Fake Friend In Silence

Fake Friend In Silence
KEMBALINYA BIANCA


__ADS_3

Namun gerak gerik mata Bhian tidak berhenti di Salwa saja. Bhian memutar kedua bola matanya sambil memperhatikan lingkungan setempat, aneh ketika menyadari Salwa tiba-tiba memasang wajah gugup dan sedikit ketakutan.


Benar saja dugaan Bhian, dari kejauhan datang segerombolan para preman. Mereka memang terlihat tidak melihat ke araha mereka, namun tetap saja Salwa masih agak gugup jika melihat hal seperti itu


Bhian kemudian mencoba untuk menenangkan Salwa. Dengan lebih menggeser duduknya supaya lebih berdekatan dengan dirinya.


Salwa yang menyadari hal itu kemudian tersenyum hangat.


Dia kembali menikmati ice cream nya lagi dengan lahap.


"Tenang aja" Gumam Abhian lirih sambil mengulas senyum hangat


Salwa lalu mengangguk membalas senyuman itu dengan anggukan mantap.


**


Segerombolan preman itu masih terlihat melingkar di pojok arena.


Mereka sama sekali terlihat tidak menghiraukan Salwa dan Abhian sama sekali.


Setelah selesai memakan ice cream nya, Salwa dan Bhian kemudian beranjak dari tempat itu menuju wahana rumah sakit hantu.


Mereka lalu mengantri untuk bisa mendapatkan tiket masuk.


"Aku tunggu di belakang kamu" Ucap Bhian dengan kedua tangan memegangi pundak Salwa.


"Iya bhi" Jawab Salwa singkat.


Antrian masih terlihat lenggang, disitu hanya ada beberapa orang yang sepertinya juga terlihat berpasangan seperti mereka.


Tiba giliran Salwa dan Bhian, penjaga wahana kemudian memberikan dua gelang yang masing masing di pasangkan di tangan mereka.


Setelah itu mereka berdua diarahkan ke pintu masuk wahana rumah sakit hantu ini.


"Bhi kamu gak takut kan?" Tanya Salwa begitu saja


Abhian menggeleng "Mana ada aku takut" Jawab Bhian terdengar tidak terima


Salwa hanya terkekeh saja menanggapi jawaban Bhian.


Mereka kemudian masuk dan seketika di hadang oleh wanita berbaju putih dengan rambut panjang. Bhian spontan berteriak dan memegangi tangan Salwa dengan erat.


Sedangkan Salwa hanya terkekeh "Katanya tadi gak takut" Ucap Salwa menggoda Bhian


Abhian kembali dengan mode normalnya. Sedangkan Salwa masih tetap tenang seperti biasa, dia bahkan sama sekali tidak terlihat ketakutan dengan adanya para hantu yang menjerit dan sesekali menampakan muka seramnya.

__ADS_1


"Kamu beneran gak takut?" Celetuk Bhian ketika melihat sosok pocong dari kejauhan yang sedang melompat lompat.


Salwa hanya menggeleng "Ngapain harus takut sih bhi" Jawab Salwa dengan enteng.


Abhian hanya berdecak heran. Tanganya masih memegangi pundak Salwa degan erat, keringatnya mulai mengucur deras.


Semakin masuk mereka semakin di hadang oleh banyak sekali macam-macam hantu yang sangat seram. Ada yang tanganya buntung, ada juga yang wajahnya penuh darah.


Bahkan ada juga yang tidak memiliki kaki dan tangan, juga beberapa pocong yang tidak memiliki bentuk wajah.


Abhian hanya pasrah saja. Melihat semuanya hanya membuat dia bergidik ngeri, jantungnya kembali berdetak kencang kala ada seorang anak tuyul melintas ke arah belakang.


"Astaga!!!" Pekik Bhian yang membuat Salwa semakin terkejut.


"Apa sih bhi, kamu bikin kaget aja" Keluh Salwa di sela sela mereka berjalan.


"Tadi i..i tu...tu ada tuyul Sal" Kata Abhian dengan nada gugup


"Kata kamu tadi gak takut" Celoteh Salwa dengan nada menggoda lagi


"Emang gak takut Sal" Jawab Bhian masih tidak terima


"Terus?" Tanya Salwa lagi


"Cuma kaget aja" Timpal Abhian yang lagi lagi di sambut dengan tawa Salwa yang kian meledak


Akhirnya dari kejauhan terlihat tulisan PINTU KELUAR dengan tanda panah di sampingnya.


