
"Siapa yang merokok di situ?" gumamnya pelan. Tidak mungkin salah satu pekerja karena sekarang bukan waktunya istirahat, batinnya.
Perlahan Alex melangkahkan kakinya mendekati tembok yang sudah lebih dari setengahnya di robohkan itu,
Ternyata anak dengan masih memakai seragam SMA tengah berdiri di balik tembok itu sambil sibuk menyesap sebatang rokok yang ia selipkan diantara kedua jarinya, asapnya semakin mengepul keluar dari sela bibir merahnya yang sengaja ia mainkan hingga membentuk sebuah lingkaran, sepertinya anak itu sudah cukup mahir dalam merokok, terbukti dengan permainan asapnya.Dia juga sama sekali tidak tersedak karena permainannya.
Cukup lama Alex hanya memperhatikan anak itu hingga ia memutuskan untuk menegurnya.
"Sudah berapa lama kamu merokok?"
Pertanyaan itu membuat anak laki-laki itu terkejut, ia dengan cepat menoleh ke sumber suara,
"Hmmm?" tanyanya untuk memperjelas pertanyaan yang di lontarkan padanya.
Alex mempersempit jarak diantara mereka,
"Sudah berapa lama?" tanya Alex sambil mengangkat dagunya hingga membuat kepalanya sedikit mendongak.
"Baru_," jawab anak laki-laki itu, "Baru lima belas menit di sini. Ada apa om? Saya menggangu om ya, maaf kalau begitu!"
"Sudah berapa lama?" tanya Alex lagi dan anak itu mengerutkan keningnya bingung.
Nihhh orang tanya apa sih? batinnya bingung, ehhhh, bukankah dia bokapnya Kia, iya dehhh kayaknya ....
"Berapa lama?" tanya Alex lagi.
"Hmmm?" anak laki-laki itu masih bingung.
"Merokoknya? Sejak kapan?"
"Bukan urusan om! Permisi!" anak itu hendak meninggalkan Alex dengan menenteng kembali tasnya, beruntung ia memakai jaket hingga tidak terlihat bet lokasi sekolahnya.
Tapi segera Alex menahan tangannya,
"Siapa nama kamu?" tanya Alex kemudian.
"Saya tidak wajib jawab kan om?"
"Saya tanya baik-baik, jadi jawab!" ucap Alex lagi masih dengan keras kepalanya tapi rupanya anak itu tidak kalah keras kepalanya, ia berusaha mengibaskan tangan Alex tapi tidak bisa, jelas karena tubuh mereka tidak seimbang.
"Kalau saya tetap tidak mau jawab, apa yang akan om lakukan?"
"Keras kepala sekali kamu!"
"Om juga!"
Berani juga anak ini ..., Alex berusaha mengintip Tama di balik jaket yang di kenakan anak itu tapi tetap tidak bisa, ia hanya bisa melihat huruf 'n' di akhirannya saja.
__ADS_1
"Kamu satu sekolah dengan putri saya, jadi awas kalau saya sampai lihat kamu mencoba mengganggu putri saya, saya tidak akan segan-segan melaporkan apa yang baru saja kamu lakukan kepada sekolah! Mengerti!" ancam Alex lalu meninggalkan anak itu begitu saja.
Alex memilih kembali ke tempatnya semula sedangkan anak itu masih setia menatap Alex dari kejauhan,
"Galak juga bokapnya Kia!" gumamnya pelan.
Tin tin tin
Tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di dekatnya yang kebetulan jalan kecil.
"Lan, ayo!" teriak anak yang ada di atas motor.
Anak laki-laki itu adalah Elan, dan Damar terpaksa menjemputnya karena Elan tidak bisa pulang, ia kehabisan uang saku.
"Lama amet sih Mar!? Sampek lumutan gue nungguin Lo!" gerutu Elan sambil naik ke atas motor.
Motor pun kembali berjalan meninggalkan tempat itu, sepanjang jalan mereka terus saja mengobrol sana sini seperti biasanya.
"Sudah bagus gue mau jemput, lagian ngapain sih Lan tadi pakek gaya galau nglamun trus jalan nggak tahu arah, ehhh nyangsangnya di sini!"
"Kayaknya gue emang jodoh deh sama Kia!?"
"Lo ngigo apa kesambet sih Lan, tiba-tiba ngomong gitu?"
"Ya enggak lah, gue baru aja ketemu sama bokapnya Kia!"
"Di tempat tadi!"
"Kia nya aja judes kayak gitu, gue penasaran sama bokapnya! Sama judehnay kali ya!"
"Enggak!"
"Dia baik?"
"Arrogant, galak!"
Damar langsung tertawa mendengarkan ucapan Elan,
"Kenapa ketawa?"
"Sudah jelas nih, Lo nggak bakal di terima sebagai calon mantu!"
"Kejauhan mikirnya!"
Akhirnya mereka sampai juga di depan rumah Elan juga,
"Gue sampek sini aja ya Lan nganternya!"
__ADS_1
"Ngapain? Masuk aja kali! Bunda pasti masak enak!"
"Emang bunda Lo bisa masak?"
"Ya enggak sih, tapi dia masih komando sama bibi buat masak enak, gimana? setuju nggak?"
Damar tampak berpikir, di asrama dia juga belum punya makanan, tapi kalau dia masuk terus ada ayahnya Elan, ia merasa tidak nyaman.
"Jangan kelamaan mikirnya, keburu dihabisin sama si brokoli!?" Elan menarik tangan Damar agar turun dari motornya.
"Tapi bokap Lo ada nggak?"
"Kalau jam segini belum pulang bokap!"
"Yakin! Kan gue anaknya!"
"Lo aja jarang di rumah!"
Damar masih setia di atas motornya hingga Nadin keluar dari rumah, sepertinya ia mendengar keributan di luar.
Jika masih ingat, rumah Rendi dan Nadin bukan rumah yang besar dengan banyak pengawal dan pelayan, mereka memilih rumah sederhana dengan hanya beberapa pekerja saja yang membantu pekerjaan mereka tidak seperti di rumah besar Agra dan Ara.
Bahkan pagar mereka bukan pagar yang tinggi, hanya pagar besi setinggi dada. Tapi di bagian belakang rumah itu ada taman yang cukup luas lengkap dengan kolam renang yang menghubungkan rumah utama dengan ruang kerja Rendi yang sengaja di buat terpisah.
"Damar, mampir Mar!"
Damar dan Elan pun menoleh ke sumber suara,
"Iya bund!" ucap Damar sambil tersenyum,
"Ayo!" ucap Nadin lagi sambil melambaikan tangannya.
Damar pun kembali berbisik pada Elan,
"Lo yakin kan Lan kalau bokap Lo nggak ada!?"
"Iya, sudah jangan banyak mikir, ayo!" Elan menarik lebih kuat damar hingga temannya itu benar turun dari motor.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1