
"Kaya kenal?" Gumam Salwa di dalam hati.
Dengan memberanikan diri, dia menengok ke belakang.
Ternyata Abhian, Salwa kemudian mendengus kesal merutuki kebodohanya. Entahlah, ceroboh dan pemalu adalah sifatnya yang dangat sulit untuk di hilangkan.
"Kamu kemana aja si bhi" Keluhnya.
Abhian lalu terkekeh "Tadi masih ada urusan, sebentar" Jawab Bhian.
Berjalan maju lalu menghampiri Salwa dan menggandeng tangannya "Ayo" Kata Bhian lagi.
Salwa hanya menurut, dia mendongak melihat wajah Bhian. Sepertinya Bhian tadi sedang ada urusan mendesak sekali, jarang jarang Bhian tidak mengabari sama sekali seperti tadi.
Salwa mendongak melihat wajah Abhian. Menurut Salwa Bhian sedikit berbeda, sebenarnya ada apa dengan wajah bhian ini.
Senyum dan kekehan Bhian sepintas hanyalah karena terpaksa, Salwa sadar akan hal itu. Namun dia memilih bungkam, tak berselang lama Salwa akhirnya penasaran juga.
Dia memberanikan diri "Emang habis ada urusan apa bhi" Tanya Salwa kemudian.
Bhian menunduk sambil memasang wajah penuh tanya, alisnya terangkat seperti sedang memikirkan sesuatu.
Kedua matanya berkedip "Ada, tadi urusan sama dosen pembimbingku" Jawab Bhian.
Salwa sebenarnya tidak terlalu yakin dengan jawaban Bhian. Sebenarnya dia masih penasaran, namun Salwa putuskan untuk tidak lagi bertanya.
Mereka akhirnya sampai.
"Kamu tunggu disana aja" Kata Bhian menunjuk kursi panjang yang ada di samping tembok.
Salwa lalu mengangguk dan berjalan ke arah tempat duduk tadi.
Abhian Kemudian bergegas untuk memesan makanan seperti biasa. "Aku pesen makan dulu" Pamitnya disertai anggukan mantap dari Salwa.
Setelah pesanan sudah siap, dia kemudian berjalan menuju meja yang pertama. Ketika melewati gerombolan tadi Salwa hanya menunduk saja, sedangkan Bhian berjalan santai dengan wajah datar seperti biasa.
Setelah sampai mereka langsung duduk, begitu juga dengan Salwa. Pacar Abhian itu langsung saja menenggak minumanya, lalu dia bersiap untuk makan.
Abhian menatap Salwa yang sedang makan. Dia lalu tersenyum, pacarnya itu sepertinya benar-benar kelaparan.
Salwa yang menyadari akan tatapan itu kemudian berhenti makan. Kepalanya mendongak ikut mnatap Abhian
Dia lalu hanya meringis saja ketika matanya bertemu dengan tatapan Abhian. "Kamu gak makan?" Tanya Salwa
__ADS_1
"Maaf ya tadi bikin kamu nunggu lama" Jawab Bhian tidak nyambung.
"Maaf nya nanti di ganti sama coklat aja" Kata Salwa terkekeh
Mereka kemudian sama-sama makan tanpa berbicara satu sama lain.
Suasana akhirnya menjadi hening untuk sementara, hanya ada suara sendok dan garpu yang berdenting.
**
Beberapa jam yang lalu..
Bhian berjalan santai melewati koridor fakultas sastra, dia akan melakukan rutinitas seperti biasa.
Menjemput Salwa dan pergi ke kantin untuk makan bersama, namun langkah santainya tiba-tiba berhenti, dari kejauhan dia bisa melihat Salwa.
Jadi Bhian memutuskan untuk menunggunya dari arah yang berlawanan. Bhian lalu mengeluarkan ponsel dan mencoba untuk memotret Salwa.
Karena sedang asyik memotret Salwa, pandangan Bhian hanya fokus ke dalam kamera ponsel.
Namun belum sempat Bhian selesai memotret, dia melihat Salwa sedang di hadang oleh seseorang.
Bhian tidak kenal. Hanya terlihat bagian punggungnya saja,
Bhian masih memperhatikan interaksi mereka. Dan melihat ekspresi Salwa lagi yang mulai berubah dan sepertinya ini berbeda.
Abhian sebenarnya sudah ingin menghampiri mereka namun belum sampai kaki itu melangkah. Cowo jangkung itu kemudian melenggang pergi begitu saja meninggalkan Salwa dengan ekspresi bingung.
