
Hingga akhirnya mereka sampai juga di depan ruangan yang menjadi tempat kerja ayah mertuanya.
"Om yakin ini ruangannya?" tanya Kia dan pria itu tersenyum sambil mengangukkan kepalanya.
"Ya, begitulah!"
Tok tok tok
Pria itu segara mengetuk pintu ruangan itu dan terdengar sahutan dari dalam, Kia yakin itu memang suara dingin ayah mertuanya.
Ceklek
Pria itu pun membukakan pintu untuk kia,
"Silahkan masuk!" ucap pria itu mempersilahkan Kia untuk masuk.
Pria yang tengah berada di ruangannya itu tampak mengerutkan keningnya,
"Frans!" ucapnya dnwgan sedikit terkejut karena sahabatnya itu datang dengan istri dari putranya.
"Aku bawakan menantu cantikmu! Baik banget kan aku? tidak aku biarkan nih menantimu lecet sedikitpun!"
Dan Rendi hanya menanggapinya dengan menarik sudut bibir sebelahnya meremehkan sahabatnya itu,
Tapi berbeda dengan Kia, yang sedari tadi hanya bisa menatap bingunh dengan cara mereka berkomunikasi, jelas ini bukan antara sopir dan atasan.
"Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Rendi dan membuat Kia menunjkk dirinya sendiri.
"Bukan! Dia!" ucap Rendi dengan dingin sambil menunjuk pria yang bersamanya yang bernama Frans itu.
"Ohhh aku!" dokter Frans pun langsung duduk meskipun tanpa di persilahkan untuk duduk, ia juga mengangkat kedua kakinya dan di letakkan di atas meja,
__ADS_1
"Yang sopan!" hardik Rendi, ia tidak mau terlihat tidak ada wibawanya di depan sang menantu yang ia sayang meskipun ia masih bingung bagaimana cara mengungkapkannya.
"Ohhh maaf! Suruh duduk dong menantunya!" ucap dokter Frans lagi dan ia pun kembali berdiri menghampiri Kia yang masih terpaku di tenpagnya.
"Ayo sayang, duduk!" dokter Frans menuntun kita untuk duduk di bangku sebelah tempat ia duduk tadi.
"Makasih om!" meskipun canggung dan bingung, ia masih belum ingin bertanya. Ia ingin membaca teka-teki yang berputar-putar di kepalanya itu sendiri.
"Ngapain ke sini? Jangan bikin rusuh!" sekali lagi Rendi menhahrdik sahabatnya itu.
"Santai aja bro!" ucap dokter Frans sambil memainkan kursinya, "Perkenalkan dulu dong aku sama menantumu! Baru aku jawab alasan gue ke sini!"
Rendi baru sadar dengan keberadaan Kia di sana, sepertinya Kia pun lupa apa tujuannya datang ke tempat itu.
"Kamu kenapa ke sini?" tanya Rendi pada Kia, wajahnya seketika berubah dingin saat menatap Kia tidak seperti tadi saat berkomunikasi dengan dokter Frans.
"Ahhh ini!" Kia segera menunjukkan tantangnya, "Kia mengantar ini, tapi jangan khawatir yah ini yang masak bunda!" ucap Kia sebelum di tanya macam-macam.
Tapi ucapan Kia malah membuat dia pria itu saling berpandangan,
"Apa ada masalah om?" tanya Kia.
"Dari dulu perasaan hanya sekali Nadin masak dengan benar, itu pun mie instan!" ucap dokter Frans sambil tertawa.
"Baiklah kalau ayah kamu tidak ingin mengenalkan om sama kamu, biar om sendiri yang perkenalkan. Kenalkan saya dokter Frans Aditya. Sahabat dari orok sama ayah kamu yang dingin sedingin kulkas sembilan pintu!"
Mendengar itu, Kia malah terbengon. Bagaimana bisa dia pria dengan kepribadian yang jauh berbeda itu bisa menjalin persahabatan.
"Om yakin?" tanya Kia, sebenarnya keceplosan. dan langsung di sambut tawa oleh dokter Frans berbeda dengan Rendi yang lemengos.
"Om sendiri juga bingung, bagaimana bisa. Kayaknya itu memang saking canggih nya om jadi nggak masalah kalau deket-deket sama kulkas sembilan pintu!" ucapnya sambil tertawa dan Kia pun ikut tersenyum dengan candaan dokter Frans.
__ADS_1
"Frans, bisa kan berhenti membual, sekarang katakan mau apa ke sini?" tanya Rendi menghentikan tawa dokter Frans.
"Nih ngantar menantumu, sekalian ngantar makan siang."
"Issttttt!" Rendi mendengus kesal merasa dipermainkan oleh sahabatnya itu.
" Aku juga lapar, boleh bagi sama aku ya?" tanya dokter Frans tapi Rendi ingin menanggapi, sepertinya ia gengsi Dnegan keberadaan Kia.
"Kalau gitu Kia pamit dulu ya yah, om!" ucap Kia merasa tidak enak dengan sang ayah.
"Nggak nunggu om?"
"Kia naik taksi aja om! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Kia pun akhirnya memutuskan untuk keluar, tapi terlebih dulu ia ingin melihat komunikasi dua orang itu jika tidak ada dirinya.
Benar saja saat ia keluar, terlihat dua pria dewasa itu nampak berebut rantang yang dia bawa persis seperti anak kecil.
Kia tertawa melihat hal itu,
"Upsss!" Kia menutup mulutnya saat tanpa sadar pintunya kembali terbuka karena terdorong tubuh Kia membuat kedua pria itu kembali terdiam dan melepaskan. rantang di tangan mereka.
"Maaf, Kia pergi sekarang!" ucap Kia dan kembali menutup pintunya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...