
"Halo?"
"Gimana?"
"Iya!"
"Hari ini belum gue abisin tu cewek!"
"Iya, udah ketakutan dia! Gue jamin!"
"Gue gedorin pintunya juga gak berani buka tuh!"
"Yah gue kan main aman aja, lo bilang gausah keburu kan?"
"Yaudah! Gue tutup! Bye!!!"
Tut.....tut tut tut tut......
"Kita balik sekarang" Katanya mengajak satu orang di sampingnya, orang itu menoleh lalu mengangguk seraya membuang putung rokok di tanganya.
Setelah mengakhiri telepon nya. Dua lelaki itu akhirnya pergi meninggalkan lingkungan kontrakan Salwa
⭐⭐
Lama sekali Salwa diam sampai pada akhirnya dia hanya menatap Abhian dan tersenyum simpul.
Abhian terusik, menatap Salawa intens!
Itu adalah senyuman yang sama saat Abhian menemukan dirinya di jalanan sepi malam itu, senyuman itu juga senyuman yang sama seperti dulu saat Abhian melihat dirinya tak berdaya dengan tubuh banyak luka.
Abhian pasti yakin, Itu bukan senyuman yang mengisyaratkan bahwa Salwa sedang baik baik saja.
"K-kamu kenapa disini bhi" Tanya Salwa terbata, lalu memutar tongkat bisbol dan menyembunyikan tongkat itu di belakang tubuhnya.
Abhian tidak langsung menjawab, dia semakin menilik wajah Salwa. Dan benar saja, dia melihat pipi Salwa yang sedikit basah, apakah dia menangis? yang benar saja.
"Lo nangis?" Tanpa menjawab pertanyaan barusan, Tanya Abhian penuh selidik.
Salwa bungkam! Abhian lalu menghembuskan nafas nya kasar tetap sabar menghadapi tingkah gadis di depanya ini.
"Sal, ada apa!" Tanya Abhian berusaha sabar "Kenapa lo diem!" Lanjutnya menahan gusar di wajahnya.
Salwa masih tersenyum, dia lalu menggeleng pelan dan menunduk tak berani menatap Abhian yang terus bertanya kepadanya. Setalah itu pundaknya terlihat bergetar, dia menangis!
__ADS_1
Abhian bingung melihat Salwa yang menunduk, dengan pundak bergetar itu, apakah Salwa menangis?
Dia menggaruk tengkuknya sendiri bingung harus berbuat apa, Abhian hanya bertanya ada apa dan Salwa menangis, dimana sebenarnya letak kesalahannya hingga membuat Salwa lagi lagi menangis. Beberapa saat kemudian Abhian melangkah mendekati Salwa, dengan ragu dia lalu memeluknya.
Salwa terlihat menurut, setelah berada di dekapan Abhian, pundak itu semakin bergetar hebat, bahkan juga terdengar suara isakan.
Dengan hati hati Abhian mengusap pundak Salwa berusaha menenangkan.
"Nangis aja" Katanya menenangkan
"Kalo lo belum mau cerita, gakpapa!" Lanjutnya masih mengusap pundak Salwa dengan lembut.
Hampir setengah jam Salwa berada di dekapan Abhian, menumpahkan semua air mata nya tanpa mengeluarkan suara. Hanya terisak, Abhian pun juga masih setia mengusap pundak itu dan menenangkan Salwa dengan sabar.
"Lo masih gak mau cerita ke gue?" Ucapnya dengan pelan, sembari menatap Salwa yang duduk di depanya masih dengan kepala menunduk.
Abhian masih dengan sabar menunggu jawaban Salwa.
Salwa lalu mendongak, Abhian bisa melihat mata Salwa yang terlihat sembab di balik kacamata bulat itu bahkan hidung kecilnya juga berubah menjadi merah.
Lagi lagi Abhian bingung, dia bingung harus melakukan apa, tapi tidak betah juga melihat Salwa yang seperti itu, lama mereka hanya saling tatap, sebentar kemudian Abhian melihat Salwa menghembuskan nafasnya pelan, sepertinya Salwa sudah sedikit tenang, Abhian berharap semoga saja dia mau menceritakan apa yang terjadi.
"Kamu tadi liat mereka bhi?"
Alih alih ingin bercerita Salwa malah mengucapkan sebuah pertanyaan pada Abhian, tentu saja Abhian bingung dengan pertanyaan itu. Tapi pada akhirnya segera Abhian tersadar juga siapa yang dimaksud "mereka" dari pertanyaan Salwa barusan.
Mendengar jawaban itu Salwa menarik nafas nya, wajahnya berubah sendu hanya karena mendengar jawaban Abhian barusan.
"Siapa mereka?" Tanya Abhian lagi dengan nada sedikit melunak.
Salwa menatap Abhian dengan raut wajah bingung, sebentar kemudian dia lalu sadar dengan pertanyaan Abhian.
"Aku juga gaktau bhi mereka siapa, tadi setelah kamu pulang setelah nganterin aku, ada yang ketuk pintu kontrakan aku" Kata Salwa mulai bercerita.
"Aku ngerasa aneh aja, aku pikir itu kamu yang balik lagi, terus aku cek dari jendela siapa yang dateng, tapi ternyata itu bukan kamu" Tambahnya dengan raut wajah sendu.
Abhian masih mendengarkan cerita Salwa, wajahnya terlihat serius mendengarkan bait demi bait kata yang di ucapkan Salwa.
