
Tidur Abhian terusik ketika tanganya tak sengaja menyenggol ponsel dan lalu jatuh dari atas nakas tempat tidurnya.
Dia terpaksa bangun dengan malas, mengambil ponselnya yang jatuh itu dan meletakkan kembali di tempat semula. Saat ingin kembali memejamkan matanya, reflek pikirannya tertuju pada ponsel yang baru terjatuh itu.
Sebelum tidur tadi Abhian baru ingat kalau dia sempat mengirim pesan pada Salwa untuk mengecek pekarangan rumahnya dan menanyakan apakah dompetnya terjatuh di sekitar kontrakanya atau tidak.
Karena saat memarkirkan motor di garasi rumahnya tadi, saat memasukan kunci motor di saku jaketnya dia tidak mendapati dompet itu berada di sakunya, padahal jelas Abhian ingat setelah membayar ice cream nya tadi dia yakin kalau dompet itu sudah di masukan ke saku jaketnya.
Ya! dompet hitam itu, dompet yang sempat di temukan Salwa di meja cafe tempo lalu, sepertinya terjatuh di depan pekarangan kontrakan Salwa, karena sebelum Abhian melesat meninggalkan rumah itu dia sempat merasa telah menjatuhkan sesuatu yang entah apa itu.
Abhian membuka ponselnya, beralih membuka aplikasi WhatsApp dan mengecek pesan itu. Matanya menyipit melihat pesanya yang belum dibaca oleh sang penerima, bahkan centang di pesan itu masih menunjukan centang satu abu abu dimana tanda itu sudah pasti menynjukan kalau pesan itu belum terkirim pada Salwa.
To: Mata empat.
Sal, tolong lo cek depan kontrakan, tempat yang tadi buat gue berhenti ada dompet nggak? kalo ada nitip simpen bentar ya, besok gue ambil.
Abhian berpikir sejenak, mungkinkah Salwa terlalu capek hingga tak mengecek ponselnya terlebih dahulu sebelum tidur tadi? atau memang Salwa memang tidak sempat mengaktifkan ponselnya karena terlalu sibuk belajar?
Abhian menjadi tak tenang, matanya melirik ke bagian atas ponsel. Jam di ponselnya menunjukan pukul 01.40, haruskah sekarang dirinya pergi ke tempat itu untuk mencari sendiri dompetnya yang jatuh?
Tapi bukankah sekarang sudah terlalu larut jika nekat pergi mencarinya, kalo tau yang jatuh adalah dompet itu sudah pasti Abhian akan langsung putar balik, sekarang dia menyesal karena tadi tidak berhenti saja untuk mengecek apa yang sudah jatuh.
Abhian masih bingung, dengan malas akhirnya dia bangun dari tempat tidurnya, berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar. Beberapa saat kemudian dia keluar dengan wajah yang terlihat basah terkena air, sepertinya dia baru saja membasuh mukanya untuk mengurangi rasa kantuknya. Dia lalu duduk lagi di pinggiran ranjangnya, memutar ponselnya seraya berpikir.
Kalau dia memutuskan untuk mencari dompet itu besok pagi? Bagaimana kalau dompet itu sudah hilang di ambil oleh orang yang kebetulan lewat? dan lagi sepertinya Salwa juga belum membaca pesanya dari kemarin malam, pasti Salwa juga belum mengecek pekarangan kontrakanya dan belum memungut dompet itu.
Sebenarnya bukan uangnya yang Abhian risaukan. Sedari tadi, dia bahkan tidak kepikiran sama sekali akan nominal uang yang ada di dalamnya, hanya saja ada sebuah kenangan tersendiri dari dompet kecil itu apalagi di dalam nya ada sebuah foto yang hanya tinggal itu satu satunya foto yang dia miliki.
Dia meraup wajahnya kesal, akhirnya bangkit juga menuju lemari besar di depanya dan mengambil jaketnya asal, memakainya dan berbalik mengambil kunci motornya yang tergeletak di atas nakas tempat tidurnya.
Lalu berjalan keluar dari kamarnya, Abhian memang seseorang yang tidak mau di repotkan, tapi kalau sudah menyangkut dompet kecil itu dia pasti akan nekat juga.
Ya sepertinya hanya Salwa dan dompet itu yang boleh membuatnya repot dan selalu tak tenang.
Dia sudah keluar dari rumahnya, mengunci pintu dan berjalan menuju garasi. Menaiki motor dan memakai helm nya lalu Menghidupkan mesin motornya dengan santai, udara malam menjelang pagi seperti ini memang sangat menusuk, lihatlah bahkan jaket kulit Abhian saja masih tak mempan untuk melindungi rasa dingin yang menerpa kulitnya.
