
"Aku Elan. Temennya Kiandra satu kelas, sebenarnya tadi mau ke rumah Tante, tapi berhubung ketemu Tante di sini, jadi aku kasih ini sama Tante aja deh, ini di kasih mama suruh ngasih ke Kiandra! Elan nitip ya Tante!" ucapnya lagi panjang lebar.
Elan ....
Rasanya suara Aisyah hanya tertahan di tenggorokannya, ia bahkan tidak bisa berucap karena terlalu terkejut.
Ya Allah, kenapa takdir ini aneh ....
Aisyah terus memandangi wajah Elan dengan tangan yang memegang gue.
Wajah yang sama, tapi dia lebih murah senyum ....
Gumamnya dalam hati lagi membuat Elan bingung, ia ingin segera pergi tapi melihat wanita di depannya hanya diam sambil memandanginya membuatnya tidak bisa pergi begitu saja.
"Tante tidak pa pa kan?" tanya Elan lagi sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Aisyah membuat aisyah tergagap.
"Ahhhh tidak pa pa, terimakasih ya atas kuenya!"
"Sama-sama Tante, kalau begitu Elan pergi dulu. Permisi!"
Elan pun beranjak dari tempatnya, berjalan dengan sedikit berlari dan sesekali melompat tangannya meraih apapun yang ada di dekatnya, meskipun sudah agak jauh tapi masih terdengar senandung dari bibirnya, entah apa yang tengah ia nyanyikan.
"Dia sungguh berbeda dengan pak Rendi meskipun wajahnya hampir sama!?" gumam Aisyah masih terus menatap Elan hingga menghilang bersama motornya.
"Elan!" gumamnya lagi sambil menyunggingkan senyum. Ini pertemuan pertama mereka setelah dua belas tahun tidak bertemu, anak laki-laki yang dulunya masih sebatas pinggang kini sudah lebih tinggi dari dirinya.
Teringat sekali mereka terakhir kali bertemu di acara pernikahan Leon,
***
Di tempat lain terlihat dia ibu muda tengah duduk bersantai berdua di dalam sebuah kafe,
Sepetinya kuality time seperti itu sangat di nikmati oleh dua ibu muda itu di tengah tugas mereka sebagai istri dan seorang ibu.
"Gimana, udah ketemu sama Aisyah?" tanya Nadin yang tampak sibuk dengan gadget nya. Sesekali terlihat ia menggeser layarnya ke atas seperti tengah mencari sesuatu.
"Dia tahu rumahku, jika dia mau, dia pasti akan mencariku!" ucap Dini yang memilih menikmati satu cup es krim di tangannya.
Mendengar jawaban dari sahabatnya, Nadin segera mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya,
"Kamu yakin? Nggak pengen gitu lihat keadaan dia?"
"Pengen!"
"Lalu?"
"Jika dia tidak ingin menemui ku, berarti dia belum siap untuk bertemu denganku kan!?"
"Jika selamanya ia tidak siap bagaimana?"
"Pasti nanti dia ingin bertemu denganku, aku yakin!"
__ADS_1
"Ya sudah tunggu saja sampai tua!" ucap Nadin kesal dan ia memilih kembali fokus berselancar di media sosialnya.
"Lagi nyariin apa sih? Aku lihat dari tadi sibuk banget!" ternyata sedari tadi Dini juga penasaran dengan apa yang tengah di cari oleh Nadin.
"Lagi nyariin Alex?"
"Ya ampun masih penasaran aja sama Alex!?"
"Apaan sih nggak gitu. Aku cuma heran kok bisa sih dia nyembunyiin identitas nya Serapi ini!"
"Ya iya lah, dia pinter IT kayak pak Rendi!"
"Mungkin ya! Eh tuh Kinan datang tuh!" ucap Nadin begitu melihat anak perempuan yang tengah berjalan ke arah mereka.
"Cepet banget, perasaan baru beberapa menit!" keluh Dini tapi ia segera tersenyum saat anak perempuan berusia lima belas tahun itu sudah berada di dekatnya,
"Cepet banget sayang, guru les kamu bolos ya?" tanya Dini kemudian.
