Elan Untuk Kiandra

Elan Untuk Kiandra
Bab 7


__ADS_3

Setelah acara kabur-kaburan itu, lebih tepatnya kesekian kali mencoba kabur, Rendi alias ayah Elan semakin memperketat pengawasan pada Elan.


Ia merasa Elan butuh pengawasan khusus,


"Jadi bagaimana tindakan pak Rendi selanjutnya!?" tanya pria berjas hitam yang selalu mengikuti kemanapun Rendi pergi, dia adalah Ajun.


Jika lupa maka author ingatkan lagi tentang Ajun.


Ajun adalah pengawal pribadi Rendi, bahkan sejak mereka masih muda. Ajun selain menjadi pengawal pribadi Rendi yang juga pernah di tugaskan untuk mengawal sang istri saat hamil putrinya, Ajun juga suami dari sahabat Nadin yang bernama Dini. Dan yang lebih dan akan semakin rumit lagi, jika lupa maka author ingatkan lagi bahwa Dini adalah sepupu dari Aisyah.


Ada banyak hal kebetulan di dunia ini yang sebenarnya tidak kebetulan karena nyatanya semua sudah di atur. Kita memang tidak bisa memilih skenario kita sendiri tapi kita bisa menciptakan babak baru dengan versi cerita kita sendiri, mau jadi tokoh utama dalam kisah kita sendiri atau hanya sekedar numpang jadi figuran di dalam kisah orang lain.


Hidup memang butuh perjuangan, karena menjadi tokoh utama bukan hanya numpang lewat tapi jungkir balik dengan skenario paling panjang.


Mungkin itulah yang akan di pilih Elan dan Kiandra, dari pada hanya menjadi anak dari si balok es dan si arrogant, mereka memilih menciptakan kisah mereka sendiri dengan versi mereka sendiri.


Kembali ke Ajun dan pak Rendi ya!!!!


Ohhh iya, gimana ya kisah Juna si tentara tampan? Jadi kepo


Hussttttt!!!! Nggak kelar-kelar kalau cari kisah para tetua, sekarang kembali ke kisah Elan dan Kiandra dulu ya.


"Jadi bagaimana tindakan pak Rendi selanjutnya!?" tanya pria berjas hitam yang selalu mengikuti kemanapun Rendi pergi, dia adalah Ajun.


"Aku mau, keamanan buat Elan di tambah lagi." ucapnya tegas tanpa mengubah ekspresi dinginnya.


"Baik pak!" ucap Ajun yang sudah bersiap dengan tugasnya, tapi baru hendak berbalik tiba-tiba ia teringat sesuatu,


"Oh iya pak?!"


"Apa lagi?"


"Nyonya besar mengundang anda untuk minum teh di kediamannya!"


"Baiklah, aku mengerti! Pergilah!"


"Saya permisi!"


Rendi sudah cukup tahu dengan maksud undangannya itu, kehebohan yang dilakukan putranya kemarin pasti sudah sampai di telinga nyonya Ratih dan keluarga besarnya, ia harus siap dengan segala konsekuensinya.


***


Dan benar saja, pagi ini di rumah itu tengah terjadi keributan. Elan harus protes sana sini gara-gara ulah ayahnya yang terkadang terlalu posesif atau terlalu ketat.

__ADS_1


"Ampun deh, ini sudah keterlaluan!?" keluh Elan saat menatap pria yang berdiri tengah membuka pintu mobil untuknya.


Ia pun kembali berbalik ke dalam rumah. Ya_, ia bahkan tidak boleh mambawa mobil sendiri, ia harus di antar supir untuk pergi ke sekolah atau ke tempat lain termasuk kesempatan untuk nongkrong bersama teman-temannya bakal hilang.


"Sayang, ada apa? Ada yang ketinggalan?" tanya Nadin yang melihat Elan kembali.


"Bunda, ini serius?" tanya Elan dan Nadin pun hanya mengeryitkan keningnya tidak memberi dengan maksud dari pertanyaan putranya itu.


"Apa lagi sayang?" tanya Nadin sambil mendekati putra sulungnya itu.


“Ayo lah bun, Elan nggak mau di anter sopir! Baru juga sim nya jadi masak nggak boleh di gunain!” protes Elan dengan nada manjanya. Beruntung saja ayahnya sudah berangkat kerja jadi keributan ini tidak bertambah besar.


