
Setiap hari sebelum ashar Elan sudah menunggu kiandra di masjid yang sama,
Senyumnya selalu mengembang begitu manik matanya melihat sosok cantik yang terus menarik hatinya bagaikan magnet berjalan ke arahnya,
"Assalamualaikum, cantik!" sapanya dengan senyum yang tidak kalah dahsyatnya untuk para gadis yang mengaguminya, tapi tidak begitu bagi Kiandra.
"Waalaikum salam!" Kiandra menatap tampilan Elan yang masih sama, tidak beda jauh dari biasanya.
Hehhhh, kenapa nggak bisa rapi sih ...., batinnya. Ada harapan besar dalam lubuk hatinya, melihat pria di depannya berpenampilan rapi.
"Kenapa? Aku ganteng ya? Sudah tahu, nggak usah di bahas!" tanya Elan dengan begitu percaya dirinya.
"Ya Allah, kok ada orang sepeda kamu!" keluh Kiandra sambil duduk di lantai persis di depan Elan, ia mulai mengeluarkan bukunya,
"Jangan bilang bukunya ketinggalan lagi!?"
"Ya enggak dong, kali ini aku ingat sekarang waktunya belajar apa!"
"Baguslah kalau gitu!"
"Jangan cemberut gitu, nanti cantiknya ilang loh! Kamu tahu nggak, kenapa mawar berduri?"
"Bodo!"
"Jangan gitu dong, aku kasih tahu ya. Karena kalau berbunga itu hati aku saat Deket kamu!"
Kiandra segera menatap Elan dengan tatapan tajam, "Sekali lagi gombal, aku pulang nih!" ancam Kiandra.
"Bagus dong, aku akan nyusul dan minta langsung ke orang tua kamu buat jadi imammu!"
"Elan Narendra!" kali ini Kia benar-benar kesal.
"Iya, iya aku diam." ucapnya sambil tersenyum, rasanya bibirnya benar-benar tidak bisa jika harus berhenti melontarkan kata-kata gombal pada kiandra.
***
"Sudah tahu apa yang di lakukan Elan di luar?" tanya Rendi.
Kini ia tengah duduk di ruang kerjanya dan di hadapannya tengah berdiri ajudan pribadinya, Ajun.
Meskipun ia telah membebaskan Elan, tapi bukan berarti Elan benar-benar bebas dari pengawasan. Rendi masih meminta anak buahnya untuk mengawasi 3lan, ia tahu tidak bisa mengekang Elan tapi ia juga tidak bisa benar-benar membebaskan jika tidak ingin ada masalah di kemudian hari.
"Elan benar-benar belajar pak, ada anak baru di kelas Elan yang memiliki riwayat nilai yang cukup bagus. Dia seumuran dengan Keysa, tapi mengikuti program akselerasi hingga bisa duduk di kelas yang sama dengan Elan."
"Pindahan dari mana? Siapa namanya?"
"Dari Semarang, namanya Kiandra!"
"Kiandra?" tanya Rendi, ia merasa tidak begitu asing dengan nama itu.
"Iya pak!"
__ADS_1
"Bagaimana keluarganya?"
"Kamu hanya dapat informasi bahwa dia putri seorang pengusaha di bidang property dan untuk selebihnya maaf pak , kami belum mendapatkan informasinya!"
"Baiklah, terus awasi mereka! Jangan sampai Elan membuat masalah lagi!"
"Baik pak!"
***
"Gimana belajarnya sayang?" Nadin sudah menemui putranya begitu putranya kembali. Ia hanya baru mendengar setengah ceritanya dari Keysa dan selebihnya ia ingin mendengar langsung dari Elan.
"Lancar kok bund!" jawab Elan sambil melepaskan sepatunya dan meletakkan di pojok ruang kamarnya.
Ia segera kembali menghampiri bundanya yang sudah duduk di atas tempat tidur, Ia segera ikut duduk dan merebahkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di pangkuan bundanya.
Nadin dengan lembut mengelus rambut Elan yang sudah mulai panjang,
"Ada apa bund, tumben tanya?"
"Memang biasanya enggak?" tanya Nadin balik.
"Biasanya kan bahasnya di ruang makan!"
"Kali ini bunda pengen bicara berdua aja. Gimana Kiandra, anaknya baik?" tanya Nadin. Ia ingin mendengarkan sedikit tentang putri Aisyah.
