
Tok tok tok
Dengan ragu-ragu tangan Rehan menyentuh pintu yang berbahan kayu bercat putih itu, ingin rasanya kembali berlari menjauh tapi setiap kali menoleh ke belakang ia merasa kasihan dengan sahabatnya tengah di Landa kasmaran.
Hehhhh, untung Lo sahabat gue, nggak pa pa deh gue di amuk sama bokapnya Kia ...., batin Rehan pasrah.
Ceklek
Mendengar pintu akan terbuka, rasanya jantungnya seperti mau lepas dari tempatnya, ia sampai harus memejamkan matanya agar tidak langsung melihat papanya Kiandra.
"Rehan, ngapain di sini?"
Hahhhh, legaaaaa ....., Rehan segera mengusap dadanya lega setelah mendengar suara Kiandra. setidaknya sedikit lega karena bukan papanya Kiandra yang menyambut.
"Hai Kia!" sapanya kemudian. "Papa kamu di rumah nggak?" tanya Rehan dengan to the point.
"Hahhh, ngapain nyariin papa aku?" Kiandra terlihat kaget.
"Ohhh bukan begitu maksudnya, jadi sebenarnya aku ke sini mau mastiin aja kalau_,"
"Siapa Ki ya datang?" pertanyaan itu menghentikan ucapan Rehan, dan ternyata Aisyah berjalan menghampiri mereka.
"Ini ma, temen Kia di sekolah!"
Aisyah mengerutkan keningnya, bukan apa-apa jika ada yang datang. Tapi sebenernya yang tengah ia harapkan datang bukan dia, ia berharap anak lain.
"Ohhh, siapa namanya?" tanya Aisyah dengan ramah pada Rehan.
"Rehan Tante!"
"Sendiri?" tanya Aisyah lagi.
"E_, i_ iya Tante!"
"Ya sudah ayo masuk, masak ngobrol sambil berdiri gini, kebetulan Tante buat camilan, ayo masuk, masuk!"
"Terimakasih Tante!"
Rehan hanya bisa pasrah masuk ke dalam rumah itu meskipun perasaannya tengah was-was karena pertanyaan utamanya belum terjawab. Meskipun belum melihat secara langsung bagaimana papa kiandra tapi mendengarkan cerita dari Elan sudah cukup membuatnya merinding.
"Jadi kamu satu kelas sama Kia?"
"Iya Tante! Kebetulan satu kelompok juga pas olimpiade sains!"
"Ohhh jadi kamu Rehan yang sering kita ceritain sama Tante!"
"Kia sering cerita tentang Rehan, Tante?" tanya Rehan merasa bangga karena ternyata kiandra cukup mengaguminya.
__ADS_1
"Iya, tapi nggak cuma kamu. Ada Keysa, Elan, trus Ana, Wira, Tama, Damar dan masih banyak lagi deh pokonya, Tante nggak bisa ngingat semuanya."
"Ohhhh!?" padahal tadi ia sudah merasa sangat tersanjung tapi ternyata kiandra menceritakan semua teman satu kelasnya, tidak ada yang istimewa.
Kiandra terlihat masih sibuk menyiapkan camilan untuk Rehan, ia tampak curiga dengan Rehan karena tidak biasanya dia datang ke rumah, kalaupun mau pinjam buku catatan atau membicarakan sesuatu pasti Rehan mengatakannya di sekolah.
"Ehhh tunggu, dari mata Rehan tahu rumahku? Atau jangan-jangan Elan ada di depan?"
Kiandra pun segera menuju ke jendela yang langsung menghadap ke jalan,
"Tuh benar kan!?" ia bisa melihat Elan yang tengah bersembunyi di balik pohon yang ada di depan pagar rumahnya. "Dasar Cemen!"
Kiandra pun kembali ke dapur untuk membuat minuman untuk Rehan.
Sebelum Kiandra kembali, Rehan pun segera memberanikan diri untuk bertanya,
"Oh iya Tante, kok sepi! Memang papanya Kia nggak di rumah ya?"
"Biasanya sih sudah pulang, tapi nggak tahu hari ini kayaknya telat!"
syukurlah ...., Rehan mengelus dada lega.
Ia pun segera mengirimkan pesan pada Elan.
//Aman// ~terkirim.