Nafas Bhian terdengar sangat lega "Akhirnya.." Ucap Bhian bersyukur.


Salwa kemudian mempercepat langkahnya, Bhian ikut mempercepat langkahnya juga menyamai langkah Salwa karena takut tertinggal.


Setelah dekat dengan pintu keluar alangkah terkejutnya Abhian ketika melihat sebuah keranda yang dengan cepat melesat ke arah pojok wahana.


Abhian kembali memekikkan suaranya dengan berteriak ketakutan. Salwa yang melihat itu kemudian tertawa, bahkan setelah sampai di luar wahana Salwa masih belum berhenti tertawa.


"Aku bisa kok Sal kalau harus menghadapi banyak preman" Ucap Bhian yang membuat Salwa berhenti tertawa


Salwa memasang wajah penuh tanya "Terus" Jawab Salwa kembali bertanya "Apa hubunganya sama hantu" Sambungnya lagi


"Iya, aku bisa ngehadepin banyak preman. Asalkan gausah masuk rumah hantu lagi" Kata Bhian dengan raut wajah pasrah


Salwa lagi-lagi terkekeh. Dia lalu mengeluarkan satu botol air mineral dan menyodorkan botol itu kepada Bhian.


"Nih" Ucap Salwa menyodorkan botol itu.

__ADS_1


Abhian menerima air itu kemudian menenggaknya hingga habis.


"Haus amat tuan" Goda Salwa lagi.


Abhian lalu berdehem, sebentar kemudian dia memasang wajah cemberut yang membuat Salwa kembali tertawa terbahak-bahak.


Setelah insiden ketakutan ala Abhian.


Kini mereka sudah kembali berjalan menuju wahana bombomcar, sekilas mirip dengan permainan mobil mobilan tapi dari bahan karet.


Abhian kemudian sedikit bisa bernafas lega karena Salwa tidak lagi mengajaknya ke wahana yang aneh-aneh.


"Kita naik itu ya bhi" Ucap Salwa menunjuk pintu masuk dengan lampu kerlap kerlip diatasnya.


Bhian kemudian mengangguk. Salwa sedikit berlari dan mempercepat langkahnya menuju wahana tersebut, diikuti dengan langkah panjang Abhian.


**


Sedangkan di lain tempat ... Masih di lingkup pasar malam. Di bawah pohon mangga yang sempat digunakan segerombolan preman berkumpul tadi, terlihat ada seseorang yang sedang menunduk ketakutan.


Dia hanya diam, ketika seorang yanga ada di depanya itu memaki maki dirinya.


Gadis itu dijuluki sebagai bos di dalam gerombolan preman itu, tidak ada yang berani melawan seorang bos itu.


Bahkan gadis yang sekarang ada di depannya itu terlihat seperti anak kucing yang tidak diberi makan. Merengek pun tidak ada gunanya, makanya dia hanya diam dan tertunduk ketakutan.


"Mmmm.mmmm.maaf" Satu kata dengan nada gugup itu kembali lolos dari mulut mungil gadis malang itu.


Bos itu hanya tertawa terbahak-bahak menanggapinya.


"Gak penting" Jawabnya kemudian "Sekali salah ya tetep salah" Tambahnya lagi diiringi dengan senyuman yang menyeringai


"Aku bisa jelasin semuanya bianca" Jawab gadis malang lagi dengan hati-hati.


"Jelasin apa, jelasin maaf lo tadi" Ucap Bianca dengan nada meremehkan lagi.


Gadis itu kemudian duduk sambil mengatupkan kedua tangannya, dia terlihat memohon.


Entah seperti apa bengisnya Bianca hingga membuat gadis malang itu begitu ketakutan. Dia bahkan rela memohon-mohon seperti budak di hadapan Bianca, tak peduli lagi dengan banyaknya mata yang sedang melihat interaksi mereka berdua.


Bianca merasa acuh, dia hanya sesekali tertawa seperti sedang menikmati pemandangan yang ada di depannya itu.


Melihat gadis itu berjongkok dan memohon di hadapannya membuat Bianca semakin tersenyum puas.


Dia sesekali memutar kedua bola mata dan mengangkat satu alis seperti sedang menimang nimang keputusan besar.

__ADS_1


"Gue maafin, tapi ada satu syarat" Ucapnya seraya menghembuskan asap rokok ke arah gadis malang itu..


__ADS_2