
Saat kiandra tengah berjuang agar bisa masuk ke ruang perawatan Elan, Nadin tengah berjuang membujuk suaminya yang keras kepalanya.
"Mas, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba Elan harus di bawa ke Singapura?" ternyata Rendi tidak hanya memberitahu tentang keadaan Elan sekarang tapi juga memberitahu jika ia akan membawa putranya itu ke Singapura, tapi bukan karena sebab lain, melainkan keadaan Elan yang tengah terluka.
"Elan membutuhkan perawatan yang bagus!" ucapnya dengan dingin. Ia menemui istrinya yang masih di dalam kamar. Ia sengaja tidak langsung menyuruh istrinya ke rumah sakit agar tidak bertemu dengan Alex.
"Elan tidak akan apa-apa, dia anak yang kuat mas!" rengek Nadin lagi, "Atau kalau gitu biarkan Nadin ke rumah sakit mas!" bujuknya.
"Aku tahu, tapi_!"
"Enggak, pokoknya Nadin mau ke sana!"
"Tidak, kita besok berangkat ke Singapura bersama-sama!"
"Sebelum itu aku mau melihat Elan mas!"
"Keputusanku sudah bulat,Ajun sudah menyiapkan surat-suratnya, kemasi beberapa baju saja yang mungkin akan di bawa!" ucap Rendi lalu berdiri dari tempatnya dan dengan cepat Nadin menahan tangannya,
"Mau ke mana mas?"
"Ke rumah sakit lagi,"
"Aku_,"
"Lupakan, jangan membuatku marah!" ucap Rendi dengan cepat memotong ucapan nadin.
Dan Nadin hanya bisa menatap pasarh pada punggung suaminya yang menghilang di balik pintu kamarnya.
Baru terdengar beberapa menit lalu mobil suaminya kembali meninggalkan rumah, ponselnya berdering dan dengan cepat Nadin mencari benda pipih itu.
Ternyata berada di atas nakas di samping tempat tidur, dengan cepat ia menghampiri benda itu,
"Dini!" gumamnya lirih.
Nadin pun segera menggeser tombol terima dan menempelkan benda pipih itu di daun telinganya yang tertutup hijab instan.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Din. Bagaimana apa kamu sudah tahu sesuatu? Pasti Ajun sudah bicara kan sama kamu? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku sungguh khawatir sama Elan, Din!" Nadin langsung memberondongi sahabatnya itu dengan banyak pertanyaan bahkan sebelum Dini sempat membuka suara.
"Waalaikum salam, Nad. Sabar kali Nad. Elan nggak pa pa, ia sudah melewati masa kritisnya."
"Alhamdulillah!?" sebuah perasaan lega segera memenuhi dadanya, meskipun tadi suaminya sudah mengatakan hal yang sama tapi ia masih begitu khawatir karena suaminya tiba-tiba ingin membawa putranya ke Singapura.
"Tapi Din_!"
"Aku tahu Nad, apa penyebabnya!" meskipun Nadin tidak mengatakannya, Dini langsung faham dengan apa yang ingin Nadin katakan.
"Apa?"
"Bukan Ajun yang mengatakannya!"
"Lalu?"
"Aisyah!"
"Aisyah?" Nadin tidak kalah terkejut, memang mereka tahu jika wanita itu berada di Jakarta tapi mereka belum pernah bertemu sekalipun secara langsung.
"Iya, dia menghubungiku. Elan terluka karena membantu Alex melawan beberapa preman yang tengah mengejar Alex!"
"Ya_, Alex dan Rendi sudah bertemu!"
Nadin terdiam mendengar ucapan Dini. Di sini Nadin sudah bisa membayangkan apa yang terjadi sebenarnya.
"Nad, Lo masih di situ kan?"
"Hmmm, beritahu nomor Aisyah. Aku ingin bertemu dengannya sebelum pergi ke Singapure!"
"Baik!"
***
Di tempat lain, akhirnya setelah cukup lama berdebat dengan pihak resepsionis, Kiandra di perbolehkan masuk tapi hanya beberapa menit saja.
__ADS_1
Walaupun sebentar, tapi itu sangat berarti baginya.
Kini kiandra tengah berdiri menatap tubuh yang terkulai lemah di atas ranjang rumah sakit dengan beberapa slang yang melekat di tubuhnya.
Pria itu tidak mengenakan baju karena ada sebuah perban yang mengikat tubuhnya, jika di lihat dari banyaknya perban sepertinya luka itu cukup dalam.
Perlahan Kiandra mendekat, ia sengaja menggeser kursi yang ada di samping ranjang rumah sakit, walaupun sebentar tapi ia ingin pembicaraan mereka berkualitas.
"Elan_!" entah kenapa saat menenyebut namanya, bibirnya bergetar dan air mata seakan memenuhi kelopak matanya. Dengan cepat Kiandra menghapusnya agar tidak sampai jatuh.
"Sebelum kamu pergi, aku ingin bicara sesuatu sama kamu. Saat itu, kamu pernah bertanya padaku. Apa aku menyebut mana kamu dalam setiap doaku, dan sekarang aku akan menjawabnya." Kiandra berhenti dan memberi jeda pada setiap ucapanya.
Berkali-kali Kiandra menyeka air matanya,
"Dan jawabannya belum. Tapi setelah ini pasti_!"
"Setelah ini, aku akan menjadikan namamu sebagai prioritas dalam doamu."
"Mungkin ini terlambat, mungkin nanti saat di sana kamu akan menemukan gadis yang jauh lebih baik segalanya dari aku."
"Tapi tetap saja, aku tidak akan menyerah. Aku akan mematahkan doa siapapun yang baru yang mencoba masuk dalam kehidupan kamu."
"Aku berharap doa kamu yang itu juga jangan berubah ya!"
"Terimakasih untuk beberapa bulan ini, dan aku menunggu untuk banyak waktu yang akan kita habiskan nanti saat kita bertemu lagi!"
"Assalamualaikum, Elan!"
Kiandra akhirnya benar-benar mengakhirinya, ia meninggalkan kamar Elan dengan perasaan lega. ia membawa harapan besar suatu hari nanti.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...