"Baik bund, sangat baik. Nih bund, Elan serius nih ya. Bunda jadi saksi, kalau Sampek Kia balas perasaan Elan, Elan berhenti deh jadi playboy!"
"Elan benar-benar sudah mentok bund sama Kiandra!"
Deg
Nadin terdiam, ia bingung harus membahasnya bagaimana. Ia senang jika nanti Elan dan Kiandra sampai benar-benar berjodoh tapi ia tidak yakin suaminya akan setuju. Ia tahu seberapa benci suaminya pada Alex.
"Kalau ayah kamu nggak setuju gimana?" tanyanya kemudian, ia ingin tahu bagaimana jawaban Elan.
"Elan akan berusaha meyakinkan ayah. Lagi pula ayah mbak punya alasan untuk menolak Kia, bund. Kia itu terlalu sempurna untuk Elan!"
Bunda juga seneng Lan, tapi bunda tidak yakin sama ayah kamu ...., batin Nadin. Ia pun segera menghela nafas.
"Jangan kejauhan mikirnya Lan! Lagi pula kamu tuh masih kecil, belum waktunya mikirin itu, belajar yang bener, kuliah, biar jadi orang dulu baru mikir cari pasangan!"
"Tapi Elan sudah yakin banget bunda sama Kiandra!"
"Ya semoga apa yang menjadi doamu terkabul, sayang!"
"Amiiin!" ucap Elan sambil menakupkan kedua tangannya ke wajah, ia segera bangun dari pangkuan bundanya begitu mengingat sesuatu,
"Oohhh iya bund, besok Elan ulangan. Kalau Sampek dapet nilai di bawah tujuh puluh, Kiandra nggak mau bantu aku belajar lagi bund. Jadi sekarang bunda keluar dari kamar Elan, Elan mau belajar ya bund!"
Elan menarik tangan bundanya hingga berdiri dan mengajaknya keluar.
__ADS_1
"Tunggu dulu, bunda besok titip kue ya buat Kiandra!" ucap Nadin begitu sudah di ambang pintu.
"Iya, itu di urus besok aja bund, sudah ya, bye bye bunda sayang!" Elan meninggalkan kecupan di kening bundanya lalu segera menutup pintu.
Ia tidak mau sampai besok tidak bisa mendapatkan nilai di atas tujuh puluh. Yang pasti ia tidak mau kehilangan alasan untuk bisa dekat dengan Elan.
Seperti yang di katakan pada bundanya, Elan pun segera belajar. Bahkan hingga larut malam ia masih terus sibuk belajar.
***
Di tempat lain, rupanya Aisyah juga melakukan hal yang sama. Hanya bedanya ia tidak tahu siapa yang menjadi teman belajar putrinya. Yang ia tahu, putrinya tengah membantu temannya.
"Gimana sayang, lancar kan?"
"Alhamdulillah ma, lancar!"
Aisyah pun duduk di depan putrinya yang tengah sibuk belajar.
"Kok masih belajar sayang, bukankah tadi sudah belajar?"
"Besok ulangan ma, Kia nggak mungkin mengandalkan hasil belajarnya dengan Elan tadi! Wong soal yang di bahas masih tahap dasar,!"
"Elan?" Aisyah rupanya menangkap satu nama yang tidak asing dari perkataan putrinya.
"Mama kenal sama Elan?" tanya Kiandra sambil menatap mamanya.
Ahhh nggak mungkin itu Elan yang sama, Jakarta kan luas banget ...., batin Aisyah.
"Ma, mama nggak pa pa kan?" tanya Kiandra lagi saat melihat mamanya tengah melakukan sesuatu.
"Ahhh, nggak pa pa sayang. Sudah ya mama mau lihat papa kamu sudah selesai belum kerjanya." Aisyah pun memilih kembali berdiri dari duduknya.
"Oh iya, belajarnya jangan terlalu di forsir ya. Kadihan tubuhnya!"
"Iya ma, satu jam lagi Kia juga mau tidur ma. Oh iya ma, nanti malam kalau Kia nggak kebangun buat sholat tahajud, bangunin Kia ya ma!"
"Insyaallah! Selamat malam sayang,"
"Malam ma!"
Akhirnya Aisyah benar-benar meninggalkan kamar Kiandra.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1