Elan Untuk Kiandra

Elan Untuk Kiandra
Bab 44


__ADS_3

Perlahan Elan membuka matanya, sayup-sayup ia bisa mendengar percapakan para dokter dan perawat yang tengah menanganinya,


Wiss keren, bicaranya pakek bahasa Inggris ..., batinnya masih samar menatap ke arah beberapa orang itu karena cahaya di ruangan itu terlalu terang untuknya yang sudah dua hari tidak bangun dari tidurnya.


Walaupun begitu, ia merasa suasana rumah sakitnya begitu asing, dokternya juga sama.


Setelah dokter pergi, satu per satu orang masuk ke dalam ruang perawatannya yang cukup luas, walaupun dengan samar ia mulai mengabse satu per satu orang-orang itu,


Bunda ....


Ayah ....


Kakek?


Tapi yang membuatnya heran adalah orang yang masuk terakhir, bukan adik perempuannya tapi malah sang kakek yang sudah beberapa bulan ini tidak bertemu.


Perlahan ia mulai menggerakkan tubuhnya, ia ingin segera bangun dan memastikan sesuatu tapi dengan cepat juga Nadin mencegahkan dengan menahan tubuhnya,


"Jangan bangun dulu sayang!" ucap Nadin dengan lembut, walaupun biasanya wanita itu tidak bisa lbut tapi kali ini terlihat begitu lembut, matanya juga tampak sembab dan tanpa olesan make up sedikitpun. Meskipun begitu, Elan masih bisa melihat aura cantik keibuan dari wanita yang telah melahirkannya itu.


Tapi segera Elan teringat sesuatu, ia ingat apa penyebab dirinya sampai di rumah sakit. Ia juga ingat terakhir kali apa yang di katakan oleh papanya Kiandra padanya.


"Bund," panggil Elan dengan suara yang sedikit serak, efek tidur terlalu lama.


"Iya, ada yang kamu inginkan?" tanya Nadin sambil mendengarkan tubuhnya ke arah Elan, sedikit condong ke depan agar Elan tidak perlu bicara keras-keras.


"Apa Daddy_?" Elan menghentikan pertanyaannya, ia sedikit melirik ke arah ayahnya, kemudian ia melanjutkan pertanyaannya, "Apa papanya Kia baik-baik saja?"


Rupanya Nadin tidak langsung menjawab, ia memilih menoleh kepada suaminya.


Setelah suaminya memberi isyarat dengan mengangukkan kepala, Nadin pun segera menoleh dan kembali tersenyum pada Elan,


"Dia baik-baik saja, sayang!" jawabnya singkat karena ia tidak ingin membuat suaminya semakin terbakar cemburu.


",Benarkah?" tampak Elan tidak begitu percaya sebelum melihat buktinya.


Elan pun beralih pada kakeknya yang berdiri paling belakang.


"Kakek," panggil Elan pada sang kakek.


"Iya!" jawab pria dengan wajah yang sudah di penuhi keriput dan juga rambut putih di kepalanya itu, wajahnya tetap terlihat tampan dan tegas meskipun berumur.


"Kapan kakek datang?" tanya Elan dan sang kakek sedikit mendekat.

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu?" tanya kakek itu balik.


"Baik kek, tapi_!"


"Jika kamu masih merasa pusing tidurlah lagi," ucap sang kakek dengan cepat, yang langsung memotong ucapan Elan sebelum di tanya lebih banyak lagi.


Elan masih merasa janggal, ia kembali mengamati sekitar dan menemukan sesuatu yang berbeda.


"Bund, ini bukan di_!" melihat beberapa tulisan yang jelas menunjukkan itu bukan bahasa Indonesia. "Apa Elan di tempat kakek?" tanyanya lagi.


"Iya!" jawab sang ayah singkat tanpa ekspresi bersalah sama sekali.


"Kenapa yah, kenapa pakek pindah ke sini? Elan tidak parah-parah banget yah, nggak perlu Sampek ke sini!"


"Itu kita bicarakan nanti saat kamu sudah sembuh!"


"Tapi yah_!"


"Jangan keras kepala, Elan!"


***


Di Jakarta


Saat Kia bertanya pada teman-teman Elan, nyatanya mereka juga tidak tahu. Atau memang sengaja tidak ingin memberitahu.


Hari-hari Kiandra terasa begitu sepi tanpa Elan dan juga Keysa. Elan yang terkadang menyebalkan tapi juga membuat hatinya menghangat dalam satu waktu dan Keysa yang menemaninya sejak kedatanganya ke Jakarta.


Kayak pernah lihat om itu ..., batin Kiandra saat melihat seorang pria yang melintas di sampingnya.


"Om, om tunggu!" panggil kiandra membuat langkah pria itu terhenti.


"Iya?"


Kiandra pun segera mendekat dan mengamati berkas yang ada di tangannya,


"Om kayaknya yang waktu itu ya?" tanya kiandra


Pria itu mengerutkan keningnya, "Apa kita pernah bertemu?"


"Kalau secara langsung sih kayaknya belum om, tapi kalau tidak salah om yang waktu itu ngejar-ngejar Elan kan?"


"Mungkin!" jawab pria itu dengan nada datarnya.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu, itu berkas apa ya om?"


"Ohhh ini!" ucapnya dengan menatap berkas di tangannya, "Apa ada kewajiban saya menjawab pertanyaan kamu?"


"Tidak sih om!"


"Selesaikan, jadi saya permisi!" ucap pria itu dan berlalu dari hadapannya. Membuat Kiandra begitu kesal tapi selembar kertas sepertinya terjadi dari map yang di bawa oleh pria tadi.


Kiandra pun segera mengambilnya, tapi saat hendak mengejar, pria itu sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil,


"Ahhh biarlah. Siapa suruh galak-galak jadi orang!" gumamnya.


Karena penasaran, Kiandra pun akhirnya memutuskan. untuk membaca berkas itu,


Jadi serius Elan sama Keysa pindah ke Singapure ... , batin Kiandra sambil menatap kertas di tangannya itu.


***


"Murung sekali sayang?" tanya Aisyah sambil menghampiri putrinya yang hanya nonton tv tapi tampak sambil melamun Sedati pulang sekolah.


"Nggak pa pa ma! Lagi pengen aja!" jawab Kiandra, ia memilih memhgantinchannel tv beberapa kali tapi tetap saja tidak menemukan yang ia cari.


"Bagaimana kalau ikut mama aja?"


"Males ah ma!"


"Jangan gitu dong sayang, ayo sekali-kali ikut mama jalan-jalan!" bujuk Aisyah, ia tahu putrinya tengah ada masalah.


Akhrinya kiandra pun bersedia untuk ikut dengannya setelah di bujuk beberapa kali,


"Baiklah, tapi Kia ganti baju dulu ya ma!"


"Hmmm, mama tunggu di depan!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2