
Kini Kiandra sudah sampai di perpustakaan, ini pertama kalinya setelah pindah ke sekolah barunya ini memasuki ruang yang akan menjadi tempat favoritnya.
Setelah sedikit berbasa basi dengan petugas perpustakan terutama mengurus mengenai kartu perpustakaan, ia memilih beberapa buku yang berhubungan dengan tugasnya.
Sungguh baginya tugas adalah nomor satu, itulah sebabnya ia bisa dua tahun lebih cepat sekolahnya dibandingkan dengan teman-temannya, ia mengikuti kelas akselerasi.
Selain mengambil buku untuk mengerjakan tugas, Ia juga sengaja mengambil beberapa buku tentang hukum, semenjak tahu tentang kasus yang pernah dijalani oleh papanya, ia jadi tertarik dengan hukum.
Setelah lulus nanti ia berencana mengikuti beasiswa ke luar negri dan memlilih fakultas hukum. Ia bercita-cita menjadi pengacara atau bekerja di kejaksaan.
Setelah menemukan beberapa buku yang ia cari, Kiandra pun segera mencari tempat duduk yang kosong. Perpustakaan itu cukup penuh pengunjung, rupanya daya baca siswa di sekolah ini cukup tinggi, kecuali segelintir siswa dan salah satunya tentunya Elan.
Tepat di samping jendela ada yang masih kosong, meskipun di depannya ada seorang anak perempuan ha g tengah serius dengan buku-buku nya.
Sambil membawa buku-buku nya yang setumpuk tinggi, ia pun segera menuju ke bangku itu.
Saat ia berada di hadapan gadis itu, gadis itu sama sekali tidak merespon kedatangannya,
“Permisi," ucap Kiandra dan gadis itu tampak masih diam.
"Permisi," ucapnya sekali lagi, tapi dengan nada yang sedikit tinggi, tapi gadis itu sama sekali tidak merespon ucapanya,
"Kak permisi, boleh saya duduk di sini?” tanya Kiandra kali ini dengan suara yang lebih tinggi, tapi nyatanya tetap tidak ada respon.
Akhirnya Kiandra pun meletakkan buku-bukunya, rasanya tangannya sudah sangat kebas karena begitu banyak buku yang ia ambil.
Kini Kiandra baru sadar, rupanya gadis itu memakai headset di telinganya, pantas saja beberapa kali ia memanggil tetap tidak ada respon.
Puk puk
Akhirnya Kiandra menepuk pundak anak perempuan itu pelan karena suaranya tidak mampu di dengar olehnya.
Gadis itu tengah memanggut-manggutkan kepalanya sepertinya ia sedang mendengarkan music.
Setelah merasakan tepukan di bahunya, gadis itu segera mendongakkan kepalanya dan melepas headsetnya.
“Iya?” tanya gadis itu.
“Boleh saya duduk di situ?” tanya Kiandra sambil menunjuk bangku kosong itu.
“Duduk aja, bukan bangku aku juga!” jawab gadis itu dengan santainya, ucapannya mengingatkan dia pada seseorang yang punya lagak yang sama.
“Makasih!” ucap Kiandra. Ia pun segera duduk di samping gadis itu di bangku kosong itu.
Setelah duduk dan menggeser semua bukunya yang sudah sempat ia letakkan di atas meja, Kiandra pun kembali menoleh pada gadis itu lagi.
Cuek banget dia ...., batin Kiandra karena gadis itu kembali memakai headset nya tanpa ingin bertanya lebih banyak pada Kiandra.
__ADS_1
Sepertinya gadis itu memang tidak terganggu dengan keberadaannya seolah-olah tidak ada siapapun di depannya.
Gadis itu kembali melakukan seperti kegiatannya yang tadi sebelum Kiandra datang. Gadis dengan rambut bergelombang itu kembali asik mendengarkan music dan membaca kembali bukunya.
Tapi hal itu tidak bertahan lama, karena sepertinya ia sadar jika Kiandra memperhatikannya.
Ia pun kembali melepas headsetnya dan balik menatap Kiandra dengan tatapan penuh pertanyaan.
Kiandra tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia mengulurkan tangannya pada gadis itu, sepertinya gadis itu cukup baik untuk di jadikan teman.
"Hai!" sapa Kiandra. dan gadis itu pun mengerutkan keningnya.
“Gue kenal sama lo ya?” sungguh pertanyaan yang aneh, biasanya pertanyaan itu di balik, seharusnya Lo kenal sama gue ya? tapi ini beda membuat Kiandra tersenyum dan kembali mengulurkan tangannya.