Tapi baru beberapa langkah tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah Kiandra membuat langkah Elan terhenti, mau bersembunyi juga percuma karena tidak ada pohon besar di halaman kiandra hanya ada tanaman bunga yang tingginya tidak lebih tinggi dari pinggangnya itu pun daunnya tidak rimbun juga tidak akan mampu menutupi tubuhnya meskipun kerempeng.
Mati aku ....
Benar saja, Alex keluar dari dalam mobil itu, matanya menatap tajam pada Elan tangannya juga mengepal. Langkah lebarnya mendekati Elan.
"Ada urusan apa kamu ke sini?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Ini om, sebenarnya Elan mau mengembalikan buku Kia yang ketinggalan," beruntung ia membawa buku milik kiandra di tangannya.
srekkkk
"Tidak perlu," ucap Alex sambil menarik kasar buku di tangan Elan. "Bukankah sudah saya peringatkan untuk tidak dekat-dekat dengan putri saya!"
"Iya om, maaf tapi saya hanya ingin mengembalikan itu!" ucapnya sambil menunjuk buku yang sudah berpindah ke tangan Alex itu.
Alex segera mengusap jaket yang di kenakan oleh Elan, "Bau asap rokok, dasar begundal."
"Merokok bukan berarti begundal om, jadi berhenti mengatai saya seperti itu!"
"Lalu apa namanya kalau bukan begundal, jika anak SMA sudah nongkrong-nongkrong sama preman pasar yang mau malak para pekerja dan pedagang pasar. Dan mungkin kamu juga mengkonsumsi minuman keras atau bahkan mungkin obat terlarang. Sungguh orang tuamu pasti tidak beda jauh dari kamu, pasti mereka tidak berpendidikan makannya tidak bisa mendidik anak, _!"
__ADS_1
"Cukup Om! Om bisa hina saya semau om, sepuas om, tapi jangan pernah sekalipun om berani menghina orang tua saya!"
Kali ini Elan benar-benar marah, ia pun segera meninggalkan rumah kiandra dan melupakan Rehan yang masih terjebak di dalam rumah kiandra.
Benar saja, beberapa hari lalu Alex memang memergoki Elan sedang bersama preman pasar yang pernah membuat masalah dengan proyek yang tengah di kerjakan oleh Alex.
Tapi sebenarnya bukan begitu kenyataannya, Elan memang terlihat akrab dengan mereka karena salah satu dari preman pasar itu adalah ayah dari sahabatnya, Damar.
Ia sengaja mendekati ayah Damar untuk membujuknya agar keluar dari kebiasaan buruknya, ia tahu jika Damar begitu merindukan ayahnya tapi ia tidak ingin membuat teman-teman nya malu karena berteman Dangan anak seorang preman.
Beruntung Damar mendapat beasiswa dan bisa tinggal di asrama,
Setelah Elan pergi, Alex pun melanjutkan langkahnya.
"Assalamualaikum!" sapanya membuat anak muda yang ada di dalam rumah itu di Landa ketakutan, keringat dingin mulai mengucur membasahi kaos hitamnya.
"Waalaikum salam!" jawab mereka bertiga dan benar saja tatapan Alex langsung tertuju pada Rehan.
"Hai om," sapa Rehan dengan sisa keberaniannya.
"Dia temannya Kia, mas! Namanya Rehan!" Aisyah mencoba mengenalkan temannya Kia pada Alex.
"Kia, bukankan sebentar lagi magrib. Akan lebih baik kamu segara bersiap!" ucap Alex pada putrinya itu membuat sang putri hanya bisa pasrah.
"Iya pa!"
"Kalau begitu saya permisi juga Tante, om !" Rehan segera berpamitan setelah merasa di usir.
"Lain kali main ke sini lagi ya!" ucap Aisyah dengan ramah.
"Saya harap tidak ada lain kali!" potong Alex dengan suara datarnya tapi bisa membuat lawan bicaranya merinding.
"Saya pulang dulu, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Rehan dengan cepat keluar dari rumah kiandra, tapi nyatanya kesialannya tidak hanya sampai di situ.
"Ya ampunnnnn, Elan! Tega bener, masak gue di tinggal! trus gue pulangnya naik apa dong!?" keluh Rehan saat tidak menemukan sahabatnya maupun motor sahabatnya di pinggir jalan depan rumah Kiandra.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...