Elan Untuk Kiandra

Elan Untuk Kiandra
Bab 14


__ADS_3

Bel istirahat berbunyi


Setelah kejadian kemarin, entah kenapa Kiandra merasa sesuatu yang berbeda saat berhadapan dengan Elan, semua pandangannya tentang Elan seolah-olah berubah.


Tapi yang tetap tidak ia percaya, Elan tetaplah Elan, pria dengan karakter yang unik. Pria dengan sejuta pesona bagi para penggemarnya tapi begitu menyebalkan bagi Kiandra.


Rasa simpatinya seketika lenyap saat melihat tingkah Elan, melihat betapa narsisnya Elan saat bersama dengan anak-anak perempuan satu kelasnya.


Ya ampun ..., bisa-bisanya aku sempat mengaguminya ..., batin Kiandra sambil bergidik geli dengan tingkah Elan.


Ia merasa sudah tidak tahan berlama-lama duduk dengan Elan, ia pun segera bangun dari duduknya dan meninggalkan Elan. Tapi dengan cepat juga Elan memanggilnya.


“Kia,"


Tapi tetap Kiandra tidak menggubris panggilannya membuat Elan mengulang dengan panggilan lain,


"Cantik…,"


Dan sekali lagi Kiandra mengabaikannya, ia hanya bisa melambaikan tangannya mengacuhkan Elan.


Karena panggilannya di abaikan, Elan pun segera berdiri dari tempat duduknya membuat Damar dan Rehan keheranan. Biasanya bukan Elan yang mengejar-ngejar cewek tapi cewek yang datang padanya, tapi kini beda,


"Ehh, mau ke mana bro?" tanya Rehan,


"Ada deh!?" ucapnya sambil berlalu meninggalkan kelas juga,


“Lan …, mau ke mana?” teriak Damar dan Rehan bersamaan. tapi tetap saja ia tidak peduli dengan teriakan mereka.


"Aneh nih lama-lama si Elan!?" gumam Damar dan Rehan pun menyetujuinya.


"Tapi nggak pa pa sih, lama-lama aja kayak gitu biar uang jajan gue nggak ludes!?" ucap Rehan merasa lega sedangkan Damar yang memang tidak tahu duduk permasalahannya pun mengerutkan keningnya hingga membuat alis tebalnya yang tertutup kaca mata menyatu.


"Maksudnya?"


"Udah Lo belajar aja, baca buku yang banyak entar tahu deh!?" ucap Rehan kemudian ikut berdiri meninggalkan kelas.


Rupanya Damar mengikuti Rehan di belakangnya,


"Kenapa ngikut gue, bukannya Lo mas mau ke perpus?"


"Nggak jadi, ke kantin yuk. gue lapar!" ucap Damar sambil mengelus perutnya.


Rehan pun tersenyum dan merangkul bahu Damar, mereka berjalan bersama ke kantin,


pastinya tanpa Elan.


“Gila tuh Elan, begitu banget sama tuh cewek! Heran gue.” ucap Damar sambil menyantap semangkuk bakso yang masih terlihat panas.


“Nggak usah di pikirin, paling besok juga nyerah dia!” ucap Rehan yang begitu tak acuh.


"Tapi kayaknya kali ini beda," ucap Damar menambahkan.


"Iya sih, getol banget tuh anak sampai lupa minta traktiran!?"


Ha ha ha ....

__ADS_1


Tiba-tiba Damar tertawa saat temannya keceplosan,


"Kenal lagi Lo Re!?"


"Sial Lo!?"


Di taman sekolah akhirnya


Elan berhasil mengejar Kiandra, ia mensejajari langkah Kia, dan berjalan mundur supaya bisa melihat wajah cantik Kiandra.


“Kia …., hei …!”


Kiandra pun terpaksa menghentikan langkahnya,


"Bisa nggak, nggak usah ganggu aku terus!?"


"Maaf, tapi sayangnya enggak. Nggak ganggu kamu sehari tuh rasanya kayak_!"


"Setahun? Seratus tahun? Basi tahu nggak!?" potong Kiandra. Ia benar-benar bosan dengan gombalan Elan.


"Ye, sok tahu kamu. Ya benar tuh nggak gombalin kamu sehari tuh rasanya kayak gurun pasir yang kehilangan oasisnya. Panasss!?"


"Issttttt!" Kiandra memilih kembali berjalan dan Elan masih setia mengikutinya.


"Kamu tahu nggak persamaan kamu sama AC?"


"Bodo!"


"Sama-sama menyejukkan!"


Hehhhhh ....


