
"Pa kenapa masuk rumah wajahnya udah kesal gitu? Mana tiba-tiba ngusir temennya Kia lagi!" keluh kiandra sambil membereskan meja, bahkan kue yang di siapkan untuk Rehan belum sampai ia makan.
"Kamu masih berhubungan dengan begundal itu?" tanya Alex dan berhasil menghentikan kegiatan Kiandra, bahkan sekarang Aisyah yang awalnya memilih untuk diam pun tertarik mencari tahu siapa yang di maksud suaminya.
"Maksud papa, begundal siapa?" tanya Kia yang memang tidak tahu siapa yang di maksud papanya, tidak biasanya sang papa sebenci itu sama orang.
"Yang tadi pasti temannya dia? Atau anteknya dia?" bukannya menjawab pertanyaan Kia, Alex malah memberi pertanyaan lagi membuat Kiandra semakin menerka-nerka maksud sang papa.
"Maksudnya El_?" jawab Kia, tapi masih belum selesai ia menjawab Alex sudah lebih dulu memotong ucapan putrinya.
"Nggak peduli papa sama siapa namanya, yang penting buat papa, putri papa tidak boleh bergaul sama anak preman seperti itu, sudah ketahuan merokok, ternyata bergaulnya sama preman juga, mau jadi apa nanti kalau sudah besar!" gerutu Alex panjang lebar sambil tangannya sibuk melepaskan dasi yang mengikat kemejanya,. "Papa gerah mau mandi," ucapnya lagi sambil berlalu meninggalkan putri dan istrinya untuk masuk ke kamar.
Hehhhhhh ....
Kiandra menghela nafas, ia benar-benar tidak menyangka papanya akan semakin benci dengan Elan, entah kenapa ia merasa tidak nyaman dengan keadaan itu.
"Papa aneh banget, memang apa salah dia kalau ngrokok, toh juga banyak anak muda nyang merokok, apalagi preman. Masak iya dia bergaul sama preman? Papa masti sok tahu tuhhh!" gerutu Kiandra sambil kembali melanjutkan kegiatannya.
Aisyah yang masih penasaran, sebelum menyusul sang suami ke kamar ia terlebih dulu menghentikan kegiatan sang putri,
"Emang siapa yang di maksud papa kamu?"
"Itu mah, Elan!"
"Elan?"
"Iya, yang sama guru aku suruh jadi guru privatnya. Lagian aneh banget papa, segitu bencinya sama Elan."
Ya Allah, apa akan sama jadinya kalau mas Alex tahu siapa yang ia benci? Anak yang dulu sangat ia cintai dan sangat ingin ia lindungi ...
Melihat sang mama yang malah bengong membuat Kiandra heran,
"Mama tidak pa pa?"
"Hahhh?" Aisyah segera tersadar jika di sana masih ada sang putri, "Nggak pa pa sayang, ya sudah kamu bereskan trus siap-siap sholat magrib ya, mama mau nyusul papa dulu!"
"Iya ma!"
***
__ADS_1
Elan tampak kesal, bahkan ia tidak menyapa bundanya meskipun melewati sang bunda dan Keysa.
"Abang kamu kenapa? Pulang-pulang kayak gitu?" tanya Nadin pada putrinya.
"Mana Key tahu bund, lagi PMS kali!" jawab Keysa sekenanya sambil menikmati apel yang sudah di kupas bundanya.
"Kamu ada-ada aja. Ya udah kamu lanjut sendiri ngupasnya, biar bunda samperin Abang kamu!"
"Yahhh bund, biarin aja Napa sih bund, bang Elan juga udah gede!"
"Nggak boleh gitu ahh!"
Nadin pun meletakkan pisau yang ada di tangannya di atas piring buah dan segera berdiri meninggalkan putrinya, ia berjalan menghampiri kamar Elan.
Tok tok tok
Seperti biasa ia selalu mengetuk pintu sebelum masuk ke kamar anak-anaknya,
"Boleh bunda masuk nggak?"
"Masuk aja bund, nggak di kunci!" sahut dari dalam kamar, setelah mendapat ijin dari sang pemilik kamar, Nadin pun segera membuka pintu ternyata putranya itu tengah merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa melepas jaket dan sepatu nya.
Nadin tersenyum dan berjalan menghampiri sang putra, ia duduk di samping sang putra, mengusap kakinya,
"Lagi kesal aja bund!"
"Kesal sama siapa?"
"Sama papanya Kia!"
"Papanya Ki_a?" tanya Nadin ragu, bukankah itu artinya Alex? Apa Elan sudah ketemu juga sama Alex? batin Nadin.
"Iya ma, masak dia ngatain Elan begundal. Emang kalau anak sekolah merokok atau bergaul sama preman bisa di katakan begundal?"
"Ya enggak!" jawab Nadin seponta, tapi segera ia tersadar sesuatu, "Jadi kamu merokok?" tanyanya terkejut sambil memukul kaki Elan.
Elan pun rupanya bicara keceplosan, ia sampai menutup mulutnya ketika menyadari kesalahannya,
"Upss keceplosan lagi!" gumamnya lirih dan ia pun segera bangun dari tidurnya,
__ADS_1
"Enggak bunda, papanya Kia yang salah faham."
"Jangan bohong sama bunda!?" ucap Nadin kesal sambil menunjuk ke arah Elan.
"Di_kitttt! Cuma dikiiit bunda!" ucap Elan sambil menyatukan kedua ujung jari jempol dan telunjuk seperti tengah memberi contoh.
"Dikit banyak tetap namanya merokok!"
"Udah ya bund, jangan marah-marah udah mau magrib. Elan ke kamar mandi dulu, mandi trus sholat deh!" ucap Elan segera mengindari kemarahan bundanya,
Cup
Segera Elan meninggalkan kecupan di pipi sang bunda,
"Bunda cantik deh!" ucapnya sambil berlalu ke kamar mandi.
Nadin tersenyum sambil mengusap pipinya yang baru di cium sang putra, tapi segara ia teringat dengan keluh Elan,
"Apa Alex tetap akan membenci Elan saat ia tahu jika anak yang di katakan begundal itu Elan, anak yang begitu ingin ia lindungi!?" gumamnya sambil menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup.
"Lagi ngomongin siapa?" pertanyaan itu seketika. membuat Nadin terkejut, ia segera menoleh ke sumber suara dan rupanya suaminya sudah berdiri di belakangnya,
"Mas, udah pulang?" Nadin berjalan cepat menghampiri sang suami dan mencium punggung tangannya,
Seperti biasa Rendi langsung memeluk sang istri dan meninggalkan kecupan di keningnya.
"Baru aja, kata Keysa kamu di kamar Elan, makanya aku nyusul. Trus Elan nya mana?"
"Lagi mandi mas, bentar lagi kan magrib! Ya udah kita keluar mas,"
"Baiklah, ayo!"
Nadin bernafas lega karena suaminya tidak mendengarkan ia menyebut nama Alex tadi.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...