
**
UNIVERSITAS INDONESIA
Sinar matahari begitu menyengat membuat banyak mahasiswa disini berbondong-bondong menuju kantin di pojok lorong gedung.
Abhian dan Salwa terlihat berjalan beriringan menuju kantin, tanpa sengaja dia kemudian bertemu Sherly. Senior yang kapan lalu mengajak Salwa untuk melakukan kerjasama bersama.
Terlihat sherly tengah asyik bermain ponsel sambil mendengarkan musik dari earphone yang terpasang di kedua telinganya.
Mungkin Sherly tidak melihat adanya Abhian dan Salwa, dia masih saja terfokus kepada ponsel yang yang sedang dia mainkan.
Tetapi beberapa saat kemudian, Sherly menoleh ke arah mereka.
"Hai Salwa" Sapanya sambil melambaikan tangan ke arah Salwa.
Salwa lalu mengangguk dan tersenyum saja menanggapi hal itu. Sebentar kemudian dia lalu mengangguk sopan ke arah Sherly dan Sherly juga melakukan hal yang sama.
"Dia gimana bhi menurut kamu" Ucap Salwa bertanya kepada Bhian
Bhian kemudian menoleh ke arah Salwa, matanya terlihat menerawang jauh seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Sebelumnya kamu belum kenal kah Sal sama dia?" Tanya Bhian ganti.
"Belum bhi" Jawab Salwa seadanya
"Agak aneh sih, soalnya kamu belum kenal sama dia tiba-tiba dia ngajak kerjasama gitu aja" Kata Bhian sambil menerka-nerka
Mendengar itu Salwa diam, seperti berpikir tentang apa yang di maksud Abhian memang ada benarnya juga.
Seseorang seperti Sherly yang notabenenya adalah senior di kampus ini tiba-tiba mengajak Salwa mengerjakan project bersama tentu hal itu semakin membuat keadaan terlihat aneh.
Maka dari itu Salwa masih memikirkan ajakan itu dan masih belum mau untuk menyetujuinya.
Mereka sudah sampai di kantin kampus. Suasana kantin masih terlihat sepi hanya ada beberapa mahasiswa yang bergerombol di meja paling ujung dan meja palinh pojok di sebelah warung mpok inah.
Abhian dan Salwa kemudian duduk di bangku paling ujung di dekat pintu yang menghubungkan kantin dengan aula kampus.
Salwa lalu duduk dan Bhian pergi untuk memesan makanan seperti biasa.
__ADS_1
Di kantin Salwa hanya duduk sambil memainkan ponsel. Dia kemudian mengeluarkan buku tebal dan membukanya, membacanya sekilas dan menutupnya kembali.
Ponsel kemudian Salwa letakkan di atas meja, pandanganya lalu mengekor ke sekitar kantin. Melihat sekeliling kantin, bagaimana mungkin kantin begitu terlihat sepi sedangkan di luar suhu semakin panas.
Dia hanya geleng-geleng kepala saja. Di sela sela itu Bhian datang membawa nampan berisi makanan yang sudah dia pesan kemudian duduk menghadap Salwa.
Setelah itu mereka saling diam dan makan. Salwa menenggak minuman terlebih dahulu sedangkan Bhian langsung melahap makananya.
Sedari tadi perutnya sudah keroncongan karena lapar ditambah cuaca yang sangat panas seperti ini membuat perutnya menjadi lapar dua kali lipat dari biasanya.
Setelah makanan habis kemudian mereka bergegas untuk pulang, bersama-sama berjalan menuju tempat parkir.
Mereka menuju parkiran dengan melewati lapangan basket yang masih terlihat ramai, banyak dari anak laki-laki yang masih asyik bermain bola basket ada juga beberapa cewe yang masih duduk dengan laptop yang masih menyala di depan mereka masing-masing.
Setelah sampai di tempat parkir Bhian kemudian bergegas mengambil motornya sedangkan masih menunggu di depan.
Abhian sudah mengambil motornya, Salwa kemudian naik motor melesat pergi meninggalkan pelataran kampus.
Di perjalan mereka hanya diam, Salwa yang sibuk dengan pikiranya dan Abhian yang fokus mengendarai motor miliknya.
Setelah sampai di depan rumah Salwa, Bhian kemudian pamit untuk pulang karena masih ada tugas yang belum dia selesaikan.
Salwa kemudian masuk ke rumah.
Salwa duduk sebentar di ruang tamu sambil beristirahat, hari ini terlalu lelah untuknya apalagi di tambah cuaca yang semakin panas membuat Salwa semakin kehausan.