“Elan …, sudah nggak usah protes! Itu sudah menjadi keputusan ayah kamu, jangan sampek sim kamu di tarik lagi sama ayah!” ucap Nadin, "Ya udah bunda mau lanjut sarapan!" Nadin memilih kembali duduk dari pada terus meladeni putranya,


"Ayolah bund!" rengek Elan, ia ikut kembali duduk seakan ia lupa kalau sedang buru-buru ingin berangkat ke sekolah.


"Nggak bisa Elan..., kalau Elan mau naik mobil ya di anter sopir kalau enggak berarti ya naik angkot!" ucap Nadin yang pura-pura sibuk menyantap sarapannya.


"Ihhhhh!?" Elan hanya bisa mendengus kesal. Ia sedang mencoba mencari cara agar bisa ijin membawa motor atau mobilnya.


“Pagi bunda …!” sapa Keysa yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Pagi sayang, ayo sarapan!" ucap Nadin saat Keysa mencium kedua pipinya.


"Eh Abang Elan nyebelin, nggak jadi berangkat pagi?" tanyanya dengan senyum mengejek, pasalnya Keysa tahu hari ini Elan sudah ada janji dengan teman-temannya untuk berangkat lebih pagi karena akan ada turnamen basket antar sekolah.


“Iiisssstttt …, si brokoli pakek keluar lagi!” gerutu Elan sambil menyantap rotinya asal meskipun perutnya sudah kenyang.


"Ehh itu jatah sarapan Key, kenapa di embat juga!?" Keyra segera merebut roti yang sisa setengah dari tangan Elan dan melahapnya hingga habis.


"Jorok Lo!?" ucap Elan melihat kelakuan adik perempuannya.


"Biarin! sisa Abang gue juga, nggak najis kan Lo!?"


"Gue jitak pala Lo ya!?" Elan sudah berdiri dan hampir menjitak kepala Keysa tapi dengan cepat Keysa bersembunyi di samping bundanya.


"Bunda, Abang tuh!"


“Elan jangan gitu sama adiknya!"


"Weekkkkk!?" key yang merasa menang menjulurkan lidahnya pada Elan.


"Key …, yang sopan sama abang kamu!” ucap Nadin lagi pada Keysa.

__ADS_1


“Iya bun …, marahi tuh! Nggak punya sopannya sama kakak!” ucap Elan bergaya seperti propokator.


"Kayak situ nggak dimarahi aja." ucap Keysa kesal, ia pun kembali mengambil selembar roti dan mengoleskan selai diatasnya dan segera menyantapnya.


“Gini aja deh bund, Elan nebeng Key aja!" ucap Elan yang akhrinya dapat ide.


"ENGGAK!" tapi langsung mendapat penolakan tegas dari Keysa.


"Ayolah, kamu kan adikku yang paling cantik, baik, imut, pinter, pokoknya segalanya!"


"Enggak ya, aku nggak mau satu sekolah heboh gara-gara kamu!?"


"Ayolah!" rayu Elan.


"Ijinin aja key, lagi pula kan juga sama sopir." bujuk Nadin juga, tapi Elan segera mengerutkan keningnya.


"Jadi Key pakek sopir?" tanya Elan yang ternyata baru tahu.


"Emang Lo pikir gue bawa mobil sendiri? Di kurung di penjara bawah tanah kalau gue sampek bawa mobil sendiri sama ayah!?" ucap Keysa dan akhrinya Elan hanya bisa menghela nafas frustasi.


Setelah susah payah membujuk ayahnya untuk mendapatkan SIM kini benda kecil itu sia-sia gara-gara kecerobohannya sendiri.


"Baiklah, apa boleh buat!?" Elan pun lalu berdiri dari duduknya dan berjalan keluar rumah dengan lunglai tanpa tenaga.


"Emang dia belum sarapan bund?" tanya Keysa sambil menatap punggung Elan yang semakin menghilang di balik pintu.


"Dia siapa?" Nadin pura-pura tidak tahu, meskipun ia tahu yang di maksud putrinya itu Elan.


"Ihhh, bang Elan, bund!"


"Nah gitu dong panggilnya, dengernya kan jadi adem, bunda! Sudah, cuma lagi nggak di bolehin sama papa buat bawa mobil sendiri, motornya juga di Rante sama ayah!?"


"cttt cttt ctt, kasian kasian ...!" ucap Keysa sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum penuh kemenangan melihat penderitaan sang kakak.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2