Elan Untuk Kiandra

Elan Untuk Kiandra
Bab 41


__ADS_3

Aisyah membawa suaminya ke ruang perawatan, tampak beberapa perawatan dan seorang dokter tengah menanganinya.


Butuh waktu setengah jam untuk merawat luka-luka di tubuh Alex, bukan hanya terluka karena di hajar oleh Rendi tapi juga bekal perkelahian tadi.


Kini akhrinya selesai juga dan Alex di pindahkan ke ruang perawatan. Suami istri itu masih saling diam, mereka tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Hingga setelah seperempat jam, barulah Aisyah buka suara.


"Jadi mas sudah tahu kalau dia Elan, putranya mbak Nadin?"


Alex malah mengerutkan keningnya mendapat pertanyaan dari sang istri,


"Sayang, jadi kamu sudah tahu kalau anak itu_?" Alex malah balik bertanya pada sang istri dan Aisyah pun mengangukkan kepalanya.


"Sejak kapan?" tanya Alex lagi.


"Sejak Kia memutuskan untuk membantu Elan dan menjadi mentornya!"


"Jadi selama ini_?"


"Iya mas, Kia dan Elan setiap hari bertemu tapi karena Kia tidak ingin membuat mas marah, Kia sengaja sembunyi-sembunyi. Maaf mas, Kia lakuin itu atas persetujuan dari Aisyah!"


Alex kembali diam, ia tidak menyangka karena keras kepala dan sikap arogannya membuatnya tidak mengetahui banyak hal. Bahkan ia tidak bisa mengenali anak yang dulu begitu ia sayangi.


Bahkan jika di flashback lagi ke belakang, yang membuatnya bisa bertemu dan menikah dengan wanita sehebat dan sebaik Aisyah itu karena Elan.


Elan lah yang telah melatar belakangi pernikahannya dengan Aisyah. Elan yang membuatnya merubah keputusan untuk mengakhiri kesendirian dan melupakan kisah kelamnya karena wanita.


Seandainya saja saat itu, jika ia tidak jatuh cinta pada bayi kecil Elan. Mungkin sampai kini ia masih tersesat sebagai seorang Alex yang menghabiskan waktunya di dunia hitam karena tidak mengenal sosok Aisyah yang telah merubah segalanya.


"Maafkan aku ya, pasti aku sudah menjadi papa yang gagal buat Kia! Kia pasti sangat kecewa sama papanya yang egois ini!" ucap Alex dengan wajah putus asanya.


"Siapa bilang pa!" tiba-tiba Kiandra muncul dari balik pintu dan tersenyum membuat perhatian Alex dan Aisyah teralih ke arahnya.


"Sayang!" ucap Alex dan Aisyah bersamaan.


Kiandra pun segera berjalan ke arah mereka dan Aisyah pun segera memberikan tempat duduknya pada sang putri. Ia memilih berpindah duduk di tepi ranjang suaminya.


Kiandra pun duduk di sana dan menggenggam tangan papanya,


"Papa itu super Hero bagi Kia dan Arsy, dan selamanya akan seperti itu. Terlepas dari siapa masa lalu papa, Kia sama sekali tidak peduli!"


Mendengar ucapan sang putri membuat Alex dan Aisyah merasa terharu,


"Terimakasih sayang, sini peluk papa!" Alex meregangkan kedua tangannya dan siap untuk di peluk sang putri.


Akhirnya bukan hanya Kiandra, tapi Aisyah pun juga berhambur ikut berpelukan bersama sang putri.


Setelah puas berbicara dengan papanya, kiandra pun memutuskan untuk keluar. Ini sudah pagi, waktunya sholat subuh, ia memutuskan untuk sholat di mushola rumah sakit.


Sebenarnya ia bukan hanya ingin sholat subuh tapi ia juga sangat penasaran dengan keadaan Elan. Ia tahu apa sebab papanya bisa berada di tempat ini.


Ia mengetahui keadaan Elan dari Keysa.


Flashback on

__ADS_1


Setelah sampai di rumah, ia masih bisa melihat mamanya yang tengah menonton tv,


"Assalamualaikum, ma!" sapanya sambil memeluk dan mencium pipi mamanya, rumah masih terlihat sepi. Ia yakin saat ini papanya belum pulang, "Papa kemana sih ma, kok akhir-akhir ini pulangnya malam terus?" protesnya.


"Katanya ada sedikit masalah dengan proyeknya, makanya papa lagi sibuk menyelesaikannya."


"Ohhhh, ya sudah. Kia ke kamar dulu ya ma,"


"Iya sayang!"


Setelah masuk kamar dan membersihkan diri, Kiandra pun seperti biasa, mengulang kembali belajarnya.


