
Alex masih duduk di tempatnya, menunggu hingga ia diperbolehkan masuk ke ruangan oleh para dokter. Meskipun bajunya berlumuran darah tidak berniat untuk menghubungi anak buahnya untuk meminta baju ganti, tampak sekali kalau saat ini ia benar-benar cemas hingga suara deringan ponsel membuatnya tersadar akan sesuatu,
"Astaghfirullah hal azim!" gumamnya sambil mencari keberadaan ponselnya yang berada di saku celananya.
Dengan cepat ia menerima panggilan telponnya dan menempelkan benda pipih itu di daun telinganya,
"Assalamualaikum, sayang!" sapanya dengan cepat sambil berlalu meninggalkan tempat itu, ia tidak ingin tiba-tiba dokter menyapanya dan membuat seseorang cemas.
"Waalaikum salam mas, masih di mana? Kenapa masih belum pulang?" samar-samar masih terdengar hingga Alex menghilang di balik dinding.
Tepat saat yang bersamaan, Rendi dan Ajun datang dan melihat pintu ruang ICU masih tertutup.
Saat Rendi hendak membuka paksa, Ajun segera mencegahnya,
"Sabar pak, sebaiknya kita menunggu ijin dari dokter!"
Segera Rendi menghempaskan tangan Ajun dan menatap Ajun dengan tatapan penuh kekesalan serta tangan yang mengepal menarik kerah kemeja Ajun,
"Di dalam ada Elan dan kamu bilang sabar!?" ucapnya dengan penuh penekanan sambil menghempaskan tubuh Ajun hingga membuat Ajun sedikit terhuyung ke belakang.
Cklek
Tiba-tiba pintu ICU terbuka membuat perhatian mereka teralihkan, dengan cepat Rendi menghampiri pria berjas putih yang baru saja menutup kembali pintu itu.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Rendi kemudian tapi sang dokter malah terlihat bingung.
"Dok?" tanya Rendi lagi.
"Kalian siapa ya?" tanya dokter kemudian.
"Saya ayahnya, orang tua anak yang ada di dalam!" ucap Rendi dengan menggebu, dia benar-benar tidak sedingin biasanya.
"Benarkah? Saya pikir pria yang mengantarkannya ke sini tadi!" ucap sang dokter kemudian.
"Pria?"
__ADS_1
"Iya, dia mengaku sebagai Daddy nya anak itu. Saya pikir dia, karena dia juga terlihat begitu khawatir!" ucap dokter dan Rendi tampak terdiam, sepertinya ia tengah berpikir sekarang.
Ajun pun mendekati sang dokter, "Dia yang menolong dok, dan pak Rendi ini yang ayah kandung anak yang di dalam, bagaimana dok apa kami sudah boleh melihatnya?"
"Maaf, pasien tengah dalam pengaruh obat. Jadi akan lebih baik kalau biarkan dia istirahat dulu, kondisinya belum benar-benar stabil karena ia banyak kehilangan darah!"
"Baik dok, kami mengerti. Terimakasih atas penjelasannya."
"Baik, kalau begitu saya permisi!"
Setelah dokter pergi, Rendi dan Ajun memilih duduk di tempat tunggu, setelah diam beberapa saat Rendi menoleh pada Ajun,
"Apa kamu mengetahui sesuatu?"
Pertanyaan yang cukup menohok bagi Ajun, ia tidak bisa menyembunyikannya lagi.
"Dari rekaman cctv rumah sakit_!" ucap Ajun dengan begitu berat.
"Tunjukkan padaku!" dengan cepat Rendi menyahutnya, dan Ajun terlihat ragu menyerahkan layar datar yang ada di tangannya.
Rendi segera mengamati rekaman cctv di beberapa titik, meskipun sudah lama sekali mereka tidak bertemu tapi ia masih sangat hafal dengan pria itu.
Sepertinya pria itu tidak kalah terkejut melihat keberadaan Rendi.
Rendi, dengan langkah cepatnya segera menghampiri Alex dan melayangkan sebuah tinjauan keras ke wajah Alex hingga membuat pria itu terjatuh ke lantai karena serangan mendadak itu.
Ajun yang melihat hal itu segera berlari mendekat, hendak melerai tapi Rendi sudah lebih dulu menarik tubuh Alex, membawanya ke rooftop rumah sakit,
ia mendorong tubuh Alex ke dinding pembatas dan berkali-kali melayangkan tinjuannya ke wajah dan perutnya.
Pria arrogant itu sepertinya memang tidak berniat melawan, ia membiarkan tubuhnya menjadi sasaran kemarahan Rendi.
Ajun yang berhasil mengejar segera menahan tubuh Rendi, ia khawatir jika terus di biarkan bisa jadi Alex mati oleh Rendi.
"Pak, hentikan. Tolong kendalikan diri anda!" Ajun berusaha menarik tubuh Rendi menjauh dari Alex tapi Rendi malah menghempaskan tubuh Ajun hingga terjerembab ke belakang.
__ADS_1
Tidak bisa di ragukan jika memang tenaga Rendi lebih kuat di bandingkan Ajun hingga ia tidak sanggup melerainya.
Hingga tiba-tiba seorang wanita berhijab berlari mendatangi Alex dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng bagi Alex, dia adalah Aisyah.
Setelah mendapat kabar dari Alex tentang keadaan Elan, Aisyah pun tidak pikir panjang dan langsung pergi ke rumah sakit.
"Pak Rendi, saya mohon hentikan!" ucap Aisyah bercampur dengan Isak tangis. Ia tengah memeluk erat tubuh suaminya yang babak belur karena ulah Rendi.
Bersamaan dengan itu beberapa perawat datang dengan membawa scurity untuk melerai mereka. Tapi sepertinya sudah terlambat karena Rendi sudah lebih dulu menghentikannya karena Aisyah.
Rendi yang tubuhnya di pegang oleh Ajun masih Menatap tajam pada Aisyah,
"Bawa pergi suami kamu sebelum benar-benar aku habisi di sini!" ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Alex dan Aisyah.
Segera setelah berada di tangga, Rendi menghempaskan tangan Ajun yang masih memegangi tangannya,
"Segera urus kepindahan Elan," ucapnya tanpa berniat menoleh pada lawan bicaranya.
"Maksud bapak dari rumah sakit ini?"
"Dari negri ini!"
"Pak_!"
"Keputusanku sudah bulat!"
Rendi tidak mau sampai kehilangan Elan untuk yang kedua kalinya, keberadaan Alex kembali seperti ancaman baginya.
Ia tidak mau sampai sayang Elan terbagi, ia ingin Elan hanya memiliki satu ayah yaitu dirinya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...