Motor melaju keluar dari garasi rumahnya, akhirnya malam ini juga Abhian nekat pergi menuju kontrakan Salwa hanya untuk mencari dompet kesayangannya yang sempat terjatuh, ssmoga saja barang itu masih ada!
Baiklah!
Nekat sekarang mumpung belom keburu pagi, jadi peluangnya menemukan dompet itu lebih besar. Selain karena hari masih gelap, dia juga tak perlu malu pada siapapun. Karena memang jarang sekali dini hari seperti ini ada orang yang masih berkeliaran, kebanyakan orang sudah pada tidur kan.
Setidaknya itulah kesimpulan Abhian yang membuatya nekat untuk pergi!
⭐⭐
Abhian hampir sampai di depan kontrakan Salwa, dia melajukan motornya sepelan mungkin dengan mata menyapu jalanan berharap bisa menemukan benda kecil itu, dan benar saja tak jauh dari pekarangan kontrakan, terlihat benda kecil berbentuk persegi berwarna hitam tergeletak di atas aspal, tanpa pikir panjang Abhian segera menghampiri benda itu, turun dari motor tanpa mematikan mesin motornya juga tak melepaskan helm di kepalanya lalu dia langsung memungut benda itu dan mengantonginya di saku celana jeans yang dia kenakan.
Dia kembali menaiki motornya, ingin memutar balik kemudi nya, matanya tak sengaja melirik ke arah kontrakan Salwa, sebentar kemudian dahinya mengernyit, merasa heran dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Kenapa ada dua orang lelaki di depan pontu kontrakan itu, bahkan ntuk bertamu pun rasanya aneh. Bukanya ini masih dini hari? Ada urusan apa mereka dengan Salwa
Secepat mungkin Abhian mematikan mesin motornya dan turun, dia lalu bersembunyi di balik tumbuhan rimbun yang berada di pinggir jalan dan mengamati kedua lelaki itu dari kejauhan.
Sebenarnya Abhian ingin keluar saja dan tidak mau bersembunyi seperti ini, dia ingin bertanya pada orang itu, apa tujuanya bertamu di rumah orang di jam larut seperti ini.
Tapi bukankah terkesan aneh ya kalo tiba tiba dirinya muncul dan menanyakan hal itu, terlebih dia tidak punya alasan apapun jika kedua orang itu nanti akan menanyainya balik tentang keberadaan dia di tempat ini.
Mau jujur karena ingin mencari dompetnya yang hilang? Yang benar saja! itu bukanlah alasan yang mudah untuk di percayai orang lain, kan? Jadi menurutnya bersembunyi disini adalah pilihan terbaiknya
"Dombrak aja udah" Ucap salah satu lelaki itu, terlihat tak sabar.
"Tuh cewek mana mau buka in pintu jam segini" Tambahnya masih dengan raut tak sabar
"Sinting lo!" Umpat lelaki satunya
"Mikir! disini banyak rumah orang. Gimana kalo nanti orang orang pada bangun cuma gara gara denger dombrakan gue. Lo mau kita mati di keroyok warga?" Lanjut lelaki itu dengan nada kesal mencoba menjelaskan.
Abhian masih diam di tempatnya, memasang wajah serius untuk mendengarkan percakapan keduanya.
Hening beberapa saat, dua lelaki itu masih fokus dengan kegiatanya mengetuk pintu kontrakan Salwa.
Hingga pada akhirnya lelaki yang tadi memberikan saran untuk mendombrak pintu berdiri dan meraup wajahnya sendiri
"Udah cabut aja" Ucap lelaki itu dengan nada terlihat putus asa
Lelaki satunya tak menjawab, hanya mengikuti temanya. Menjauh dari pintu di depannya dan ikut keluar dari teras rumah itu.
Sebentar kemudian dua lelaki itu terlihat menengok kanan kiri, sepertinya sedang memastikan keadaan sekitar, setelah mereka rasa aman dan tidak ada tanda tanda keberadaan orang lain, mereka lalu menutupi wajahnya masing masing dengan kupluk dari jaketnya dan berjalan dengan langkah tergesa.
Abhian memutar tubuhnya, dia berdebar, kalau memang dua lelaki itu sekarang berjalan ke arahnya, sudah di pastikan dia akan ketahuan karena memang ada motor yang terparkir di sampingnya.
Abhian sama sekali tidak takut kalau memang mereka memergokinya bersembunyi disini, bukankah sudah jelas dari percakapan dua orang tadi, kalau sepertinya mereka ingin berniat jahat pada seseorang di dalam kontrakan itu, dan itu adalah Salwa.
