Fake Friend In Silence

Fake Friend In Silence
DENDAM TERSEMBUNYI


__ADS_3

3 bulan terakhir ini Abhian tinggal di rumahnya sendiri, kedua orang tuanya harus pindah ke Bandung semenjak Ayahnya di pindah tugaskan oleh atasanya karena ada proyek baru di kantor tempatnya bekerja, dan sudah pasti ibu dan adiknya yang masih berusia 4 tahun ikut pindah kesana.


Sebenarnya Ayah dan Ibu nya memaksa Abhian untuk ikut bersama mereka, tapi Abhian menolak dengan alasan, malas jika harus pindah sekolah, belom lagi adaptasi dengan teman baru tentu tidak mudah.


Dan lagi dirinya juga sudah kelas 12 sebentar lagi lulus dan akan kuliah. Daripada repot repot ikut ke Bandung, Abhian lebih memilih tinggal di Jakarta dan fokus pada sekolah yang hanya tinggal beberapa bulan saja


Meskipun Ibu dan Ayah nya sudah tau persis seperti apa Anak sulungnya itu, tapi tetap saja Pak Rusdy dan Bu Rita selalu merasa khawatir.


Ibu nya sempat menolak keputusan Abhian untuk tetap tinggal di Jakarta, takut jika Abhian bisa salah pergaulan karena tak ada yang mengawasi.


Tapi akhirnya, kedua orang tuanya setuju juga setelah Abhian meyakinkan mereka dengan beberapa alasan yang lebih masuk akal.


Semenjak tinggal sendiri, Abhian lebih sering menghabiskan waktunya di rumah Verel sahabatnya. Ia tak mau dilanda bosan akibat selalu kesepian berada di rumahnya.


Kebetulan Verel juga tinggal sendiri, mama dan papa nya selalu sibuk dengan bisnisnya, jadi Verel jauh lebih kesepian di bandingkan Abhian, tak jarang sahabtnya itu sering memintanya menginap di rumahnya saja saat tau kalau Abhian tinggal sendiri.


______


Kalau ditanya apa yang sangat Abhian benci. Sudah jelas dia sangat benci hal yang merepotkan dirinya sendiri


Saat ini ia sedang berada di rumah Verel, duduk di sofa ruang tamu sambil men scrol layar hp nya


Tiba tiba saja hp nya bergetar tanda ada notifikasi masuk, terlihat pesan whatssapp yang masuk di hp nya


Ia buka pesan itu dan membacanya sejenak, wajahnya berubah kesal ketika membaca rentetan huruf huruf itu, baru saja ketua kelasnya memberi pengumuman bahwa besok akan diadakan kuis matematika dadakan


Ia semakin tak terima kala ada pesan masuk lain yang tertulis bahwa setiap murid wajib mengikuti kuis tersebut dan akan mendapatkan nilai nol jika sengaja membolos


"Apa apa an nih" Dumelnya menunjuk nunjuk layar hp nya kesal


sepertinya rencana nya menginap di rumah Verel gagal, ia harus pulang!


"Napa lo" Tanya Verel melirik bhian yang sedari tadi terlihat gusar.


Tak ada jawaban!


"Gila ya lo" Tanya Verel lagi


"Diem lo!" Sahutnya dengan nada ketus


"Dih.. Mau kemana lo?" Tanyanya lagi. Arah matanya mengekor melihat Abhian yang tiba tiba berdiri


"Pulang" Jawabnya ketus, tanpa mengalihkan pandangan dari layar hp nya


"Yailah, ngapain pulang" Tanya Verel menuntut penjelasan. Pasalnya, sahabatnya itu tak biasanya mau repot repot pulang tengah malam begini


"Guru gue ngadain ujian dadakan" Jawabnya terlihat geram "Mana matematika lagi.. Ah gilaa" Keluhnya sambil melempar hpnya ke sofa kosong yang berada di depanya