Tepat jam sebelas malam, matanya terasa berat sekali tapi ia belum mendengar mobil papanya pulang. Ia pun memutuskan untuk kembali turun dan menghampiri sang mama.


"Ma, papa belum pulang juga?" tanyanya tampak begitu khawatir pada papanya.


"Belum sayang!" rupanya sang mama juga masih menunggu kepulangan papanya.


"Di telpon aja ma!"


"Sudah sayang, beberapa kali tapi nggak di angkat-angkat!" ucap sang mama dengan wajah yang tidak kalah khawatir. "Kamu tidurlah, nanti kalau papa sudah pulang biar mama minta ke kamar kamu!"


"Nggak deh ma, Kia temenin mama aja!"


Dan berkali-kali Aisyah menghubungi sang suami hingga tepat jam satu malam barulah telponnya di angkat.


"Alhamdulillah papa angkat!"


Dengan cepat Aisyah menempelkan b3nda pipih itu di telinganya,


"Di rumah sakit mana mas, Aisyah akan ke sana!"


"...."


"Nggak, pokoknya Aisyah ke sana. Nggak mau tahu! Assalamualaikum!"


Setelah mengucap salam, tanpa menunggu jawaban salam dari seberang sana, Aisyah segera menutup sambungan telponnya.


"Ada apa ma? kenapa.rumah sakit?" Kiandra tidak kalah khawatir mendengar tentang rumah sakit.


"Nggak pa pa,bukan papa.Tapi ada papa lagi bawa temen kamu ke rumah sakit!"


"Temen Kia siapa ma?"


"Elan!"


Deg


Tiba-tiba jantung Kia seperti kejatuhan baru besar, seperti ada dataran di hatinya mendengan Elan berada di rumah sakit.


"Elan?" tanyanya Dnegan wajah penuh khawatir.


"Iya sayang."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Mama juga belum tahu, pokoknya kamu di rumah saja ya. Mama mau nyusul papa ke sana."


Kiandra masih terpaku di buatnya, ia bahkan belum bisa berpikir jernih hingga namanya yang berpamitan pergi, ia masih berada di tempatnya. Tubuhnya seperti kehabisan tenaga dengan sendirinya.


Hingga setengah jam setelah mamanya pergi, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia berharap itu dari mamanya dan mengabarkan keadaan Elan. Karena jika di lihat dari keberangkatan mamanya, pastilah mamanya sudah sampai sejak seperempat jam lalu.


Tapi ternyata bukan dari sang mama, melainkan dari sahabatnya Keysa.


"Keysa, kenapa malam-malam telpon?" gumamnya sambil melirik jam yang menggantung di dinding dan sudah hampir jam tiga dini hari.


Kiandra pun segera menggeser tombol terima dan menempelkan benda pipih itu di daun telinganya.


"Assalamualaikum Key, ada apa malam-malam telpon?"


"Waalaikum salam, Kia." tampak suara di seberang sana terdengar panik.


"Kamu kenapa Key?"


"Bukan aku Kia, tapi Elan!"


"Elan?" Kiandra sampai mengerutkan keningnya mendengar Keysa menyebut nama Elan.


"Iya Ki, dia masuk rumah sakit."


"Kamu tahu dari mana?" tanya Ia lagi dan Keysa akhirnya menceritakan semuanya, hubungannya dengan Elan.


"Jadi kalian saudara?"


"Iya Ki, maaf! Tapi ada yang lebih penting dari itu. Elan sangat mencintai kamu!"


Mendengar ucapan Keysa, Kiandra terdiam. Ia memang sudah tahu tapi ia sebelumnya tidak yakin.


"Dan yang lebih penting lagi, besok jam tujuh Elan akan di bawa ke rumah sakit yang ada di Singapura, kemungkinan dia juga akan tetap tinggal di sana, jadi sebelum berangkat tolong temui dia sebentar saja! Aku mohon!"


"Kenapa?"


"Panjang ceritanya, pokoknya yang lebih penting, temui Elan sebelum terlambat. Sudah aku cuma mau kasih tahu kamu itu aja!"


Keysa pun menutup sambungan telponnya sebelum Kiandra kembali bertanya, tapi lagi-lagi Kiandra terpaku di buatnya. Rasanya dadanya begitu sesak mendengar jika Elan akan pergi jauh.


Flashback off


Setelah bertanya pada pihak resepsionis, barulah kita bisa menemukan di mana Elan di rawat.


"Adek siapanya pasien?" tanya petugas resepsionis.


"Saya temannya satu sekolah kak, boleh ya!" bujuk Kiandra, ia tahu tidak mudah menemui Elan setelah ia tahu bagaimana latar belakang keluarga Elan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2