
"Emang Tante Dini siapa sih Lan?" tanya Damar saat mereka sudah sampai di jalan, kali ini Elan yang mengemudikan motornya sedangkan Damar duduk di belakang sambil memegangi kotak kue.
"Istrinya om Ajun, tahu kan ajudan ayah gue yang paling setia. Saudaranya tentara. Trus istrinya itu, maksud gue tante Dini, dia sahabatnya bunda!"
"Ohhhhh, mulek ya kayak benang kusut!"
"Itu belum Mar, ntar kalau Lo tahu cerita papanya Zoe, atau pappy aku sama mammy aku yang kasih kue, atau kalau tidak tuh Daddy nya si Atha, lebih ruwet lagi silsilah keluarga gue, tepatnya keluarga besar Oma gue, ibu angkat ayah gue. Atasanya kakek gue!"
"Kok gue pusing sendiri ya dengernya!"
"Baru juga denger, belum gue kenalin satu per satu, sudah puyeng kan Lo!"
Akhirnya mereka sampai juga di apartemen Dini, Elan sudah cukup hafal dengan area apartemen Dini, ia yang sering dimintai tolong bundanya untuk mengantar ini itu ke sana.
Selain seluk beluk tempat itu, Elan juga sudah sangat kenal dengan penjaganya. Karena memang apartemen itu masih milik ayahnya tanpa ia ketahui pastinya, Rendi tidak pernah menunjukkan apa saja kepemilikannya pada anak-anak nya, ia mendidik anak-anak dengan cara dia yang sederhana.
Setahu Elan dan Keysa, Rendi hanyalah sebagai tangan kanan Agra begitu juga dengan bundanya yang hanya sebagai pengelola yayasan yang dimiliki keluarga finityGroup dan tidak lebih dari itu.
"Sore pak!" sama Elan pada salah satu penjaga di sana.
"Sore nak Elan, mau ke tempatnya tuan Ajun ya?"
"Iya pak, nitip motor ya!" seperti biasa Elan tidak pernah memarkirkan motornya di basemen, ia memilih memarkirkan di depan apartemen dan ia tidak pernah mendapatkan protes dari siapapun.
"Iya nak Elan!"
Elan dan Damar akhrinya memilih lift untuk naik ke atas.
Setalah pintu lift kembali terbuka mereka hanya dihadapkan oleh dua pintu saja,
"Wahhhh apartemen Tante Dini luar biasa juga ya, Lan. Hanya ada dua dua pintu di sini nggak kayak di bawah!"
" Ya iya lah!"
Elan pun segera memencet bel, hanya beberapa kali dan akhirnya pintu terbuka,
"Elan," dengan cepat Dini memeluk Elan, ia memang sangat sayang dengan Elan seperti menyayangi anaknya sendiri, karena memang sejak kecil dini yang membantu merawat Elan tentunya setelah Alex dan Aisyah,
"Masuk Lan!" Dini segera menarik tangan Elan mempersilahkan Elan masuk.
"Hai Tante, saya boleh masuk juga kan?" tanya Damar sambil melambaikan tangannya karena merasa terlupakan membuat Dini mengerutkan keningnya.
"Oh iya, Elan hampir lupa Tante. Dia Damar temen aku!"
"Ohhhh, masuk Damar!"
__ADS_1
Akhirnya Elan dan Damar pun masuk dan Dini pun mempersilahkan duduk kayaknya tamu biasanya.
"Duduklah, mau minum apa?"
"Apa aja deh Tan, yang penting segera anget, iya kan Mar?" ucap Elan serta meminta persetujuan Damar.
"Iya Tante!"
"Baiklah, tunggu sebentar ya!"
Dini sudah hampir beranjak tapi Elan segera menahannya,
"Tunggu Tan!"
Dini menoleh pada Elan, "Ada apa?"
"Hampir lupa, sebenernya Elan ke sini di suruh bunda nganter ini Tan!" ucap Elan sambil menyerahkan kantong berisi kue yang ada dalam kardus yang tadi di bawa Damar.
"Ya udah kalau gitu bantu Tante bawa ke dapur ya!"
"Siap Tan!"
Dini berjalan lebih dulu, dan Elan pun mengambil kue itu,
"Tunggu di sini bentar ya Mar, santai aja. Anggap rumah sendiri!"
Elan pun menyusul Dini ke dapur,
"Ini taruh mana Tan?"
"Taruh saja di lemari pendingin!" ucap Dini yang masih terlihat sibuk di dapur.
Elan pun segara memasukkan kue itu ke lemari pendingin, setelah selesai ia segera menghampiri dini yang masih terlihat sibuk menyiapkan camilan untuk Elan dan Damar,
"Kinan kemana Tan, kok sepi?"
"Ke markas omnya katanya Pumpung besok libur!"
"Sendiri dong Tan di rumah, kata bunda tadi ayah sama om Ajun pergi ke luar kota!"
"Ya gitu deh. Gimana sekolahmu? Masih suka bolos?"
"Ya enggak lah Tan, sekarang ada penyemangat ya!"
"Siapa? Cewek ya?"
__ADS_1
"Ya iyalah Tan, masak cowok! Dia pindahan dari Semarang, sebenernya lahirnya di Surabaya sama kayak Elan tapi sudah lama tinggal di semarang, dia seumuran sama Keysa tapi kelasnya sama sama Elan, dia pinter, ikut kelas akselerasi!"
"Semangat banget ceritanya, kayaknya tuh cewek beneran istimewa ya? Kayaknya tuh cewek yang bakal buat Elan sadar!"
"Emang Elan tidak sadar apa selama ini!"
"Sadar...., tapi masih kurang seratus persen. Memang siapa namanya!"
"Namanya Kia!"
Deg
Seketika Dini terhenyak, ia sampai menghentikan kegiatannya dan menatap Elan.
"Kia?" tanya Dini kemudian. "Kia siapa?"
"Kiandra Alexandra!"
Nama itu seperti terus menggema di telinga Dini, ia benar-benar tidak percaya akan di pertemukan kembali dengan mereka lewat Elan seperti waktu dulu.
***
Di tempat lain, Alex terus saja iring-iringan. Ia terus memperingatkan Kia untuk tidak dekat dengan anak yang seharian ini sudah ia temui dua kali.
"Pokoknya kamu tidak boleh dekat-dekat dengan anak itu?"
"Memang kenapa sih pa?"
"Dia itu anak begundal, pasti dia tidak di didik dengan baik! Masak anak sekolah sudah merokok!"
"Pa, nggak gitu juga. Dia satu kelas sama Kia, mana bisa nggak boleh nyapa!"
"Baiklah, hanya sekedar nyapa, nggak usah manis-manis pakek ngobrol segala!"
"Astaghfirullah hal azim, kumat nih papa posesifnya."
"Jangan ngeyel ya kalau papa ngomong!"
"Nggak ngeyel pa, udah ya. Kia mau belajar, gimana bisa belajar kalau papa terus aja marah-marah kayak gitu!" gerutu Kiandra kesal.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...