Salwa kemudian melanjutkan langkah kakinya, mulutnya terlihat komat kamit seperti sedang mengomeli seseorang tadi.
Abhian yang menyadari kehadiran Salwa yang semakin mendekat justru malah sembunyi di balik tembok. Meskipun sempit, Bhian tetap memutuskan untuk bersembunyi disitu dan Salwa melewati Bhian begitu saja.
Salwa sudah menjauh. Kini saatnya Abhian menjalankan tugasnya, karena dia sudah sangat penasaran dengan seseorang yang menghadang pacarnya tadi.
Dengan gesit dia kemudian keluar dari tempatnya bersembunyi, berlari mengejar cowok jangkung tadi. Sepertinya cowo tadi masih belum menjauh, jadi Bhian putuskan untuk berlari saja sebelum cowok tadi lenyap.
Masih berlari dia kemudian menemukan orang itu berjalan masuk ke dalam ruangan dosen yang ada di pojok bangunan.
Abhian lalu manggut-manggut, dia hanya bisa menyimpulkan kalau Salwa di hadang oleh dosen. Pasti ada urusan tentang materi perkuliahan saja, mungkin hanya itu.
Jadi Abhian memutuskan untuk putar balik menuju kantin, dia bahkan lupa tidak mengabari Salwa terlebih dahulu.
**
__ADS_1
Salwa dan Abhian sudah selesai makan. Setelah itu mereka beranjak pergi meninggalkan kantin, berjalan beriringan melewati pintu keluar.
Menuju tempat parkir dan memutuskan untuk pulang saja. Karena memang setelah bimbel mereka berdua sudah tidak ada kelas lagi.
Abhian mengambil motornya, Salwa lalu naik dan motor melesat pergi meninggalkan pelataran kampus.
Jalan raya masih seperti biasa, ramai dengan suara klakson motor dan mobil yang saling bersahutan.
Meskipun siang ini, Jakarta sangat panas, namun masih banyak orang yang sedang beraktivitas tanpa menghiraukan teriknya matahari yang sedang bersinar terang.
"Jakarta akhir akhir ini panas banget ya bhi?" Ucap Salwa dengan sedikit berteriak.
Abhian mengangguk mantap karena juga merasakan hal yang sama.
15 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah Salwa. Motor berhenti dan Salwa turun dari, Abhian kemudian ikut turun.
Dia kemudian melepas helm nya. Salwa lalu berjalan menuju rumah diikuti dengan Bhian di belakangnya, Setelah sampai di depan pintu, Salwa kemudian merogoh kunci dari dalam tasnya.
Dia membuka pintu dan masuk bersama-sama. Salwa lalu menyalakan kipas angin yang ada di dalam rumahnya, akhir akhir ini Jakarta benar-benar panas.
"Panas nya beneran nggak karuang gini" Keluh Abhian kemudian duduk di kursi tamu.
"Aku ke belakang dulu ya bhi" Ucap Salwa "Ambil minum" Lanjut Salwa lagi.
Abhian hanya mengangguk saja menanggapinya. Tidak berselang lama Salwa kemudian datang sambil membawa nampan berisi minuman berwarna orange, sepertinya jus jeruk.
Dia letakkan nampan itu tepat di depan Abhian dan menyuruhnya untuk segera minum.
Abhian kemudian menenggak minuman itu sampai tak tersisa. Menurutnya bahkan sebuah kipas angin saja juga tidak mampu membuat tingkat kegerahan mereka bisa teratasi.
"Kamu nanti habis Maghrib sibuk apa engga Sal?" Tanya Bhian di sela sela kipas angin yang berputar ke kanan dan ke kiri.
Mendengar pertanyaan Bhian Salwa hanya menggeleng saja sambil menyeruput orange jus nya.
Abhian manggut-manggut "Keluar yuk Sal" Katanya sembari mengantongi ponsel di genggamanya.
Salwa melirik Bhian "Kemana" Tanya Salwa berikutnya
"Kemana aja yang penting gak di rumah" Jawab Bhian santai.
Salwa kemudian mengangguk dengan antusias "Yaudah ayo, aku juga agak bosen di rumah terus" Jawab Salwa kemudian.
Hari sudah mulai sore, terik matahari juga sudah tidak seperti siang tadi. Jadi Bhian memutuskan untuk segera pulang.
__ADS_1