"Dan aku gak berani bukain pintu karena memang aku gak kenal sama mereka. Aku juga merasa gak punya urusan sama mereka" Kata Salwa
"Dan yang lebih buat aku terkejut, mereka tuh tau alamat tempat kerja aku bhi. Bagiku itu aneh! selain aku ga terlalu banyak temen di sekolah, orang coffe shop juga ga ada yang tau alamat kontrakan aku, paling cuma mbak Erin. Makanya aku tetep gak bukain pintu ke mereka, aku takut. akhirnya aku tungguin sampe mereka pergi dan ketiduran di bawah sini" Kata Salwa menunjuk bawah jendela
Abhian masih manatap Salwa intens, rahangnya mulai mengeras! jadi dua orang misterius itu tadi juga datang setelah Abhian mengantarkan Salwa pulang? Tapi kenapa Abhian tidak tau? Dan lagi seharusnya mereka juga melewati jalan yang sama dengan Abhian kan, apa orang itu datang dari arah berlawanan denganya? Dadanya sudah bergemuruh, ingin rasanya dia menghajar kedua orang yang sudah membuat Salwa menangis.
__ADS_1
Masih berusaha sabar dia lalu menarik nafas dan mulai mendengarkan cerita Salwa.
"Aku kebangun pukul setengah dua pagi dan pindah ke kamar buat lanjutin tidur, tapi lagi lagi ketuk an pintu itu terdengar. Aku pikir mereka gak akan balik lagi setelah aku denger kalau mereka mau ngecek tempat kerja aku. Tapi ternyata dugaan aku salah, kamu bilang tadi kamu ngeliat mereka kan? Jadi mereka tadi balik lagi, jadi ketuk an pintu yang pertama tadi beneran mereka kan?" Jelas Salwa dengan nada sedikit bertanya pada Abhian. Abhian sedikit terusik dengan Rmraut wajah ketakutan yang menyelimuti wajah kecil Salwa.
Abhian hanya mengangguk. Salwa lalu meringis melihat anggukan Abhian.
"Terus gimana ceritanya mereka pergi, dan ganti kamu yang ketuk pintu?" Tanya Salwa, dengan raut wajah kembali normal.
Abhian terkesiap mendengar pertanyaan Salwa, Bukan karena apa apa, tapi dia tidak mau Salwa berprasangka yang tidak tidak tentang dirinya yang tepat berada disini malam ini, meskipun Salwa tidak berpikiran seperti apa yang Abhian takutkan, tapi sudah dua kali Abhian ada di kejadian dimana Salwa mengalami hal yang menakutkan seperti ini.
Pertama saat kecopetan waktu itu dan yang kedua kalinya adalah sekarang di kontrakanya sendiri.
Abhian lalu menegakkan tubuhnya dan berusaha menjelaskan dengan raut wajah serius dan berusaha jujur dengan apa yang terjadi padanya.
"Gue tadi nekat balik kesini buat ambil ini, jatoh soalnya!" Jawabnya sambil mengeluarkan dompet di sakunya dan meletakkan benda itu di atas meja, Salwa melihat dompet itu sekilas lalu kembali menatap Abhian.
"Lo boleh percaya atau nggak tapi emang gue tadi balik lagi beneran buat nyari ini, dan pas gue udah nemuin tuh dompet yang beneran jatoh di samping pekarangan kontrakan lo, gue gak sengaja liat teras rumah lo dan ngeliat dua orang tadi ngetuk ngetuk pintu lo" Jawabnya
"Sebenarnya gue mau samperin tuh orang, tapi gak jadi. Jadi gue cuma sembunyi beberapa meter dari mereka dan ngawasi mereka dari kejauhan" Lanjutnya dengan muka masam, menyesali keputusanya sendiri.
"Aku percaya kok sama kamu" Jawab Salwa buru buru, saat tau maksud dari penjelasan Abhian. Salwa memang curiga pada seseorang di dekatnya tapi bukan pada Abhian tentunya.
Abhian mengangguk saja, dia lalu terlihat menerawang dan kembali bersuara
"Gue tadi juga denger beberapa percakapan mereka Sal" Lanjutnya dengan nada serius "Sepertinya mereka punya niat gak baik sama lo" Lanjutnya masih dengan nada yang serius
"Aku tau bhi" Jawabnya, yang mengejutkan Abhian.
"Sebenarnya waktu aku kecopetan malam itu, ada yang sedikit aneh juga, aku udah cerita ke Vina dan berusaha melupakan keanehan itu" Lanjutnya dengan wajah kembali menciut
Akhirnya Salwa menceritakan semuanya pada Abhian, tepat pukul 4 subuh Abhian pamit untuk pulang.
Nantinya Abhian berniat akan memasang kamera cctv di setiap sudut rumah Salwa pun juga dengan jalanan yang mengarah ke kontrakan Salwa.
Rencananya dia juga berniat akan menjemputnya untuk berangkat sekolah bersama, Salwa ingin menolak tapi Abhian menegaskan tidak ada penolakan dari kemauanya itu, bagi Abhian musuh Salwa saat ini sepertinya seseorang yang benar benar menaruh benci pada Salwa, Abhian memang belum tau apa penyebab kebencian orang itu, pun juga Abhian tidak yakin bahwa Salwa ada salah dengan orang itu, tapi yang jelas ini sangat berbahaya untuk keselamatan Salwa.
Sekarang fokus Abhian hanyalah melindungi Salwa, menjaga gadis itu semampu yang dia bisa!
Juga menemukan siapa orang di balik semua keanehan yang menimpa Salwa akhir akhir ini.
...H A P P Y R E A D I N G🤩...
...Jangan lupa like, vote, coment⚠️...
__ADS_1
Senin, 01 Februari 2021
My house 📍