Fake Friend In Silence

Fake Friend In Silence
GARA-GARA CCTV


__ADS_3

"Kamu mainan ponsel sampai gak tidur?" Tebak Salwa dengan tatapan penuh tanya.


Mendengar pertanyaan itu, Abhian menghembuskan nafasnya kasar.


Dia bingung harus menjawab pertanyaan Salwa yang serba mendadak itu.


Haruskah dia jujur saja, kalau memang tidak bisa tidur karena khawatir akan keadaan dirinya atau...?


Lama Abhian termenung.


Sedangkan Salwa masih tetap menunggu jawaban pacar kesayangannya itu.


"Halo, Bhiann..." Tegur Salwa mendapati Bhian yang sedang melamun.


Abhian lalu mengangguk samar "Ngap.. Ngapain aku main ponsel semaleman" Jawabnya Abhian terbata-bata


"Gabisa tidur Sal" Jawabnya singkat.


Namun semakin Abhian berkilah dan mencari-cari alasan, tentu saja Salwa semakin tau kalau Bhian sedang berbohong.


Salwa manggut-manggut. "Terus kamu ngapain Bhi kok sampai gak tidur" Tanya Salwa lagi mengintimidasi.


Abhian kemudian pasrah. Sepertinya bohong dengan Salwa bukanlah keputusan yang tepat. Bhian kemudian menunjuk ponsel yang ada di pangkuan Salwa.


Salwa lalu mengikuti pergerakan dagu itu, setelah itu dia melihat ponsel Abhian yang ada di pangkuannya.


"Katanya gak main ponsel?" Ucapnya penuh selidik


"Dari semalem aku mantau cctv depan rumah di ponsel itu" Kata Bhian akhirnya mulai mengaku


Salwa ternganga ketika mendengar jawaban Abhian. Bisa-bisanya pacarnya itu tidak tidur hanya karena cctv di depan rumahnya, Salwa kemudian menggelengkan kepalanya.


Dia tau sebenarnya apa yang membuat Abhian khawatir sampai rela begadang dengan ponselnya.


Kejadian di pasar malam kemarin.


Ya! Mungkin kejadian itu yang membuat Bhian jadi khawatir dengan keadaan Salwa. Dan benar saja firasat pacarnya itu tidak pernah meleset sedikitpun.


Meski tidak ada hal-hal serius yang terjadi kemarin malam. Namun dugaan Bhian selalu saja benar dan tidak pernah meleset.


Lihatlah, ada paperbag misterius yang datang lagi ke rumah Salwa. Sebenarnya siapa lagi yang usil dan rela melakukan hal bodoh seperti itu, benar-benar seperti anak kecil saja.


Kini Salwa jadi kepikiran lagi tentang kejadian teror yang dia alami semasa SMA dulu. Begitu sulit dia hidup sebatang kara kenapa masih ada hal yang membuatnya sulit lagi.


Di tambah dengan Abhian yang hidupnya ikut sulit ketika dia dekat dengan dirinya. Salwa semakin tidak habis fikir dengan jalan hidupnya, mungkinkah dia harus menjauhi Abhian?

__ADS_1


Namun rasanya itu tidak mungkin, Abhian sudah melakukan yang terbaik untuk menjaganya. Dia bahkan laki-laki yang baik yang pernah Salwa temui sepanjang hidupnya.


Tidak mungkin jika dia harus menghindari Abhian hanya karena masalah yang berulang kali datang di dalam hidupnya ini.


Sangat kelihatan egois kalau dia terpaksa menjauh hanya karena masalah sepele seperti ini.


Salwa sedikit bingung. Pikirannya berkelana jauh, sedangkan Abhian masih sibuk dengan paperbag misterius itu.


Di sela-sela Salwa termenung. Abhian kemudian berniat mengeluarkan isi dari paperbag itu, tanpa Salwa sadari.


Ternyata isi dari paperbag itu sama seperti paperbag sebelumnya. Sebuah kotak dengan badge SMA sama persis seperti paperbag sebelumnya, Bhian kemudian menunjukkan isi paperbag itu kepada Salwa.


"Sal?" Panggil Abhian sambil menenteng paperbag itu keatas


Salwa gelagapan ketika mendengar panggilan dari Abhian. Dia kemudian tersadar dari lamunannya, kedua matanya kemudian berkedip-kedip.


Salwa menoleh kepada Bhian. kedua matanya menyipit, memperhatikan paperbag yang dibawa oleh Bhian.


Setelah melihat isinya. Alangkah terkejutnya Salwa ketika melihat badge SMA garuda yang terpampang nyata.


