
Akhirnya Damar pun meninggalkan mereka. Elan dan Kia pun mulai menyantap makanannya.
"Kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Elan saat menyadari sang istri tengah tersenyum ke arahnya.
Kia pun menghentikan makannya, ia meletakkan sendoknya dan menggunakan tangannya untuk menyangga dagunya yang sebagian tertutup hijab,
"Aku suka Elan yang seperti ini!"
"Hmm?" Elan mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Iya, aku suka Elan yang garing, banyak ketawa, banyak becanda, bukan Elan yang kemarin. Yang jutek, dingin, kaku. Itu menyebalkan!"
Elan tersenyum tipis lalu kembali melanjutkan makannya,
Keadaan yang sudah membentuk ku seperti itu Kia ...
Karena Elan tidak lagi menanggapi ucapanya, Kia pun kembali melanjutkan makannya.
"Kia!" ucap Elan kemudian setelah selesai makan.
"Hmmm?" Kia mendongakkan kepalanya menatap sang suami.
"Aku harus keluar kota beberapa hari untuk urusan pekerjaan. Apa tidak pa pa jika_!"
"Kia tetap di rumah aja, nanti aku minta mama sesekali menenin. Gimana?"
"Tapi Kia_!"
"Atau gini aja, aku tinggal di rumah bunda deh!"
"Nggak!" dengan cepat Elan melarangnya.
"Kenapa?"
"Ada ayah di sana!"
"Nggak pa pa, justru ada yang jagain! Ya boleh ya!"
Kia sengaja meminta hal itu agar ia bisa dekat dengan ayah mertuanya itu. Satu bulan ternyata belum mampu meluluhkan dinginnya hati mertua.
"Ya ya ..., please!!!" Kia mengatupkan kedua tangannya di depan dada, "Ada bunda juga kan??? Please!!"
Kali ini Elan tidak bisa mengelak,
"Baiklah!"
****
Elan pun akhrinya mengantar Kia ke rumah orang tuanya,
"Bund, tolong jaga Kia ya!" pintu Elan.
"Iya, pasti! Jangan khawatir! Kamu juga hati-hati, jangan cari masalah di luar!"
__ADS_1
"Issttt, emang Elan mau ngapain!"
"Ya siapa tahu!"
Setelah berpamitan pada bunda dan Kia, Elan pun akhrinya harus benar-benar berangkat. Gama sudah menunggunya di bandara.
Nadin menyambut menantunya itu dengan begitu hangat dan menunjukkannya kamar Elan. Meskipun kia sering datang ke rumah tapi sekalipun kia belum pernah menginap dan baru kali ini ia menginap,
"Nggak pa pa kan, nyaman kan tidur di kamar Elan?" tanya Nadin ragu saat memperlihatkan kamar putranya yang style nya anak motor.
"Nggak pa pa bund, Kia suka. Kalau kayak gini jadi keinget sama tingkah-tingkah Elan dulu!" ucap Kia dan mereka pun tertawa seperti kembali mengingat kenakalan-kenakalan Elan saat itu.
Hingga malam mereka masih hanya berdua karena akhir-akhir ini memang Rendi begitu sibuk hingga ia harus pulang telat, Kia dan Nadin memutuskan untuk menonton acara tv kesukaan.
Suara mobil yang tengah berhenti di depan membuat tawa mereka terhenti,
"Itu ayah kamu datang!" ucap Nadin dan benar saja pria itu masuk dengan wajah lelahnya, ia meregangkan dasinya sambil berjalan.
"Mas, ada Kia!" ucap Nadin sambil berdiri menyambut suaminya.
"Oh!" ucap Rendi dingin, "Kau capek mau mandi!" kemudian berlalu dari hadapan sang istri tanpa berniat menyapa menantunya itu.
Nadin hanya bisa menghela nafas dengan kelakuan sang suami.
"Bunda temenin ayah aja bund, Kia juga sudah ngantuk. Besok kan harus masuk kerja!"
"Serius nggak pa pa?" tanya Nadin tidak enak.
Sengaja Kia mendahului bundanya agar wanita itu tidak merasa tidak enak hati terhadapnya.
Setelah Kia masuk, Nadin pun segara menyusul sang suami yang ternyata sudah berada di dalam kamar mandi, Nadin pun segera menyiapkan pakaiannya dan meletakkannya di atas tempat tidur.
Ceklek
Akhirnya pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan sang suami yang hanya memakai handuk yang melingkar di pinggangnya, tubuhnya terlihat lebih segar.
"Ini mas bajunya!"
Rendi tanpa bicara segera menghampiri bajunya, tapi bukannya memakai baju ia malah memeluk sang istri yang tengah duduk di samping baju.
"Masss!" keluh Nadin sambil berusaha melepaskan pelukan sang suami.
"Aku kangen!" ucapnya sambil menyusupkan wajahnya ke leher jenjang sang istri, seperti biasa Nadin selalu membuka jilbabnya saat berada di dalam kamar.
"Tapi Nadin mau bicara!"
"Nanti saja!"
Dan Rendi segera menyergap istrinya Dangan begitu ganas.
Setengah jam kemudian, mereka sudah berada di balik selimut dengan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka,
"Mas, sekarang Nadin sudah boleh bicara?"
__ADS_1
"Hmmm!"
"Mas, bisa kan sedikit ramah sama Kia?"
"Memang aku harus bagaimana?"
"Senyum dong kalau ketemu Kia, minimal menyapa!"
"Baiklah besok aku akan menyapanya!"
"Jangan!"
"Sekarang?" tanya Rendi sambil melihat tubuhnya sendiri, "Begini?"
"Ahhh iya! Ya udah besok aja! Lagi pula Kia juga sudah tidur mungkin!" ucap Nadin, "Bisa kamur mas kalau Kia lihat penampakan yang seperti itu!" ucapnya lagi sambil menatap tibhb kekar sang suami.
Di kamar lain, Kia ternyata tengah menerima video call dari sang suami,
"Bagaimana di situ? Ayah_!"
"Ayah baik sama Kia, dia ramah juga!"
"Benarkah?" Elan tampak tidak percaya, bagaimanapun ia sudah mengenal ayahnya, pria itu tidak akan mudah ramah dengan orang yang baru ia kenal.
"Serius!"
"Jangan bohong!"
Akhirnya kia tidak bisa berbohong lagi,
"Memang sih, agak dingin. Tapi nggak pa pa, kita kan belum saling dekat Lan!"
"Maaf ya!"
"Maaf kenapa?"
"Kerena ninggalin kamu di rumah bunda!"
"Nggak pa pa, justru ini baik Elan, jika bisa meluluhkan hati putrnya, mungkin bapaknya juga bisa!"
"Jangan harap ya bisa menggoda ayah aku!"
"Nggak janji!" jawab Kia dengan diiringi tawa renyahnya saat melihat wajah Elan yang cemburu padahal pada ayahnya sendiri.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1