"Mama ih apa sih, ya nggak lah ma. Emang les renang mau berapa jam? Lama-lama bisa berubah jadi putri duyung aku." keluh Kinan, anak satu-satunya Dini dengan Ajun. Dan Nadin tertawa mendengar jawaban dari putri sahabatnya itu.
"Hai Tante Nadin!" sapa Kinan kemudian.
"Hai Kinan, itu mamah kamu ajak aja seharusnya les renang biar agar tinggi dikit!" ucap Nadin dan langsung di sambut tawa oleh Kinan.
"Jangan mulai ngajak ribut ya kamu Nad!" ucap Dini kesal.
"Udah ah ma, ayo pulang. Papa pulang kan hari ini!!" Ajak Kinan dan kali ini dini tidak bisa menolak.
"Besok ketemu lagi ya, ntar aku telpon kalau udah Sampek apartemen!"
"Siap!"
Akhrinya Dini dan Kinan meninggalkan Nadin sendiri. Ia sengaja tidak pulang dengan Dini karena ia masih harus menunggu Keysa yang tengah les musik.
Mereka sebagai mencari tempat les untuk anak-anak nya yang berdekatan biar bisa janjian ketemuan selagi menunggu anak-anaknya les.
Tidak lama setelah Dini pergi, akhirnya Keysa pun datang dengan sebuah biola yang menggantung di punggungnya.
"Bunda!" sapa Keysa sambil memeluk Nadin. "Tante Dini mana bund?" tanya Keysa lagi sambil melihat sekeliling Nadin saat tidak menemukan Dini, padahal tadi Nadin kirim pesan bahwa ia tengah nongkrong dengan Dini.
"Sudah pulang Key!" jawab Nadin santai, ia kembali duduk dan si susul oleh Keysa,
Keysa meletakkan biolanya di atas meja,
"Haus bund, aku minum ya sisa bunda!" ucap Keysa sambil menunjuk gelas Nadin.
"Mau bunda pesenin sendiri?"
"Nggak usah bund, ini aja!" Keysa meneguk minuman milik Nadin yang tingga setengah.
"Gimana lesnya?" tanya Nadin begitu putrinya selesai minum.
__ADS_1
Hehhhh ....
Keysa menghela nafas,
"Ya kayak biasanya Bund, Minggu depan ada pentas musik sih katanya!" ucapnya tampak tidak bersemangat.
"Trus kamu ikut?" tanya Nadin.
"Ya gitu deh Bund!"
Mendengar jawaban singkat dari putrinya membuat Nadin mengeryitkan keningnya, tidak seperti biasanya yang begitu bersemangat.
"Nggak semangat banget putri bunda, ada apa?"
"Lagi males aja bund, Pengen Nggak ikut sih bund sebenernya!"
"Jangan gitu Key, mungkin kamu lagi capek aja. Abis ini gimana kalau belanja sama bunda!"
Mendengar tawaran dari bundanya, tiba-tiba semangat Keysa kembali datang. Meskipun ia bisa mengajak putrinya berbelanja setiap hari, membeli apapun yang mereka mau, tapi Nadin tidak pernah melakukan itu. Ia selalu mengajarkan pada putra putrinya untuk hidup sederhana, hemat.
Siapapun yang melihat sekilas, mereka hanya seperti keluarga sederhana pada umumnya dan tidak pernah ada yang mengira kalau ayahnya seorang pengusaha, pemilik beberapa apartemen elit di Jakarta.
"Beneran bund?" tanya Keysa memastikan, sungguh hal yang langka bundanya mengajaknya belanja.
"Iya, masak bunda bohong sih. Biar kamu semangat lagi!" sengaja Nadin mengajak Keysa belanja agar Keysa kembali semangat.
"Yesss!"
"Ya sudah, kamu tunggu di mobil sama paman Tono, bunda ke toilet dulu ya!"
"Siap bund!"
Sementara Keysa ke mobil, Nadin pergi ke kamar mandi. ia hanya ingin buang air kecil dan mencuci tangan.
Tidak lama ia kembali keluar dari kamar mandi, untuk keluar dari kafe, ia harus kembali melewati pintu depan.
Deg
Tapi segera langkahnya terhenti begitu berpapasan dengan seseorang yang baru beberapa menit lalu membuatnya penasaran.
Alex ....
Sepertinya pria yang ada di depannya juga tidak kalah terkejut.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...