
"Jadi gimana? Kita nikah ya?" tanya Elan lagi.
Dan kini semua orang tengah menunggu jawaban Kia. Kia malah terlihat bingung, dari sekian pertanya di benaknya, yang tengah bermukim di sana adalah bagaimana bisa Elan senekat ini sampai menghadirkan kedua orang tuanya sedangkan ia tahu orang tua Elan dan orang tuanya tengah perang dingin.
"Aku tetep nggak bisa Elan!" jawab Kia, meskipun berat tapi ia tidak bisa menerima permintaan Elan.
"Ada apa?"
"Kamu tahu jawabannya!" jawab Kia,
"Sungguh aku tidak peduli dengan yang lain!" ucap Elan dnwaj begitu tegas.
"Tapi aku peduli!"
"Kia," ucap Elan dengan nada yang sedikit keras.
"Elan," Kia pun melakukannya dengan lebih keras.
Hingga perhatian mereka tertuju pada mobil yang baru saja berhenti tempat parkir masjid, mobil itu cukup familiar bagi Elan, ia sampai mengerutkan keningnya.
Apalagi saat seseorang turun dari dalam mobil itu, itu bunda Elan dan di susul oleh satu orang lagi, tapi itu ternyata bukan ayahnya. Ia sepertinya berharap terlalu besar jika mengharapkan kehadiran ayahnya.
"Assalamualaikum!" sapa Nadin dan langsung di sambut oleh semua orang. Jadi datang dengan Dini, Dini lah yang memberitahu Nadin bahwa putranya akan meminang Kia hari ini.
__ADS_1
"Waalaikum salam!"
Elan segara menyambut tangan bundanya,
"Bunda tahu dari mana Elan di sini?" tanya Elan kemudian karena seingatnya ia bahkan tidak memberitahu bundanya itu.
"Untung bunda tahu dari Tante Dini, kamu keterlaluan Elan, bisa-bisanya kamu tidak memberitahu bunda, kamu pikir bunda tidak akan datang? Kamu pikir bunda tidak akan merasa bersalah kalau putra bunda menikah tapi bunda nggak ada?"
"Maaf bunda!" Elan tahu, pastilah Dini tahu dari Ajun, ia tahu jika Ajun juga lah yang sudah memberitahu ayahnya. "Tapi Kia tidak bersedia!" ucap Elan lagi dengan wajah kecewa.
Nadin pun beralih menatap Kia yang kini tengah berdiri dengan merangkul tangan Aisyah.
"Kia, kenapa?" tanya Nadin pada putri Aisyah itu, "Bukankah kalian saling mencintai?" tanyanya kemudian.
"Chhhhh!" Elan segera berdecak mendengar ucapan Kia, sebuah hal yang mustahil jika menunggu restu dari ayahnya, ia tahu seberapa keras kepalanya sang ayah.
"Sayang, sudah ada bunda. Bunda merestui hubungan kalian!" Nadin berusaha membujuk Kia.
"Apa semua orang yang ada di sini masih kurang cukup?" tanya Elan lagi sambil menunjuk semua orang yang ada di sana, sahabat-sahabatnya, orang tua Kia dan bundanya. "Masak cuma gara-gara satu orang kamu mau nolak lamaran aku? Kasih pak penghulunya sudah datang Sedati tadi, memnag mereka tidak punya kerjaan!" keluh Elan yang tiba-tiba kembali jadi banyak bicara.
Tapi bagaimanapun Elan dan yang lainnya membujuk keputusan kua tetap sama, ia tidak akan menikah dengan Elan jika tidak mendapat restu dari Rendi dan jelas itu mustahil menurut Elan.
Di tengah perdebatan serius itu, tiba-tiba sebuah mobil kembali berhenti di halaman masjid membuat semua mata tertuju pada mobil itu.
__ADS_1
"Rendi!" gumam Alex, saat melihat rivalnya itu turun dari mobil dan menghampiri mereka.
Kenapa ayah ke sini? batin Elan yang semakin was-was, ia khawatir pria itu akan membuat kegaduhan.
Rendi berjalan menghampiri mereka, dan berhenti tepat di depan Kia dan Elan, ia segera melepas kaca mata hitam menatap keduanya dengan tatapan dingin seperti biasanya,
"Kalian menikahlah!"
Perkataan Rendi itu berhasil membuat semuanya tercengang, bagaimana bisa? Apa yang sudah membuat pria dingin dan keras kepala itu berubah pikiran?
"Mas," Nadin segera menghampiri suaminya,
"Saya merestui pernikahan mereka!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1