Jadi memang tak ada gunanya dia bersembunyi lagi, kalaupun memang orang itu marah dan mengajaknya berkelahi sudah pasti Abhian akan dengan senang hati melawan keduanya.
Tanpa berpikir lagi Abhian lalu membalikan tubuhnya menghadap ke posisi semula, mengamati kemana arah kedua lelaki ini pergi, sedikit kecewa saat mendapati kedua lelaki itu berjalan ke arah yang berlawanan dari tempatnya bersembunyi. Dia ingin mengejar kedua lelaki itu tetapi dia urungkan, bukankah lebih baik memastikan keadaan Salwa saja daripada mengejar mereka? pikiranya beralih kepada Salwa yang berada di dalam kontrakan itu.
Setelah menunggu kedua lelaki itu lenyap dari pandangannya, dia lalu keluar dari tempat itu, sedikit berlari menuju pintu kontrakan yang masih setia tertutup dan lalu mengetuknya berulang kali.
⭐⭐
Salwa semakin berdebar..
Suara ketuk an pintu itu lagi lagi terdengar nyaring, padahal tadi Salwa sudah yakin kalau suaranya sudah hilang tak terdengar.
Dia lalu berusaha berdiri dengan hati hati, menghapus sisa sisa air matanya, mengumpulkan keberaniannya dan berjalan mengambil tongkat bisbol milik ayahnya yang masih dia simpan di bawah kolong tempat tidurnya.
Berjalan sepelan mungkin, melangkah menuju ruang tamu, suara ketukan pintu itu masih sama! terdengar tak sabaran seolah ingin cepat dibukakan dan ingin menemui orang di dalamnya yaitu dirinya.
__ADS_1
Dengan menghela napas panjang dia berusaha tetap tenang, menetralkan degup jantungnya sendiri, satu tangan itu sudah memegang gagang pintu dan satu tangan lagi sudah siap untuk melayangkan pukulan untuk orang diluar sana, belum sampai knop pintu itu dia putar, terdengar suara dari luar yang memanggil namanya.
"Salwa buka pintunya!" Teriaknya masih dengan ketuk an pintu yang tak berhenti.
Salwa diam, sepertinya dia mengenal suara itu.
Abhian!! Ya itu suara abhian kan?
Dia lalu berjalan menuju jendela di sampingnya, ingin mengintip dan memastikan apakah benar suara yang memanggilnya itu adalah Abhian.
Belum sampai dia membuka kelambu jendela, teriakan itu lagi lagi terdengar.
"Sal, lo di dalem kan!"
"Buka pintunya!"
"Ini gue Bhian!"
Setelah mendengar teriakan itu lagi, Salwa urungkan niatnya untuk menyibak kelambu itu.
Tidak salah lagi, itu memang benar suara Abhian. Dengan tak sabaran dia raih knop pintu dan memutarnya, membuka pintu itu.
Hatinya merasa lega ketika mendapati Abhian berdiri di ambang pintu dengan wajah terlihat khawatir.
"Sal lo gakpapa?"
"Kenapa lo lama banget buka pintunya?"
"Ada urusan apa orang orang tadi datengin kontrakan lo malem malem gini" Cerocosnya tiada henti ketika mendapati Salwa yang hanya diam berdiri dengan raut wajah yang sulit diartikan
Salwa masih setia membeku, diam dan berdiri dengan tongkat bisbol di tangan satunya yang menggantung menyapu tanah.
Dalam hatinya dia bersyukur ada Abhian di depanya dan bukan orang jahat atau apapun itu.
Lama dia masih diam, bingung harus bersikap bagaimana, haruskah sekarang dia senang karena ada Abhian yang datang dan secara tidak langsung sudah menolongnya, atau harus merasa sedih karena mulai hari ini hidupnya mungkin benar benar tidak akan tenang dan di selimuti rasa ketakutan setiap saat.
Salwa masih tidak bisa mengucapkan apapun, meskipun rasa takutnya sudah berkurang, pikiranya masih terus berputar putar.
Sesaat kemudian dia terlonjak kaget dan lalu matanya mengerjap ketika Abhian menepuk pipinya pelan.
"Sal kok malah bengong sih?" Keluh Abhian merasa heran.
Dan sebentar kemudian Abhian terkejut, dia mengernyitkan dahinya terlihat bingung karena melihat tongkat bisbol yang menggantung di genggaman tangan Salwa.
...***Happy Reading✨...
Sabtu, 30 Januari 2021***
My house📍
__ADS_1