"Yakin lo, udah malem bego" Tanya Verel sambil menyenderkan tubuhnya ke sofa " Tidur sini aja elah ribet banget hidup lo" Katanya ikut sebal mendengar alasan kepulangan Abhian


"Lo mau tanggung jawab kalo gue dapet nilai nol" Sinisnya, sembari meraup wajahnya kasar


"Bisa abis gue kalau ntar gak lulus gara gara tuh nol" Lanjutnya, berjalan mengambil hp yang sempat ia lempar ke arah sofa di depan Verel tadi


Gila aja sekolah lo kalo gak ngelulusin muridnya gara gara dapet nilai nol" Katanya mencebikkan mulut "Sekali aja gak masalah van" katanya ikut berdiri menyusul bhian


Abhian diam saja! Masih sibuk dengan tanganya yang merogoh kunci di saku jaketnya


"Ah cemen lo" Kata Verel dengan nada mengejek mengikuti Bhian ke arah pintu rumahnya

__ADS_1


"Cemen pala lo" Jawab bhian menoyor Verel, Verel malah tertawa geli melihat ekspresi di wajah sahabatnya itu


"Udah gue mau pulang" Katanya benar benar melangkahkan kaki keluar dari rumah.


Verel mengukuti Abhian sampai garasi rumahnya, diam melihat bhian yang serius memasang helm lalu menghidupkan motornya.


"Ati ati jok lo kosong tuh" Ucapnya menunjuk jok belakang motor menggunakan dagu.


Abhian hanya mengedikkan bahunya acuh


"Ntar lewat jalan sepi jangan kaget kalo tiba tiba ada yang minta di bonceng" Lanjut Verel dengan nada berbisik lalu menaik turunkan alisnya


"Sinting" Kata bhian terdengar malas menanggapi ocehan sahabatnya.


Verel hanya mengedikkan bahunya acuh, menghiarukan tatapan jengah sahabatnya.


Abhian menghidupkan motornya, melaju keluar gerbang meninggalkan halaman rumah besar itu dengan Verel yang mengibaskan kedua tanganya seolah menyuruhnya cepat pergi.


Malam ini Abhian akan pulang lewat jalan lain, bukan jalan raya seperti biasanya. Bhian hanya ingin melewati jalan sepi tanpa ada kendaraan lain yang berlalu lalang menggangunya.


Lihatlah! Ujian dadakan matematika itu benar benar membuat mood seorang Abhian memburuk, ia butuh ketenangan.


**


Motornya melaju dengan kecepatan normal tentu saja, ngebut justru akan mempengaruhi mood nya yang sedang tidak baik baik saja


Lama menyusuri jalanan sepi, Abhian kaget karena melihat ada tangan yang sedang melambai lambai.


Bhian berusaha mengerjapkan matanya beberapa kali, takut ia salah lihat. Seketika candaan horor yang di lontarkan Verel sebelum pulang tadi berputar di kepalanya..


Abhian tetap berusaha tenang, itu jelas bukan hantu. Mana mungkin ada hantu yang melambaikan tanganya memegangi handphone di tangan satunya? Itu jelas tangan manusia kan!


Motornya berhenti beberapa meter, ia berusaha menajamkan penglihatanya. menilik siapa sebenarnya orang itu, kenapa tengah malam begini berada di jalanan sepi ini.


Ekspresinya berubah Kaget saat mengenali cewek yang duduk dengan kaki berselonjor itu.


"Salwaaa!!!...." Teriaknya, turun dari motor tergesa gesa lalu menghampiri Salwa yang berada beberapa meter darinya.


"Bhian!!" Sahutnya, tak kalah kaget, sorot matanya terlihat berbinar


Itu benar Salwa kan?


kenapa dia ada di sini?


Ini bahkan sudah sangat larut, apa yang ia lakukan?


Rentetan pertanyaan muncul di otak Abhian, saat menghampiri Salwa yang duduk dengan kaki berselonjor di pinggir jalan itu.