Salwa kemudian berdiri. Terburu-buru masuk ke kamar dan mengambil paperbag yang kapan hari juga sempat dia temukan di depan rumahnya.


Salwa kemudian menyodorkan paperbag itu kepada Abhian.


Abhian sempat terkejut ketika melihat paperbag yang sama.


"Kamu tenang dulu Sal" Ucap Abhian menenangkan.


Salwa mengangguk saja. Meskipun kepalanya mengangguk namun hatinya masih merasa tidak tenang, dia sudah diam seribu bahasa dan tidak lagi bisa berkata-kata.


Salwa bingung. Dia sungguh bingung dengan hal-hal memuakkan seperti ini, dia ingin marah tetapi marah dengan siapa? Dia ingin menyerah.


Sebenarnya ada apa dengan hidupnya. Kenapa penuh hal misterius yang terjadi di dalam hidupnya, apa yang membuat orang-orang di luar sana melakukan semua tindakan ini.


Sungguh tidak lucu.


**


Bianca tersenyum penuh kemenangan ketika dia melihat gadis malang yang ada di depannya kenbali berjongkok sambil memohon mohon dengan dirinya.


Gadis malang itu terlihat mengeluarkan air matanya sambil mengatupkan kedua tanganya.


Gadis itu menatap Bianca dengan wajah yang memelas, sedangkan Bianca hanya tersenyum puas melihat gadis malang itu menangis dan memohon ampun kepada dirinya.


"Gue udah bilang" Cibiran itu nyaris terdengar seperti ancaman.

__ADS_1


"Cuma syarat gitu aja lo gak bisa penuhin" Katanya lagi menampilkan senyum smirk nya.


Gadis malang itu menundukkan kepalanya. Wajahnya semakin ketakutan kala melihat Bianca berdiri sambil membawa balok kayu, tanganya memainkan balok kayu itu.


Membalikkan balok kayu itu dengan senyuman mengerikan yang membuat siapa saja merasakan ngeri yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata manusia.


Bianca sudah seperti gadis psikopat, dia bahkan merasa bahagia ketika melihat seseorang tersiksa di hadapannya.


Bukan hanya itu, sebelum menyiksa mangsanya dia selalu menakut nakuti korban dengan hal-hal yang mengerikan.


Bagi dirinya, membuat korbanya merasa takut sudah menjadi tradisi baginya. Meskipun gadis malang fi depan Bianca ini sudah mengutarakan permintaan maaf ribuan kali, namun Bianca tidak pernah memberi ampun.


Sekali saja gadis ini berbuat salah pasti Bianca tidak akan segan-segan memberinya pelajaran yang membuat gadis malang itu menangis tanpa henti.


"Katanya kemarin lo mampu, hah?" Tanya Bianca.


Suaranya menggema memenuhi seisi ruangan. Dengan tangan bergetar, gadis malang itu tetap mengatupkan kedua tangannya memohon ampun


Dia bahkan berdiri dari duduknya dan menghampiri kaki Bianca. Bersujud di hadapan Bianca sambil berulang kali menyuarakan permintaan maafnya.


Namun sepertinya nihil, tidak ada kata ampun bagi seorang Bianca.


**


Kampus sudah ramai dengan mahasiswa dari berbagai fakultas.


Salwa dan Abhian berjalan dari arah parkiran menuju pelataran kampus.


Melewati lapangan basket yang masih lenggang tanpa seorang pun, biasanya lapangan basket baru akan terlihat ramai setelah hari menjelang sore.


Beberapa koridor fakultas bahasa juga masih terlihat sepi.


Ketika sudah sampai di depan gedung bahasa. Salwa tak sengaja bertemu dengan Sherly, dia kemudian tersenyum diikuti dengan anggukan sopan Sherly.


Sherly kemudian menghampirinya. Sambil melambaikan tangan, dia menyapa Salwa dengan senyuman simpul seperti biasa.


"Hai Salwa" Sapa Sherly berhenti di depan Salwa dengan senyum merekah.


Salwa membalas lambaian tangan itu "Halo kak?" Jawab Salwa dengan sopan.


"Heumhhhhh.. Mau tanya soal kerjasama kemarin. Jadi gimana?" Kata Sherly lagi bertanya


Salwa kemudian sedikit berfikir, dia masih belum paham dengan maksud Sherly. Namun sebentar kemudian Salwa baru ingat dengan kerjasama yang Sherly maksudkan.


"Oh iya kak" Jawab Salwa menepuk jidatnya sendiri.

__ADS_1


Sherly kemudian terkekeh "Banyak pikiran apa gimana Sal?" Ucap Sherly.


Salwa kemudian nyengir saja mendengar Sherly mengatakan hal itu.


__ADS_2