“hai …, aku Kiandra!” ucap Kiandra kemudian dan gadis itu malah mengamati Kiandra.
“kamu anak baru ya?"
"Iya,"
"Bukan anak Jakarta ya?"
"Iya, kok tahu? Tampak beda ya?" tanya Kiandra menanggapi.
"Bahasanya kok pakek aku kamu! Bikin baper cowok tahu!” jawab gadis ceplas ceplos dan panjang lebar.
“Kayak gitu ya? Aku baru tahu, aku dari Semarang!”
Semua warga sekolah kenal siapa Keysa jadi bukan hal yang sulit untuk mengetahui dia anak baru atau bukan, karena sudah pasti jika anak lama sudah mengenal Keysa dengan baik,
Walaupun begitu, tapi tidak banyak yang tahu kalau Keysa dan Elan adalah saudara karena dari segi prestasi saja mereka sangat berbeda. Apalagi mereka jarang terlihat bersama, saat di sekolah mereka lebih mirip dua orang yang tidak saling kenal. Bahkan saat berpapasan pun mereka tidak pernah saling sapa.
"Senang berkenalan denganmu!?" ucap Kiandra bersemangat,
“Rambut kamu bagus!” tambahnya saat melihat rambut Keysa yang bergelombang.
Keysa mencebirkan bibirnya,
“Itu persis seperti hinaan."
"Kenapa? Padahal bagus loh!" Kiandra sungguh tidak bermaksud untuk menghina.
"Karena seseorang memanggilku brokoli karena rambut ini!” ucap Keysa tapi bukannya marah ia malah tersenyum. Ia tidak suka seseorang memuji rambutnya, karena seseorang yang di harap bisa memuji rambutnya malah selalu menjadikan rambutnya sebagai bahan olokan.
“Benarkah, siapa?” tanya Kiandra penasaran.
“Elan!”
__ADS_1
“Elan, satu kelas sama aku?"
"Jadi kamu satu kelas sama dia? Siap-siap aja ketiban sial setiap hari kayak kedua temannya itu!?"
"Astaghfirullah hal azim, jangan sampai deh, tapi memang benar sih, sejak hari pertama aku datang ke sekolah ini, hanya dia yang paling menyebalkan menurutku!” ucap Kiandra mencoba mengungkapkan apa yang ia rasakan setiap kali bertemu dengan Elan.
“Iya …, dia benar-benar anak yang menyebalkan, sial sekali kamu satu kelas sama dia!" Keysa tampak menahan tawa agar suaranya tidak sampai membuat kegaduhan di perpusatkaan.
Tapi ada yang aneh di sini, Kiandra tengah menyadari sesuatu. Beberapa Minggu ini sepertinya setiap kali ia bertemu dengan siswa perempuan di sekolah ini, semuanya mengagumi Elan dan baru kali ini ada yang membencinya,
"Kenapa kamu membencinya padahal dia kan idola di sekolah ini?"
"Kamu juga kenapa? Dia kan idola!" tanyanya pada Kiandra, "Katanya sih!” sambungnya lagi.
Keysa juga merasa penasaran karena baru sekarang dia menemukan cewek yang tidak menyukai kakak laki-lakinya itu.
"Emmm, apa ya?"
"Dia kurang ganteng?"
"Ganteng sih, tapi aku nggak suka dia yang sok ganteng, sok keren dan gayanya selangir banget!” Kiandra bicara sambil membayangkan sosok anak laki-laki yang tengah mereka bicarakan.
Keysa tersenyum mendengarkan jawaban dari Kiandra,
“Baguslah!”
“kenapa?”
“Akhirnya ada juga yang berpikiran waras, kamu orang kedua setelah aku yang tidak mengaguminya!”
“Jadi aku bukan orang pertama ya?” tanya Kiandra, padahal kemarin ia mengatakan jika ia akan mengisi daftar pertama catatan orang yang tidak menyukai Elan.
"Kayaknya kamu terlalu percaya diri!?" ucap Keysa meledek Kiandra dan langsung dia sambut tawa lepas oleh Kiandra.
Hahaha ……
Tanpa sadar Kiandra kelepasan tertawa mendengarkan ucapan Keysa, membuat seisi perpusatakaan menoleh pada mereka. Tiba-tiba saja perpustakaan menjadi hening.
“Husssttt …, jangan berisik!” ucap petugas perpustakaan sambil menempelkan jari telunjukkan ke atas bibirnya.
“Upsss …, keceplosan!” ucap Kiandra sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...