Elan Untuk Kiandra

Elan Untuk Kiandra
Bab 57


__ADS_3

Tentu pernyataan Rendi menjadi sebuah keputusan akhir.


Semua tidak menyangka di saat-saat terakhir seperti ini, pria dingin itu muncul dan mengesampingkan egonya.


Apa yang telah membuatnya berubah pikiran?


Flashback on


Setelah kepergian mobil Nadin, Rendi duduk termenung di teras rumahnya.


Ajun yang melihat hal itu, ia tahu harus melakukan sesuatu. Ia tahu jika atasannya itu begitu keras kepalanya, meskipun ia berusaha membujuk tetap saja percuma. Ia akhirnya menghubungi seseorang yang paling bisa melakukannya.


Dan benar saja, selang beberapa menit setelah Ajun menghubungi orang itu, sebuah motor memasuki halaman rumah itu.


Tapi sepertinya pria dingin itu sampai tidak menyadari kedatanganya,


"Selamat datang dokter!" sambut Ajun.


"Dia di mana?" tanya pria dengan rambut gondrongnya yang di ikat satu di belakang.


"Di halaman belakang dok!"


"Baiklah, aku akan ke sana sendiri!" ucap sang dokter, ia pun segera melepas kaca mata hitamnya dan berjalan menghampiri sahabat keras kepalanya itu.


"Hmmmm!" dehemnya berharap pria yang tengah duduk termenung di depan kolam renang itu menyadari kedatanganya.


Rendi menoleh sejenak, tapi kembali menatap air,

__ADS_1


"Kenapa ke sini?"


"Nyenuhin pasien gue!" ucapan ang dokter sambil menyusul Rendi duduk.


"Di sini nggak ada yang sakit!"


"Nih m, dihadapan gue!"


Kali ini ucapan dokter Frans berhasil membuat pria dingin itu menoleh lagi padanya sambil mengerutkan keningnya.


"Nggak waras!" gumam Rendi.


"Lo yang nggak waras!"


"Jangan ngajak ribut, aku lagi nggak nafsu buat ribut!"


Dokter Frans menghela nafas, ia pun memainkan air dengan tangangan. Ia bingung harus memulainya dari mana. Ia seperti kehilangan jati diri sahabatnya itu, sahabatnya yang begitu smart dalam menghadapi setiap masalah, bahkan masalah orang lain tapi malah selalu terjebak dalam masalahnya sendiri.


Ternyata rasa cinta telah membuatnya begitu posesif, tapi ia tidak sadar jika posesif nya itu telah membuat keluarganya satu persatu menjauh dari dirinya.


"Sebenarnya apa yang salah dariku, Frans?" tanya Rendi kemudian saat ia mulai memikirkan semuanya.


"Banyak!" jawab dokter Frans dengan spontannya membuat Rendi kembali mengerutkan keningnya.


"Tolong kasih tahu aku! Kenapa semua yang aku sayang dan ingin aku jaga seakab menjauh dariku, Nadin, Elan, Keysa, Divia. Semuanya seperti lepas dari genggamanku!" ucap Rendi frustasi.


"Karena kamu menggenggamnya terlalu erat, lihatlah!" ucap dokter Frans sambil menunjukkan tangannya yang tengah mengambil air lalu ia menggemamnya, "Saat kamu menggemamnya dengan sangat erat, semua air ini akan tumpah dan tidak tersisa di tanganmu!"

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Kamu tuh pintar, tapi kadang banyak nggak ngertinya ya, jadi bingung jelasinnya!" keluh dokter Frans sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Gini ya, maksudnya. Nggak semua orang itu sama kayak kamu, tidak semua orang bisa kamu perlakukan seperti paman Salman memperlakukanmu. Elan dan Keysa, keduanya punya sifat yang berbeda begitu juga dengan Nadin. Ada kalanya mereka punya keinginan tersendiri, tidak harus sama kan kayak kamu!"


"Jangan muter-muter, aku nggak faham!"


"Baiklah, baiklah. Jadi intinya, sebelum terlambat sebaiknya Lo segera berubah."


"Maksudnya?"


"Sebelum apa yang kamu punya pergi menjauh darimu. Gue tahu Lo begitu mencintai Elan, bahkan lebih besar mungkin cinta mu tyerlahdap Elan di banding cintamu terhadap semua yang kamu punya, tapi nggak gitu caranya. Elan bukan sepertimu, dia tidak bisa di genggam erat. Tunjukkan rasa sayangmu dengan mengesampingkan egomu sebelum dia benar-benar lepas darimu dan kamu akan kesulitan untuk meraihnya!"


Mendarat ucapan panjang lebar dari dokter Frans, Rendi hanya diam. Tapi bukan diam biasa, sepertinya ia mulai berpikir.


"Dan lagi, kalau aku boleh saranin. Antara Lo dan Alex, kalian sudah selesai lama. Biarlah yang sudah selesai itu berakhir dan kini saatnya kalian membuka lembaran baru demi anak-anak kalian. Dan satu lagi, kalau Lo butuh temen buat datang ke pernikahan Elan, gue siap nemenin!" ucap dokter lagi sebelum akhrinya ia berdiri.


"Kalau sudah berubah pikirkan, gue di dalam. Lapar mau cari makanan, kali aja bini Lo sebelum ngambek sempet masak dulu!" dokter Frans akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, tepatnya di dapur.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2