetap pria itu tidak berbalikembuat Rehan menarik bahunya,


"Kamu Elan kan?" tanyanya.


Dukkkkk


"Lo apa-apaan sih Lan, datang bukanya say hello malah nonjok gue!?"


Srekkkk


Tidak puas dengan sekali tonjolkan, Elan pun menarik kerah baju Rehan,


"Kamu yang apa-apaan, tega ya sama temen sendiri. Bisa-bisanya kamu ambil Kia dari ku!"


Dugggg


Sekali lagi sebuah pukulan mendarat di pipi Rehan hingga membuat sudut bibir Rehan berdarah.


"Lo salah faham, ayolah. Jangan kekanak-kanakan!"


"Lawan saya, jangan beraninya menyerang dari belakang!" ucap Elan sambil kembali menarik kerah baju Rehan.


Kali ini Rehan memberi perlawanan agar ia tidak terlalu babak belur,


"Dasar keras kepala Lo Lan!"


"Lo yang baj*Ngan!"


Perkelahian mereka menjadi pusat perhatian, hampir semua pengunjung mendekat.


"Pak itu rame-rame ada apa?" tanya Damar yang baru datang kembali.


"Ada yang berkelahi,"

__ADS_1


"Nggak di pisahin sama satpam!"


"Itu satpamnya, mau misahin!"


"Jadi penasaran ih, siapa yang kelahi!" ucap Damar dengan santainya. Ia pun akhrinya menerobos kerumunan bersama satpam.


"Elan!" gumam damar terkejut dengan cepat ia pun membantu satpam melerai perkelahian itu.


Karena perkelahian itu, akhrinya mereka di usir dari restauran.


Mereka memilih pantai sebagai tempat bicara, awalnya Elan ingin tetap pergi tapi damar berhasil mengusir sopirnya Elan.


"Sebenarnya ada apa sih ini? Kalian ini temenan loh, sahabatan malah! Bisa-bisanya berkelahi di depan umum gitu?" tanya Damar sok bijak.


"Dan Lo Lan, datang-datang bukannya kasih kabar malah, itu tadi apaan?"


"Tanya sama sohib Lo itu!" ucap Elan sambil menunjuk pada Rehan membuat Damar menoleh pada Rehan.


"Ada apa Re?"


"Elan salah faham Mar, dia kita gue pacaran sama Kia."


Ha ha ha


Tiba-tiba Damar tertawa membuat Elan dan Rehan menoleh bersamaan ke arah Damar.


"Jadi gara-gara Kia?"


Dan Elan juga Rehan pun mengangukkan kepalanya.


Akhirnya Damar pun menceritakan semuanya,


"Jadi diantar kita bertiga nggak ada tuh yang mananya pacar-pacar an. Setelah Lo pergi, kita berdua nih sengaja jagain Kia bicara saat Lo balik, Kia masih utuh!"


Mendengar penjelasan dari Damar, Elan jadi menyesali perbuatannya terhadap Rehan.


"Kalian tidak pacaran?" tanya Elan lagi.


"Mana mau kia sama gue!" celetup Rehan dan langsung mendapat pukulan dikepalanya oleh Elan.


"Aughhh sakit Lan!"


"Itu pukulan persabahatan!" ucap Elan sambil meregangkan kedua tangannya!"


Akhirnya mereka pun saling berpelukan, melepaskan kerinduan mereka. Tujuh tahun tidak bersama membuat mereka kembali mengenang masa-masa saat masih bersama-sama.


Flashback on


"Jadi gimana? Kita nikah ya?" tanya Elan lagi.


Dan kini semua orang tengah menunggu jawaban Kia.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2