Dia lalu berjalan membuka kulkas dan mengambil botol berisi air mineral, menutup kulkasnya kemudian berjalan mengambil gelas yang ada di dapur.
Membawanya ke ruang tamu, kemudian Salwa duduk sambil menuangkan air mineral itu ke dalam gelas. Sembari meminum air itu otaknya berputar memikirkan kerjasama yang akan dia kerjakan bersama Sherly itu.
Dia melamun sesaat kemudian terdengar pintu di ketuk berulang kali sepertinya Salwa akan kedatangan tamu.
Salwa kemudian berdiri, berjalan menuju pintu, samar-samar dia melihat dari balik jendela, ada dua orang lelaki yang sedang berbincang.
Dia kemudian menyipitkan matanya, melihatnya dengan tatapan tajam. Barangkali Dia mengenal kedua lelaki itu, namun berulang kali Salwa mengingat.
Di pikiranya tak ada yang terlintas satu orang pun yang dia kenal. Ketukan pintu itu kembali terdengar, Salwa buru-buru membekap mulutnya sendiri supaya orang di luar sana tidak bisa mendengar dia dari dalam rumah ini.
Dua orang itu masih berbincang satu sama lain, Salwa tetap diam. Lama kedua orang itu tidak juga beranjak dari rumah Salwa, sampai pada akhirnya Salwa mengintipnya lagi dari jendela.
__ADS_1
Ketika mengintip kedua orang itu, hampir saja Salwa ketahuan.
Buru-buru dia menutup gorden dan membekap kembali mulutnya, akhirnya setelah beberapa menit tidak ada sahutan kedua orang itu pergi meninggalkan rumah Salwa.
Salwa akhirnya bisa bernafas lega dan menurunkan kedua tangan yang tadi dia gunakan untuk membekap mulutnya.
Nafasnya tersenggal, dadanya bergemuruh hebat. Dia ketakutan lagi, tangannya mulai bergetar namun dia tetap berusaha untuk tenang.
Bukankah dia sudah bukan lagi anak SMA, dia sudah dewasa. Jadi menurutnya ketakutan bukanlah sebuah keharusan.
Salwa kemudian berjalan dan duduk di kursi ruang tamu. Dia berusaha menghilangkan pikiran pikiran negatif dari dalam dirinya.
Ia meraih totebagnya kemudian mengeluarkan laptop dan beberapa buku tebal yang biasa dia gunakan untuk belajar.
Tak lupa dia juga menyumpal telinganya dengan earphone, seperti biasa dia mulai mendengarkan bimbel online yang selalu menemani dirinya dikala mengerjakan tugas kuliahnya.
**
Malam hari telah tiba, Salwa juga sudah selesai menyelesaikan tugas kuliah. Dia kemudian mandi dan berencana untuk keluar untuk membeli makan malam.
Rencananya dia akan membeli nasi goreng di depan gang rumahnya, sudah lama dia tidak makan nasi goreng.
Salwa sudah siap untuk keluar membeli nasi goreng, dia kemudian keluar rumah sambil membawa dompet.
Setalah keluar dari gang rumah Salwa lalu melihat ke arah jalan raya. Sama seperti biasa, keadaan jalan raya begitu ramai, terdengar banyak sekali suara klakson mobil dan motor yang saling bersahutan.
"Dasar Jakarat" Gumam Salwa sambil geleng-geleng kepala.
Salwa sudah sampai di depan gerobak nasi goreng, dia kemudian menyapa abang penjual nasi goreng. Bang Imron namanya.
"Bang, satu ya di bungkus" Ucapnya sambil berlalu duduk di tempat yang sudah di sediakan.
"Siap neng" Jawab Bang Imron dengan senyum ramahnya.
Salwa lalu mengangguk "Aku tinggal ke situ bentar ya bang" Kata Salwa lagi sambil menunjuk toserba yang ada di seberang jalan.
"Iya neng siap siap" Ucap bang Imron.
Salwa lalu berdiri, dia ayunkan kakinya dan mulai melangkah ke perbatasan jalan.
__ADS_1
Tak lupa, kepalanya dia gunakan untuk menengok ke kanan dan ke kiri sebelum menyebrangi jalan raya yang menurutnya tidak pernah sepi itu.
Setelah jalanan dirasa cukup sepi tanpa adanya kendaraan yang berlalu lalang, Salwa kemudian melangkah menyebrangi jalan raya menuju toserba yang letaknya tak jauh dari nasi goreng bang Imron.