
Banyak hal yang mungkin tidak bisa di jelaskan dengan akal tapi dapat di rasakan dengan hati, meskipun terpisah bertahun-tahun tapi rasa itu sepertinya masih sama.
Sebesar apapun dia, bagi seorang ayah adalah anak-anak. Bagi seorang ibu adalah Bayu, tidak ada yang bisa mengalahkan kasih sayang itu.
Alex tidak lagi bisa fokus setelah melihat Elan, meskipun belum tahu itu Elan tapi ia merasa cukup mengenal anak itu.
"Pa, papa nggak pa pa kan? Kenapa bengong terus sih pa, bahaya tahu nyetir mobilnya!?"
Ucapan sang putri rupanya berhasil membangunkannya dari lamunan.
"Maaf sayang, papa hanya memikirkan anak tadi!?"
"Ya Allah pa, anak nggak jelas pa. Lagi pula jangan terlalu khawatir pa, Kia juga nggak mungkin meladeni omong kosongnya!?"
"Jadi dia menggoda kamu?"
"Ya begitulah pa!"
"Awas ya kalau dia sampai berani macam-macam sama kamu, papa tidak akan tinggal diam!"
"Apaan sih pa, nggak akan berani!?" dari pada terus membahas Elan, Kiandra pun segera mencoba mencari topik lain. Ia tidak mau papanya sampai bermasalah dengan Elan yang katanya anak pemilik sekolah, "Oh iya pa, mama belum pulang ya?"
"Belum sayang, kan di Semarang. Jauh!?"
"Kia lapar, males masak di rumah. Gimana kalau kita makan berdua aja pa di luar, sekalian bungkus buat makan malam!"
"Baiklah, tapi habis ini papa harus balik ke kantor kamu nggak pa pa kan?"
"Nggak pa pa, pa! Anak papa ini kan pemberani!?"
"Awas aja kalau sampai kamu ajak dia ke rumah!?"
"Dia siapa?"
"Anak yang tadi!"
"Astaghfirullah hal azim, ya nggak mungkin lah pa,papa ini ada-ada aja!"
Akhrinya mereka pun memilih berhenti di salah satu warung Padang. Memilih menu andalan untuk di makan dan bungkus.
Selesai makan, dengan cepat Alex mengantarkan putrinya pulang.
"Papa berangkat lagi ya, insyaallah nanti nggak Sampek malam, kalau kamu lapar lagi, makan dulu aja nggak pa pa, nggak usah nunguin papa!"
__ADS_1
"Siap pa!"
"Dan lagi, pak Ujang juga nggak ada di rumah karena lagi nganterin mama, jadi kunci pintunya dari dalam,"
"Iya pa!"
"Dan lagi_!"
"Apa lagi pa?"
"Kalau ada yang ketuk pintu, nggak usah di buka, papa bawa kunci serep. Mengerti!"
"Mengerti pa!" ucap Kia dengan malas, "Posesif banget!" gumamnya lagi.
"Papa denger ya!?"
"Iya papa sayang, udah ah, Kia masuk dulu. Gerah mau mandi! Da da papa, assalamualaikum!?"
Brakkk
Dengan cepat Kia menutup pintunya dari dalam membuat Alex sedikit tersentak ke belakang,
"Waalaikum salam! Astaghfirullah hal azim!" ucapnya sambil mengelus dada.
Selama ini ia sangat tidak suka terlambat, tapi demi putrinya ia rela terlambat setengah jam,
Sambil mengemudikan mobilnya, ia melakukan panggilan telpon dengan menempelkan aerophone di telinganya,
"Hallo, Assalamualaikum!?"
"Waalaikum salam, pak Alex jadi ke sini kan?"
"Jadi, maaf saya akan terlambat. sekitar lima belas menit lagi saya akan sampai!"
"Baik pak, kami tunggu!"
Setelah mengucap salam lagi, Alex pun menutup telponnya. Ia memang tidak pernah mempercayakan pengawasan anak-anak nya pada sembarang karyawan, terutama putrinya. Sesibuk apapun dia, Alex akan menyempatkan diri untuk menjemput sang putri. Berbeda dengan Arsy, walaupun usianya lebih muda dari Kia, tapi dia lebih mandiri dan dewasa membuatnya lebih tenang meninggalkan Arsy di pesantren.
Hingga akhirnya Alex sampai juga di lokasi proyek, kedatangannya langsung di sambut oleh para mandor proyek. Karena kali ini perusahaan Alex akan membangun komplek ruko yang lumayan besar jadi membutuhkan lebih dari lima mandor proyek,
"Maaf saya terlambat!" ucap Alex.
"Tidak pa pa pak, kami juga baru datang, bagaimana pak bisa kita mulai sekarang?"
__ADS_1
"Baik, mari!"
Para mandor proyek beserta arsitekturnya mengajak Alex berkeliling, menunjukkan beberapa titik lokasi yang akan mulai di bangun.
Setelah cukup lama berkeliling, Alex merasa ingin buang air kecil,
"Apa di sini ada toilet?" tanya Alex.
"Ada pak, tapi kondisinya tidak begitu bagus. Lebih baik pak Alex ke toilet masjid di seberang aja pak!"
"Nggak pa pa, saya ke toilet sini saja, di mana tempatnya?"
"Biar saya antar pak!"
"Tidak perlu, cukup tunjukkan lokasinya saja!"
Salah satu dari mereka pun menunjukkan arah jalan ke toilet.
"Baiklah, terimakasih. Kalian boleh bekerja lagi!"
"Baik pak!?"
Walaupun belum terlalu banyak pekerja. Ada beberapa pekerja yang tengah menghancurkan bangunan lama.
Alex pun menuju ke lokasi yang di tunjuk oleh salah satu mandor tadi dan benar saja seperti yang mandor itu katakan jika kondisi toiletnya tidak begitu baik.
Setelah menyelesaikan hajatnya, dengan cepat Alex keluar dari kamar mandi.
Tapi langkahnya terhenti saat melihat asap yang mengepul dari balik dinding yang tinggal setengah karena setengahnya sudah di hancurkan yang bangunan kamar mandi saja yang masih utuh.
mungkin sengaja di biarkan, agar nanti jika pekerja ingin berbersih atau buang hajat tidak kerepotan.
"Siapa yang merokok di situ?" gumamnya pelan. Tidak mungkin salah satu pekerja karena sekarang bukan waktunya istirahat, batinnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1