Elan Untuk Kiandra

Elan Untuk Kiandra
Bab 71


__ADS_3

Beberapa anak buah Alex juga sudah di datangkan meskipun masih dalam perjalanan.


Kia semakin khawatir saya melihat Alex dan Rendi mulai terpojok. Apalagi beberapa sabetan pisau sudah berhasil melukai Rendi juga Alex.


"Tidak, Kia harus bantu. Nggak bisa Kia diam di sini terus."


Melihat situasi yang semakin kacau, Kia benar-benar gemas ingin turun.


"Pa, awas!" Kia berteriak saat seseorang hendak mengayunkan senjata tajam ke arah Alex, beruntung Alex dengan sigap menangkisnya.


"Kia, masuk!" perintah Alex begitu berhasil menangkisnya.


"Tapi pa!"


"Masuk!"


Karena Alex terus memaksanya untuk kembali masuk. Kia pun kembali hendak masuk. Baru juga berbalik tiba-tiba seseorang dari arah belakang hendak mengayunkan sebuah pisau panjang.


"Kia, awasssss!" teriak Alex karena berada di posisi yang tidak memungkinkan untuk berlari mendekati Kia sedangkan Rendi yang mendengar teriakan Alex dengan cepat menghampiri Kia dan menahan sabetan senjata tajam itu tepat di lengannya.


"Ayaahhhh!" Kia hanya bisa berteriak dan menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan.


Rendi terjatuh Dnegan bertumpu pada lutut sedangkan tangan kirinya membekap lengan kanannya yang mengucur darah segara karena terkena sabetan senjata tajam.


Tubuh Kia semakin bergetar dan bahkan tidak bisa berpindah dari tempatnya.


"Masuk Kia, masuk!" perintah Rendi dengan sisa kekuatannya,


Pria yang berhasil melukai Rendi itu terlihat tertawa senang dan hendak mengayunkan senjatanya lagi.


"Sekarang kamu bisa apa? Kamu tinggal pilih nyawamu atau menantu kesayanganmu ini?" tanyanya dengan congkak.


"Jangan macam-macam sama dia, urusanmu hanya denganku!" ucap Rendi dan pria itu malah tertawa puas.

__ADS_1


"Baiklah, bagaimana kalau dua-duanya?"


"Sedikit saja kamu melukai dia, tanggung akibatnya." gertak Rendi.


"Cuihhhhh, Masih bisa menggertak juga rupanya." pria itu meludah, ia pun mengarahkan senjata tajamnya tepat pada pipi Kia dan bersiap untuk menggores pipi mulus Kia.


"Kalian di kepung! Angkat tangan!" ucap seseorang yang berdiri di belakangnya sambil mengarahkan sebuah senapan tepat ke arah pangkal kepalanya.


"Jatuhkan senjata anda!" ucap pria bersenjata timah panas itu membuat pria itu tidak bisa berkutik lagi saat menyadari bukan hanya satu, dua orang dengan senjata yang sama tapi lebih dari tiga puluh orang, bahkan semua anak buatnya sudah di ringkus.


Pyrrraangggg


Pria itu menjatuhkan senjatanya tepat di depan Kia bersamaan dengan Kia yang menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Nafasnya seolah hampir habis karena hal ini.


Akhrinya semua penjahat itu berhasil di amankan oleh pihak berwajib, sedangkan Alex dengan cepat membawa Rendi ke rumah sakit meskipun kini tubuhnya sendiri penuh luka.


"Jangan tidur Rend, usahakan untuk tetap bangun." ucap Alex selama di perjalanan. Sedangkan Kia yang duduk di belakang terus berdoa untuk keselamatan ayah mertuanya.


Beberapa kali Elan melakukan panggilan tapi Kia seolah-olah tidak punya daya untuk mengangkatnya, bahkan buka. hanya Elan, bunda Nadin pun melakukan hal yang sama.


"Elan pa." ucap Kia.


"Angkat!" perintah Alex lagi. Kia kembali menatap Rendi yang sudah mulai kehilangan kesadarannya karena terlalu banyak kehilangan darah.


Dengan ragu Kia pun mulai menggeser tombol terima,


"Ha_, hallo."


"Assalamualaikum, Kia!"


"Wa_, waalaikum _, salam Elan." ucapnya terbata bahkan terlihat saat ini tangannya bergetar.


"Kia ada apa? Perasaanku tidak enak, kamu baik-baik saja kan?" tanya Elan dan Kia menggelengkan kepalanya seolah Elan bisa melihatnya. Tiba-tiba air matanya luluh tidak terbendung lagi.

__ADS_1


"Kia kenapa menangis? Katakan ada apa?" terdengar suara Elan mulai panik.


"Ayah kamu terluka, kami sedang menuju ke rumah sakit saat ini." ucap Alex segera menyahutnya sebelum Elan semakin cemas.


"Daddy, Daddy ada apa? Kenapa ada Daddy juga?" tanya Elan setelah mengenali suara itu.


"Nanti kalau kamu sampai, Daddy akan cerita semuanya."


Belum sampai Elan kembali bertanya, Kia dengan cepat menutup sambungan telponnya bahkan tanpa mengucapkan salam.


Akhrinya mereka sampai juga di rumah sakit, kedatangan mereka langsung di sambut para perawat dan dokter yang akan mengobati Rendi.


Selagi Rendi di bawa ke UGD, dokter pun membawa Alex untuk di lakukan perawatan atas luka-lukanya.


Kia menunggu di depan ruang UGD sendiri, hingga Aisyah datang.


"Assalamualaikum nak, ada apa ini?" tanyanya panik.


"Waalaikum salam, ma!" Kia segera memeluk mamanya dan menumpahkan kembali air matanya.


Hingga belum sampai Kia bercerita, Nadin pun datang.


"Aisyah!, Kia!" ucapnya membuat dua wanita itu menatap ke arahnya.


"Bunda." Kia berhambur memeluk Nadin, "Ayah Rendi di dalam bund." ucap Kia sambil menunjuk ke arah pintu UGD.


"Bunda tahu, sayang. Bunda tahu." ucap Nadin sambil mengusap jilbab belakang Kia yang banyak noda darah di sana.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2