"Kenapa lo duduk disini" Tanyanya


"Ayo berdiri" Lanjutnya berbalik menuju motornya.


Tapi Salwa tidak berdiri, senyum di wajahnya semakin berbinar dengan tatapan yang sulit diartikan.


Bahkan saat Abhian sudah mengambil motornya dan berhenti di depan Salwa, ia juga tidak berdiri.


Abhian menatap Salwa, menaikkan kedua alisnya seolah mengatakan 'Sal jangan bercanda deh'


Tapi Salwa tetap setia pada posisinya.

__ADS_1


Abhian baru sadar ketika melihat punggung telapak kaki Salwa yang berdarah, celana jeans nya robek di bagian lutut juga mengeluarkan darah bahkan siku kirinya.. Argghh Ia baru tau kenapa Salwa enggan untuk berdiri. Bodoh!


"Lo kenapa!" Katanya melebarkan penglihatanya.


Salwa masih diam, dengan senyum yang mengembang.


"Salwa lo baik baik aja?" Tambahnya beringsut turun dari motornya, menghampiri Salwa memeriksa bagian lain di tubuh kecil itu.


Bodoh! seharusnya ia tidak bertanya keadaan Salwa, sudah jelas bukan kalau dia sedang tidak baik baik saja.


Bhian lalu meraup wajahnya kasar, kesal dengan dirinya sendiri


"Sal lo jangan cuma diem" keluhnya menatapi luka di sekujur tubuh mungil itu "Lo kenapa bisa kayak gini" Lanjutnya memasang mimik wajah serius


Salwa akhirnya bersuara, ekspresi nya sudah tak seperti tadi, pandanganya sedikit meredup.


Wajahnya berubah sendu. Tapi bibirnya tetap tersenyum, menatap Abhian. Baru kali ini Salwa merasa sangat bersyukur dan bahagia


"Aku.. Kecopetan bhi" Jawabnya dengan wajah serius


"Lo?" Geram bhian, menunjuk wajah Salwa


"Gimana mungkin sih lo, abis kecopetan terus banyak luka kayak gini malah senyum kayak tadi" Gerutunya menatapi Salwa merasa heran dengan cewek satu ini


"Gue kira lo kesurupan Sal, elah" keluhnya, bangkit berusaha memapah Salwa


Salwa hanya mendesis, menahan rasa sakit kala Abhian mengangkat tubuhnya. Abhian menatapnya intens!


"Kita.. ke rumah sakit, sekarang!" Katanya penuh penekanan


"Ng.. g-" Sahut Salwa gugup


"Jangan bilang lo gak mau ke rumah sakit?" Potongnya cepat


"Jangan bilang juga kalo lo baik baik aja Sal" Tambahnya sedikit kesal


"Gue gak mau percaya!" Finalnya, dengan langsung memakai helm nya


Salwa diam tak berkomentar apapun, tak berniat membuka suara. Akhirnya ia mengangguk juga.


**


10 meter dari tempat yang di tinggalkan Salwa dan Abhian tadi terlihat seseorang menatap kepergianya dengan tatapan berkilat marah, dadanya bergemuruh hebat seolah tak terima jika ada yang membantu Salwa dari kesialan yang memang ia rencanakan.


Dan ketika melihat siapa yang menolong Salwa, tatapanya berubah sinis, ia semakin tak terima..


"Sial.. Kenapa harus Abhian sih" desisnya penuh amarah, nafasnya tersenggal dan tanganya mengepal kuat


"Awas aja, gue bakal buat hidup lo menderita... Salwa!" Lanjutnya penuh penekanan dengan nada penuh ancaman.


"Tunggu aja tanggal mainya" Katanya menyunggingkan sebelah bibirnya, berbalik pergi meninggalkan tempat itu.


...Kira kira siapa tuh yang gak suka sama Salwa? Gak mungkin kalian kanšŸ˜‚...


...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian....


...Happy reading🤩...


Jum'at, 22 Januari 2021

__ADS_1


My housešŸ“


__ADS_2