
Kini mobil yang mengantar Elan dan Keysa sudah sampai di depan sekolah. Mereka sengaja meminta sopir untuk berhenti agak jauhan dari lokasi kelas mereka masing-masing.
“Lo turun duluan gih, gue belakangan!” ucap Keysa sambil mendorong tubuh abangnya.
"Jangan dorong-dorongan Napa sih! protes Elan, "Lagian kenapa juga harus turun duluan?"
“Males aja barengan sama lo!” ucap Keysa.
"Gue Abang Lo ya, yang siap jagain Lo siang dan malam!?"
"Wekkkkk, serasa mau muntah gue denger yang begituan!" ucap Keysa sambil pura-pura ingin muntah.
“Lo emang ya adik durhaka, awas kualat lo! Awas ya kalau ada apa-apa cariin gue.” ucap Elan.
"Nggak bakal!?"
"Jual mahal Lo!" ucap Elan lagi dan segera mengambil tasnya, "Dia bawa ke kandang singa aja pak, nggak usah di turunin di sini!?" ucapnya lagi pada sopir dan segera turun dari mobilnya.
"Enak aja, Lo tuh yang mestinya jadi makanan singa bukan gue!" teriak Keysa dari dalam mobil dan Elan yang sudah turun segera menutup pintu mobil dengan keras hingga membuat Keysa terkejut.
"Astaga ...., dia benar-benar ya! Nggak tahu apa nih jantung nggak ada serepannya!?"
Elan sudah tidak lagi mendengar Omelan Keysa karena ia memilih meninggalkan mobil,
Walau semenyebalkan apapun tetap saja ia sayang pada adik perempuannya itu. Rasa sayangnya itu memang tidak pernah di tunjukkan dengan kata-kata tapi jika terjadi sesuatu dengan adiknya makan Elan orang pertama yang akan turun tangan walaupun tanpa sepengetahuan Keysa sendiri.
Tapi dalam keseharian mereka lebih banyak bertengkarnya dari pada akurnya. Akurnya cuma pas lebaran saja, itu pun karena banyak kerabat.
"Heran aku, punya adik satu aja bikin emosi terus sepanjang tahun!" keluh Elan sambil terus berjalan dan sesekali kakinya menyepak apapun yang ada di depannya.
"Aduhhhh!?" hingga tanpa sadar ia menyepak pembatas parkiran membuatnya berlonjak saat merasakan sakit di ujung kakinya yang tertutup sepatu,
"Sejak kapan sih nih baru di sini, nggak tahu apa ada orang jalan!?" gerutunya sambil mengibas-kibaskan kakinya yang masih terasa sakit.
“Pagi Lan!” sapa seseorang berhasil membuat Elan menurunkan kakinya. Elan segera menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
“Lo, Re …!” ucap Elan , ia pun kembali berjalan,
Dan anak laki-laki sedikit berlari menghampirinya, ia berjalan mensejajarkan langkahnya dengan Elan. Anak laki-laki itu adalah Rehan, Rehan adalah sahabat Elan selain Damar dia anak yang unggul dalam seni, orang tuanya juga sudah mendaftarkannya di salah satu kelas music di luar negri setelah lulus sekolah nanti sekalian untuk kuliah. Orang tuanya tidak beda jauh dengan orang tua Elan, kehidupannya cukup ketat hingga ia tidak begitu memiliki banyak waktu luang untuk sekedar menikmati masa remajanya, hari-harunya hanya di isi dengan les, les dan sekolah. Belajar menjadi kebutuhan nomor satu bagi orang tuanya.
"Kenapa kaki Lo?" tanya Rehan.
"Nggak tahu tuh batu tiba-tiba nongol di situ,"
"Bukan batunya yang salah, kaki Lo aja yang jalan matanya nggak di pakek!"
Mereka berjalan bersama melewati halaman sekolah yang luas itu, sesekali bercanda dan menanggapi sapaan cewek-cewek yang sedang menyapanya. Bagaimanapun Elan, ia tetap menjadi idola sekolah. Ia begitu menonjol karena ketampanan dan pesonanya yang sebelas dua belas dengan ayahnya.
“Oh iya, gue kemarin ke tempat Damar, eh lo nya malah udah cabut!” ucap Rehan. Mendengar itu Elan malah menghentikan langkahnya dan menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang mengintimidasi.
“Ada apa? Ada yang salah?” tanya Rehan heran.
“Lo ketemu si brokoli di kelas musik?” tanya Elan seperti tengah mengintrogasi.
“Brokoli?” Rehan bingung siapa yang di maksud brokoli oleh sahabatnya itu. Elan menghela nafas, ia lupa jika sahabatnya itu tidak tahu bagaimana ia memanggil adiknya itu.
“Key!”
"Lo ngobrolin apa aja sama Key?"
"Kepo amet sih jadi Abang!?" Rehan masih menanggapinya dengan becanda.
Tapi sekali lagi Elan memberi tatapan yang serius,
"Re!?"
"Okey, okey, sorry! Jadi kemarin gue ngobrol sama dia tentang banyak hal, tentang musik, tentang kuliah,"
"Trus apa lagi?"
"Harus detail ya?"
__ADS_1
"Iya!"
"Habis itu dia tanya, setelah ini mau ke mana? gue jawab dong, gue bilang deh kalau kelar kelas music mau langsung nyusulin lo ke tempatnya Damar!”
Pukkkkk
“Aughhh …," keluh Rehan sambil mengusap kepalanya yang di pukul Elan dengan tangan, "kenapa lo mukul gue?” tanya rehan kemudian, ia merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya.
“Dasar ya lo ember banget jadi orang!” maki Elan membuat Rehan garuk-garuk kepala tidak mengerti.
“Emang apa salah gue?” tanya Rehan tidak mengerti dan mengejar Elan yang sudah berjalan lebih dulu.
“Gara-gara lo, bokap nemuin gue di tempatnya Damar!” ucap Elan kesal sambil berjalan mendahului Rehan, karena Rehan emang sudah terlanjur pro sama Elan jadi tetep aja ngikut.
"Ya sorry, gue kan nggak ngerti."
"Besok-besok tuh di pikir dulu kalau ngomong, jangan asal ceplas-ceplos!?"
"Emang besok Lo masih boleh nongkrong?" tanya Rehan dan Elan langsung menghentikan langkahnya,
"Mau di pukul lagi? Pakek yang kanan apa yang kiri?"
"O .., o ..., o..., nggak usah repot-repot. Aku bisa pukul sendiri!?"
Mereka terus berjalan menuju ke kelasnya sambil saling berkejaran,
Jarak antara gerbang depan sampai ke kelas mereka butuh waktu yang lama. ia harus melewati lapangan basket dan beberapa kelas lainnya.
Sesekali beberapa anak perempuan menyapa Elan hanya untuk sekedar pengin di kasih senyum oleh Elan.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...