
Tidak lama ia kembali keluar dari kamar mandi, untuk keluar dari kafe, ia harus kembali melewati pintu depan.
Deg
Tapi segera langkahnya terhenti begitu berpapasan dengan seseorang yang baru beberapa menit lalu membuatnya penasaran.
Alex ....
Sepertinya pria yang ada di depannya juga tidak kalah terkejut.
Sebenarnya bukan hal yang aneh jika mereka bertemu karena mereka tinggal di kota yang sama saat ini, tapi untuk bertemu lagi mungkin ada kata belum siap yang tengah mendera pikiran mereka.
"Nadin!" sapa Alex, dengan wajah kakunya ia mencoba untuk tersenyum walaupun terlihat sangat tidak luwes. Wajah yang biasanya tegas dan arrogant itu tersenyum seperti itu.
Nadin pun yang biasa banyak senyum malah terlihat tersenyum kaku,
"A_lex, apa kabar?" tanyanya dengan sedikit garing.
"Baik, kamu?"
"Alhamdulillah juga baik!" Nadin bingung harus beralasan apa sekarang untuk bisa lepas dari Alex, beruntung ia melihat Keysa yang tampak kesal karena harus menunggu lama. "Ahhh, maaf aku sudah di tunggu, lain kali kita ngobrol lagi ya, bye!" Nadin segera melambaikan tangannya dan melewati Alex begitu saja.
Berbeda dengan Nadin, Alex memilih tetap tenang di tempatnya. Ia malah tetap memperhatikan Nadin yang masuk ke dalam mobil, walaupun hanya sejenak ia bisa melihat seorang anak perempuan yang seumuran putrinya di dalam mobil Nadin.
"Dia pasti tengah di tunggu putrinya!" gumam Alex sambil menggelengkan kepalanya, lalu kembali langkahnya fokus ke depan. Ia tengah ada janji dengan pemilik kafe.
***
"Bunda kenal ya sama om tadi?" tanya Keysa saat mereka sudah berada di dalam pusat perbelanjaan. Sengaja Keysa tanya karena semejak keluar dari kafe terlihat bundanya terus saja tidak fokus.
"Hmmm?" Nadin sedikit terkejut dengan dengan pertanyaan Keysa, "Om siapa sayang?"
"Ya di kafe tadi, pas bunda keluar dari toilet?"
"Ohhh, yang tadi ya. Dia_, dia_!" Nadin berusaha mencari jawaban yang tepat, "Dia papanya Kiandra!"
__ADS_1
Mendengar jawaban Nadin, Keysa benar-benar terkejut,
"Hahhhh, bunda kok malah sudah tahu sihhh? Bunda tahu dari mana?"
Nadin baru sadar kalau ia salah memberi jawaban, ia segera pura-pura memilih pakaian,
"Kayaknya ini bagus deh Key, buat kamu!?" ucapnya sambil menempelkan sebuah baju ke tubuh keysa.
"Apaan sih bund, ini baju buat seumuran bunda." protes Keysa, karena baju itu jelas model baju untuk ibu-ibu.
"Astaghfirullah, maaf Key. Bunda kayaknya tadi salah ambil!" Nadin dengan cepat mengembalikan baju itu ke tempatnya, tapi saat tangannya akan meraih baju lain lagi segera di tahan oleh Keysa.
"Cukup bund!" ucapnya sambil menarik tangan bundanya agar tidak mengambil lagi, "Bunda kenal sama om tadi? Maksudnya Bunda tahu dari mana kalau om tadi papanya Kiandra? Atau jangan-jangan bunda sama ayah sudah kenal sama Kiandra?"
"Ya Allah, Key. Banyak banget sih pertanyaannya!" keluh Nadin.
"Ya udah kalau gitu jawab dong Bund, satu persatu! Biasanya bunda kalau ngasih pertanyaan juga banyak gitu!" ucap Keysa yang tidak mau kalah.
"Iya deh, bunda ngaku. Ya bunda nggak sengaja sih beberapa hari lalu lihat om tadi jemput Kiandra di sekolah, makanya bunda pikir itu papanya Kiandra, kalau salah nggak tahu!"
"Kayaknya benar deh bund, soalnya kata Kiandra, papanya itu galak kalau sama orang, judes, ehhh, lebih tepatnya arrogant!"
***
"Lo ngajak gue ke mana sih, Lan?" tanya Rehan yang terus saja pasrah saat Elan mengajaknya.
"Sudah deh jangan protes, kita sudah sampai nih!?" ucapnya saat berada di depan sebuah rumah yang tidak jauh dari masjid yang biasa ia gunakan untuk belajar bersama Kiandra.
"Ini rumah siapa Lan?" tanya Rehan sambil menatap rumah dnsan cat berwarna putih dengan taman yang tidak terlalu luas di depan rumah, rumahnya juga tidak terlalu besar, rumah modern dengan model minimalis.
"Rumah Kiandra!"
"Ya elah, mau apel ngapain ngajak-ngajak gue Lo?"
"Lo kan tahu, bokapnya Kia benci banget sama gue, jadi Lo duluan yang masuk dan pastiin kalau bokapnya nggak ada di rumah!"
__ADS_1
"Maksudnya, Lo mau jad8in gue umpan? Ogah ahhh, masuk aja ndiri!"
"Ayolah, sama temen jangan gitu dong. Lo kan sohib gue, ayolah! Please ...!"
"Lo emang gitu ya Lan, kalau ada maunya aja Lo baik-baik in gue, kalau enggak gue jadi sasaran!"
"Lain kali enggak deh!" kali ini Elan memohon sambil memeluk kali Rehan.
"Iya, iya, jangan kayak gitu. Entar gue di kira nganiaya anak orang lagi!" ucap Rehan sambil berusaha melepaskan pelukan dari Elan.
"Nahhh gitu dong!" akhrinya Elan kembali bangun dan tersenyum.
"Heran gue sama Lo, banyak cewek yang mau sama Lo, ngantri-ngantri malah, ehhh ini maunya sama cewek yang jelas-jelas nggak mau sama Lo!" gerutu Rehan, ia tahu bagaimana cewek-cewek mengagumi sahabatnya itu.
"Udah jangan banyak ngomong cepetan masuk!" ucap Elan sambil mendorong tubuh Rehan sampai masuk ke dalam halaman, melewati pagar rumah Kiandra.
"Trus Lo gimana?"
"Ntar kalau udah yakin bokapnya nggak ada di rumah, Lo panggil gue, atau kalau enggak Lo kirim pesan ke gue!"
"Lo yakin ngirim gue?" tanya Rehan lagi, ia juga terlihat was-was.
"Iya, Lo yang terbaik pokoknya!"
"Ayolah, Damar aja gimana?" tanya Rehan sambil hendak kembali keluar.
"Ayolah, jangan kelamaan!"
Rehan hanya bisa mengelus dada, ia terpaksa mengikuti kemauan sahabatnya. Sesekali ia menoleh ke belakang tapi Elan masih terus mengawasinya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.qni5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...