Elan Untuk Kiandra

Elan Untuk Kiandra
Bab 19


__ADS_3

“Ada untungnya juga dapat hukuman, kan jadi nggak ikut pelajaran kimia!” gumamnya sambil tersenyum memperhatikan gadis-gadis yang sedang berebut perhatiannya itu.


Hukuman terberat baginya adalah mengerjakan tugas. Ia tidak pernah keberatan jika harus dihukum membersihkan WC atau membersihkan lapangan karena pasti bukan dirinya yang melakukannya, para siswi itu akan dengan senang hati melakukan untuknya.


"Ya ampun Lan, masih sempet sempetnya ya Lo di sini, padahal di kelas lagi ada ulangan!?" rupanya Damar sedari tadi memperhatikannya, ia pura-pura ijin ke kamar mandi saat sohibnya tidak ada di kelas.


Elan mencari sumber suara, rupanya Damar berdiri di balik pagar pembatas lapangan,


"Kebetulan banget Lo Mar ke sini,"


"Ada apa?" tanya Damar curiga, "Gue nggak mau ya ikut-ikutan akal-akalan Lo!?"


"Ya elah Mar, curigaan bener sih sama temen sendiri!?"


"Bukan curiga, tapi gue lagi jaga-jaga!?" walaupun keberatan tapi Damar tetap mendekati Elan. "Apaan?"


"Ntar Lo tinggalin contekan ya di laci gue!?"


"Isssttt, sudah gue duga!?" Damar dengan reflek memundurkan tubuhnya.


"Ayolah, Lo kan sohib gue. Masak Lo tegas sihhh, diantara kita bertiga cuma lo yang paling encer kalau masalah kimia!?"


"Gue dapat apa nih?" tanya Damar.


"Gila Lo, sama sohib Lo pakek perhitungan banget jadi orang!?"


"Ya udah kalau nggak mau, gue balik ke kelas!?" Damar pun beranjak tapi langsung di tahan tangannya oleh Elan,


"Okey, okey. Lo minta apa? Asal jangan minta traktiran ya, Lo kan tahu sendiri kalau gue lagi kena skors sama bokap gue uanh saku gue di potong!"


"Gue tahu, tenang, bukan soal itu!"


"Lalu?"


"Gue minta nomor adek Lo ya!?"


"Gila aja Lo!?" dengan cepat Elan menolak.


"Ya udah_!" Damar pun kembali berjalan, tapi sekali lagi Elan menahannya.


"Baiklah, baiklah!?"


"Nahhh gitu dong!" ucap Damar sambil tersenyum penuh kemenangan, "Baiklah kakak ipar, apapun buat Lo!?" ucap Damar dan berlari meninggalkan Elan yang kesal.


Ia paling tidak suka jika ada yang menggangu adik perempuannya itu, meskipun hubungan mereka tidak begitu akur.


Elan kembali duduk di bangku yang ada di tepi lapangan, karena bosan duduk, ia pun merebahkan tubuhnya, menatap langit yang cerah hari ini hingga matahari menyilaukan matanya, untuk menghindarkan matanya dari matahari, ia gunakan lengan kanannya untuk menutup,


Belum benar-benar terpejam matanya, tiba-tiba manik matanya menemukan sosok yang tengah berjalan ke arahnya.


“Itu Kiandra!?" dengan cepat ia kembali bangun dan menyiapkan senyum manisnya.


"Elan, aku mau bicara sama kamu!?" ucap Kia saat sudah berada di dekat Elan.


Rupanya kedatangan Kia juga berhasil menjadi pusat perhatian para siswi yang tengah membersihkan lapangan,

__ADS_1


"Tuh anak baru ngapain deketin Elan sih!?"


"Iya, risih gue!"


"Iya, kita yang udah mati-matian buat dapetin hari Elan, jangan Sampek cewek itu yang dapet!?"


Mereka saling berbisik membicarakan Kiandra.


Elan pun kembali bangun dan mengerutkan keningnya.


"Kamu nggak ulangan?" tanya Elan, karena Barus aja Damar mengatakan kalau kelas mereka tengah ulangan kimia.