"Aku harus ngejar kamu dong, Soalnya kata bunda mimpi itu harus di kejar, dan kamu yang selalu hadir di mimpi aku,"


"Ampun deh, anak ini!?" keluh Kiandra kesal, ia tidak tahu bagaimana lagi caranya mengusir Elan.


Kiandra pun akhrinya kembali berhenti, membuat Elan pun ikut menghentikan langkahnya,


Kiandra menatap Elan dengan tatapan kesal tapi tetak saja Elan tersenyum dengan sok gantengnya,


"Kita nggak saling kenal ya, jadi jangan sok kenal hanya karena kita bertemu satu Minggu saja."


“jangan jutek gitu dong! Anggap saja aku teman kamu, gimana?”


"Nggak mau! Jadi jangan maksa!” Kiandra lebih keras kepala rupanya.


“Gue cuma mau berteman sama lo!” ucap Elan tapi segera melanjutkan ucapannya, “Tapi lanjutnya jadi jodoh aku!”


Kiandra menyilangkan tangannya di depan perut, menatap Elan tajam, “Kita baru saja ketemu ya, nggak usah sok akrab! Jadi lupakan impian bodohmu itu, mengerti!”


Rupanya judehnay Kiandra sama sekali tidak berpengaruh pada Elan,


“Aku orangnya emang gampang akrab, jadi nggak usah sungkan!”


“terserah …, minggir! Aku mau lewat!” ucap Kiandra.

__ADS_1


"Tunggu!?" Elan pun kembali menahannya.


"Apalagi?" tanya Kiandra.


Elan mengambil selembar uang lima puluh ribu dari saku kemeja seragamnya,


"Ini uangmu aku kembalikan!?" ucap Elan.


"Aku kan sudah bilang memberikannya, jadi nggak usah dikembalikan!"


"Tapi aku ngomongnya pinjem, jadi terima saja dan makasih!?" ucap Elan sambil menarik tangan Kiandra, kali ini ia menarik dengan menggunakan kemeja lengan panjang kiandra hingga tidak menyentuh tangannya lalu meletakkan selembar uang lima puluh ribu itu di atas telapak tangannya.


Elan pun segera meninggalkan Kiandra, dan dengan otomatis Kiandra menggeser tubuhnya memberi jalan untuk Elan,


"Kenapa dia lebih keras kepala!?" gumam Kiandra sambil menatap punggung Elan.


***


Hari-hari Elan selalu dihabiskan untuk melontarkan gombalan pada Kiandra,


Sepertinya keberadaan Kiandra menjadi hawa positif baginya karena ia tidak lagi perlu berdebat dengan ayahnya untuk pergi ke sekolah, bahkan tidak ada laporan lagi kalau Elan bolos sekolah ataupun bolos pelajaran,


Kini Elan tenaga duduk dengan kedua sahabatnya di teras kelas, mereka berencana untuk ke kantin tapi menunggui hingga kantin sedikit sepi.


Lagi-lagi tatapan Elan terpusat pada satu sosok yang telah berhasil mengalihkan dunianya,


“Dasar cewek jutek!” gumamnya sambil menatap Kiandra dari jauh.


"Siapa Lan?" tanya Damar,


"Nggak usah di tanya, tuh lihat bidadarinya!?" ucap Rehan yang mengacungkan jari telunjuknya ke arah Kiandra yang tengah berjalan.


"Ohhhhh, jadi kali ini beneran serius!?" tanya Damar dan Elan pun mengangukkan kepalanya,


"Dua rius malah!" ucapnya sambil terus menatap ke arah Kiandra, hingga gadis itu menghilang di balik ruang yang paling di hindari oleh Elan. Ruang perpustakaan.


“Kenapa juga dia masuk ke ruangan itu!?” gumam Elan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ya belajar lah Lan, masak cari somay!?" ucap Damar menanggapi.


“Demi Kiandra, gue harus masuk ke sana!"


"Serius Lo Lan?" tanya Rehan tidak percaya, dalam hampir enam tahun di sekolah ini, sejak SMP sampai SMA, ia tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya ke tempat itu.


"Eh …, tapi jangan sekarang deh …! Mending ke kantin dulu aja buat ngisi amunisi!”


"Ye Elahhh, ingat aja nih orang!?" gerutu Rehan, yang artinya ia harus mentraktir Elan hari ini.


Elan dan teman-temannya akhirnya lebih memilih ke kantin dari pada ke tempat yang menurutnya membosankan itu. Ia bukan anak yang suka baca buku, menurutnya baca buku adalah kegiatan yang paling menyedihkan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2