Elan Untuk Kiandra

Elan Untuk Kiandra
Bab 54


__ADS_3

"Sebenarnya kita mau ke mana?" Kia masih belum faham kemana mereka akan pergi sebenarnya meskipun mereka sudah duduk berdua di dalam mobil dengan penampilan Kia yang sudah berubah.


"Nanti juga tahu sendiri!" jawab Elan yang tampak begitu sibuk dengan layar datarnya seolah mengabaikan gadis yang duduk di sebelahnya itu.


Memang dia pikir aku punya ilmu membaca pikiran orang lain apa! gerutu Kia dalam hati. Ia benar-benar merasa diabaikan saat ini oleh pria yang telah memaksanya untuk ikut dengannya.


Lalu ini? Kia kembali menatap kebaya yang melekat di tubuhnya, beberapa waktu lalu setelah keluar dari kantor, Elan membawanya ke sebuah butik dan memintanya untuk memakai kebaya pilihan pria itu.


"Lalu kebaya ini? Kenapa harus pakek kebaya?" tanya Kia kemudian.


Sepertinya Elan mulai terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan dari Kia,


Hehhhh. ...


Elan menghela. nafas dan menghentikan kegiatannya, ia menoleh dan mendekatkan wajahnya pada Kia,


"Serius nggak tahu?" tanya Elan. Apa yang di lakukan Elan benar-benar berhasil membuat jantung Kia berdetak lebih cepat.


Ya Allah, rasanya gini amet, keluh Kia dalam hati.


Kalau kayak gini, ini masih Elan yang sama, batin Kia. Ya_, sikap Elan yang hangat ini masih sama seperti Elan yang dulu pernah ia kenal bukan Elan yang sekarang yang begitu dingin.


Tapi nyatanya Elan juga merasakan hal yang sama dengan yang di rasakan oleh Kia.


Hari ini dan untuk selanjutnya, aku akan jadi priaritasmu setelah Allah dan orang tuamu kiandra Alexandra ..., perasaannya saat ini campur aduk antara takut ditolak dan merindu. Tapi Dnegan cepat ia mengendalikan perasaanya, ia benar-benar takut melakukan hal yang diluar kendali saat bersama Kia.


"Kenapa diam?" tanya Elan membuat Kia sadar jika ia tengah memikirkan pria itu dan Dnegan cepat Kia mengalihkan tatapannya ke arah lain,


"Ah tidak!"


Melihat pipi Kia yang memarah membuat Elan tersenyum tipis meskipun nyaris tidak terlihat tapi garis bibirnya terangkat. Elan pun kembali fokus pada layar ponselnya.


***


Di tempat lain, terlihat Nadin begitu terburu-buru hendak keluar rumah. Meskipun hanya memakai dress tapi tampak ia lebih rapi dibandingkan hari biasanya dan dengan polesan make up tipis di wajahnya menandakan kalau ia ingin menghadiri sebuah acara.

__ADS_1


"Kita pergi pak!" ucapnya pada sopir pribadinya yang tengah menunggunya.


Tapi belum sampai ia benar-benar masuk ke dalam mobil, tiba-tiba sebuah mobil masuk ke halaman rumahnya, ia tahu itu mobil siapa.


Mas Rendi ...


Nadin pun mengurungkan niatnya untuk masuk, ia menunggu suaminya itu menghampirinya.


"Pak Tejo masuk ke mobil dulu aja, Nadin nyusul." ucapnya pada sang sopir.


"Baik buk!"


Dan benar saja, suaminya keluar dari mobil setelah Ajun, Ajun oejg segera mempersilahkan Rendi setelah membukakan pintu mobil,


Rendi dengan wajah geram menahan emosi. Ia tahu suaminya sebenarnya menahan emosi karena saat ini ada dirinya.


Rendi pen segera menghampiri Nadin, meninggalkan Ajun yang masih berdiri di samping mobil.


"Mau ke mana?" tanya pria berwajah dingin itu.


"Maaf mas, kali ini maafkan Nadin. Mas ijinin atau tidak Nadin akan tetap pergi!"


"Nadin nggak keras kepala mas, ini hari terpenting dalam hidup Elan. Jadi biarkan Nadin menjadi saksi atas hari bahagia ini!"


"Kamu seyakin itu? Apa menurutmu gadis itu akan bersedia menikah dengan Elan?"


"Ya!" jawab Nadin dengan yakin. Walaupun ia tahu bahwa bahkan saat ini Elan tidak memberitahu rencananya pada Kia.


"Chhhh, seyakin itu!" gumam Rendi. Tapi Nadin tidak peduli.


"Mas,"


"Hemmm!"


"Jika mas Rendi masih menjadikan Nadin sebagai prioritas dalam.hidup mas Rendi, mas tahu kemana mas akan nyusul Nadin, assalamualaikum!" ucap Nadin lalu ia benar-benar masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Waalaikum salam!" ucap Rendi lirih sambil menatap mobil Nadin yang semakin menjauh.


***


Akhirnya mobil Elan sampai juga di lokasi, Kia masih tercengang dengan tempat itu.


"Ayo turun!" ajak Elan yang sudah lebih dulu turun dari mobil.


Kia menatap sekeliling, walaupun ia belum pernah ke daerah itu, tapi ia tahu tempat apa ini,


"Nggak mau, mau ngapain ke sini?"


"Papa sama mama kamu sudah di dalam, jadi_!"


"Ngapain?" tanya Kia Dnegan cepat meskipun Elan belum menyelesaikan ucapannya.


"Kalau mau tahu jawabannya, turun atau mau aku gendong ke dalam?"


"Astaghfirullah hal azim!" keluh Kia, akhrinya ia pun setuju untuk turun dari mobil.


Kia berjalan di belakang Elan sambil mengamati sekitar dan tengah berperang dengan pikirannya sendiri.


Hingga terlihat kedua orang tuanya tengah berdiri di depan pintu masjid menanti kedatangannya.


"Ma, pa!"


"Assalamualaikum, Kia." ucap Aisyah dan Alex tapi segera tatapan Alex beralih pada pemuda yang berdiri tegak di samping putrinya, ia masih ingat jelas tujuh tahun lalu pemuda itu yang ia peluk dengan berlumuran darah,


"Elan!" gumam Alex lirih dengan suara yang sedikit bergetar.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2