"Sudah selesai!" jawab Kiandra ketus membuat Elan terbelalak. Jika dihitung dari kepergian Damar, hanya berjarak sepuluh menit dengan kedatangan Kiandra,


"Berapa soalnya?" tanya Elan tidak percaya, tapi ia mencoba mengira-ngira mungkin hanya lima soal.


"Dua lima!"


"Hahhhhh!?" jawaban Kiandra benar-benar membuatnya terkejut.


"Sudah jangan bahas soal ulangan, kita bahas yang lain."


"Mau bahas tentang perasaanku, ke kamu!?"


"Jangan ngaco deh, ini soal guru privat!"


"Jago gimana? Sudah setuju?"


"Kamu curang ya, kenapa bawa-bawa pak Danu dalam masalah ini?"


"Iya! Pak Danu memintaku buat jadi mentor kamu!"


Baguslah ....., batin Elan senang walaupun ia tidak merasa melakukannya.


"Jadi gimana? Kamu setuju kan?" tanya Elan dengan begitu yakin.


"Mau gimana lagi!?" ucap Kiandra kesal, "Baiklah, jika kamu mau aku yang jadi mentor kamu, kamu harus mengikuti semua persyaratan yang aku buat! Sanggup nggak?"


"Sanggup banget!"


"Baiklah, kita ketemu besok!"


"Kenapa nggak nanti saja!"


Kiandra hanya memicingkan matanya dan meninggalkan Elan begitu saja. Berbeda dengan Kiandra yang terlihat kesal, Elan malah meloncat-loncat kegirangan.


"Yesss, akhirnya!!!"


Flashback


Semua terjadi bukan karena kebetulan,


Karena ancaman Elan membuat Keysa berusaha keras memikirkan cara agar Kiandra setuju untuk menjadi mentor abangnya.


"Maaf Kia, tapi aku harus nglakuin ini. Kalau enggak bisa jadi masalah besar!?"

__ADS_1


Keysa mendatangi guru BP yang tengah sendirian di ruang BP,


"Pagi pak!?" sapanya membuat pria berkumis tebal itu mendongakkan kepalanya menatap ke arahnya,


"Pagi, Key. Masuk!"


"Terimakasih pak!"


"Duduk Key!"


Seperti yang di perintahkan guru BP, Key pun duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya,


"Ada apa Key?"


"Key ke sini buat Elan pak!"


"Ada apa dengan Elan,apa dia membuat masalah lagi?"


"Enggak pak, ini tentang nilai Elan. Bapak kan tahu sendiri bagaimana nilai Elan!"


"Iya, lalu?"


"Beberapa bulan lagi ujian akhir sekolah kan pak buat Elan, bunda sedih banget tahu Elan nilainya jelek. Jadi saya bingung bagaimana! Saya kan kasih kelas sepuluh tidak mungkin menjadi mentor anak kelas dua belas!"


"Sudah, langsung saja. Sebenarnya ada apa?"


"Gini pak, di kelas Elan kan ada anak pindahan. Dia ikut kelas akselerasi, pasti tidak di ragukan lagi kalau dia cukup pintar. Jadi bagaimana kalau bapak membujuk anak itu buat jadi mentor Elan pak?"


"Anak pindahan?" tampak guru BP itu tengah mengingat-ingat yang di maksud Key.


"Kalau tidak salah namanya Kiandra, pak!" Keysa sengaja pura-pura tidak kenal dengan Kiandra agar semuanya terlihat alami.


"Oh iya, bapak ingat. Benar kamu Key, dia memang siswa unggulan di sekolah lamanya!"


"Jadi bapak setuju?"


"Ya nanti saya coba bicarakan dengan dia!"


"Terimakasih banyak pak, kalau begitu saya permisi." Keysa pun beranjak dari duduknya, saat akan meninggalkan ruangan itu, ia kembali berbalik, "Kayaknya lebih cepat akan lebih baik pak, tahu sendiri kan pak bagaimana Elan!"


"Iya, pasti!"


"Terimakasih pak!"


Keysa pun akhirnya benar-benar meninggalkan ruang BP, ia benar-benar senang. Meskipun belum tentu berhasil, setidaknya ia sudah berhasil membujuk guru BP.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya


Ig @ tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2